Wamenlu Said: Ketahanan Pengelolaan Air Jadi Pilar Perdamaian dan Konstruksi Global

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: AR Purba
Kamis, 28 Mei 2026 | 19:25 WIB
Wamenlu Said: Ketahanan Pengelolaan Air Jadi Pilar Perdamaian dan Konstruksi Global
Wamenlu Said: Ketahanan Air Jadi Pilar Perdamaian dan Konstruksi Global (Kemenlu RI)

astakom.com, Jakarta – Menghadapi tantangan global yang kian rumit, air memegang peran krusial sebagai penopang kehidupan, stabilitas perdamaian, serta motor utama kemajuan dunia.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir

Saat Konferensi Internasional Tingkat Tinggi ke-4 tentang High-Level International Conference on the International Decade for Action “Water for Sustainable Development" 2018–2028 (DWC2026) yang berlangsung di Dushanbe, Tajikistan, pada 25–28 Mei 2026.

Akses air bersih

Wamenlu Tata menggarisbawahi kalau ketahanan air kini menjadi ujian krusial bagi pembangunan berkelanjutan. Hal ini dipicu oleh belum meratanya akses global terhadap air bersih dan sanitasi, yang diperparah oleh melonjaknya kebutuhan air dari sektor industri digital serta pengolahan mineral kritis.

"Air kini menjadi sumber daya strategis yang juga menopang ekonomi digital global. Jika sebelumnya konflik perebutan sumber daya berfokus pada minyak dan lahan, ke depan kompetisi global diperkirakan akan semakin berkaitan dengan penguasaan dan akses terhadap air,” ucap Wamenlu Tata dikutip oleh astakom pada Kamis, (28/5/2026).

Air kini jadi rebutan baru

Wamenlu Tata kemudian menambahkan kalau permasalahan air tidak boleh dilihat dari sudut pandang yang sempit.

Isu ini merupakan tantangan lintas sektor yang erat kaitannya dengan keamanan, keadilan sosial, serta keberlanjutan sistem tata kelola di tingkat internasional.

Guna menjawab tantangan tata kelola air global tersebut, ia menilai diperlukannya sistem multilateral yang tidak hanya responsif tetapi juga mampu menjamin keadilan bagi semua negara.

Misi Global: UN Water Conference 2026

Dushanbe Water Conference ini merupakan agenda yang diinisiasi oleh Pemerintah Tajikistan lewat kolaborasi erat bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pertemuan DWC2026 ini diselenggarakan untuk menggalang aksi bersama dalam mendukung realisasi komitmen Water Action Agenda, sekaligus mempercepat pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Selain itu, pertemuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan menuju UN Water Conference 2026, yang dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2–4 Desember mendatang.

Presiden Republik Tajikistan, Emomali Rahmon, membuka secara resmi pertemuan DWC2026. Dalam pidato pembukanya, ia menggarisbawahi peliknya krisis air global serta beragam hambatan yang dihadapi dunia dalam memenuhi target SDG 6 terkait akses air bersih dan sanitasi.

Sebanyak 110 negara dan 75 organisasi internasional mengirimkan perwakilannya ke DWC2026, termasuk di antaranya Utusan Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno L.P. Marsudi.

​Di sela-sela agenda DWC2026, Delegasi Republik Indonesia juga turut menghadiri pertemuan persiapan regional Asia-Pasifik untuk UNWC2026 yang diinisiasi oleh UNESCAP pada Senin, 25 Mei 2026.

Pertemuan tersebut bertujuan menyatukan pandangan regional dalam mempercepat pencapaian target SDG 6, sekaligus memperkokoh jalinan kemitraan di kawasan Asia-Pasifik menjelang bergulirnya UNWC2026.

Estafet kepemimpinan pengelolaan air di Indonesia

Indonesia terus mempertegas kiprah kepemimpinannya di panggung global terkait isu air. Langkah ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan tanah air saat didapuk menjadi tuan rumah Forum Air Dunia (World Water Forum) ke-10 di Nusa Dua, Bali, pada Mei 2024 lalu.

Keikutsertaan Indonesia dalam ajang DWC 2026 ini menjadi bukti nyata penegasan kalau isu air bersih dan sanitasi merupakan pilar tak terpisahkan dari agenda pembangunan strategis global yang lebih luas.

Langkah ini dinilai sejalan dengan visi prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan tata kelola sumber daya air sebagai pilar utama dalam mewujudkan kemandirian serta ketahanan pangan nasional.(nAD/aRsp)

Gen Z Takeaway

Perang perebutan sumber daya alam ke depan bukan lagi soal minyak atau lahan, melainkan air bersih. Di forum DWC2026, Wamenlu RI ngasih peringatan kalau industri digital dan pengolahan mineral makin rakus konsumsi air, bikin krisis ini jadi isu keadilan sosial yang serius. Buat Indonesia, pembenahan tata kelola air ini bukan cuma biar keren di panggung diplomasi global pasca-WWF Bali, tapi juga jadi kunci utama buat mengamankan kemandirian pangan dalam negeri.

Wamenlu RI Ketahanan Air Air Bersih Tajikistan

Infografis

Terkini