Gen Z Sudah Tahu? Momen Plot twist Kisah 'Qurban' Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail
astakom.com, Jakarta- Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan sebuah ultimate goal tentang bagaimana loyalitas seorang yang diciptakan (makhluk) diuji langsung oleh Sang Pencipta (Kholik; Allah Swt)
Dalam nalar logika manusia biasa manapun, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS akan sulit diterima akal sehat. Namun jangan pernah menyamakan dua 'sosok hebat' tadi dengan kita yang manusia biasa.
Mereka adalah dua sosok manusia terpilih, yang Allah angkat derajatnya menjadi Nabi. Sehingga kadar ujiannya tidak akan sama dengan kita manusia biasa.
Peristiwa ini bermula saat Nabi Ibrahim AS menerima wahyu melalui mimpi yang sangat spesifik, yakni perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail.
Bagi banyak orang, perintah ini mungkin terdengar sangat mind-blowing, musykil bahkan berat secara logika kemanusiaan; Ayah menyembelih anak?.
Al Qur'an Surah As-Saffat (37) ayat 101-105
Namun, di sinilah letak distingsi kualitas iman seorang yang di takdir menjadi NAbi dan Rosul, Nabi Ibrahim diuji.
Bukan sekadar osok seorang ayah, disisi lain Ibrahim AS juga manusia terpilih dengan level ujian yang tidak biasa. Level ujian yang juga banyak dialami para manusia terpilih lainya. Boleh jadi manusia itu adalah seorang Rosul, nabi, wali. Alim atau bahkan seorang pemimpin negara.
Singkatnya, tanpa ada rasa denial sedikit pun terhadap perintah Ilahi tadi, Nabi Ibrahim AS pun lantas meminta izin kepada sang anak Nabi Ismail AS untuk menjalankan 'ujian perintah' Allah swt tadi.
Dialog yang terjadi antara ayah dan anak ini diabadikan dalam Al-Qur'an, menunjukkan betapa hebatnya komunikasi spiritual mereka. Nabi Ismail, dengan kedewasaan yang melampaui usianya, menerima perintah tersebut dengan penuh ketenangan.
Bagi kalangan Muslim, kisah dialog Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail termaktub atau diabadikan dalam Al Qur'an Surah As-Saffat (37) ayat 101-105.
Sikap chill namun taat yang ditunjukkan Ismail adalah manifestasi dari penyerahan diri total atau tawakkul yang sesungguhnya atas kehendak sang pencipta.
Hikmah plot twist: Nabi Ismail digantikan Domba sungguhan
Seketika, saat prosesi penyembelihan hendak dilaksanakan di Mina, Allah SWT kemudian menggantikan posisi Nabi Ismail dengan seekor domba besar yang sehat untuk selanjutnya di sembelih oleh mereka berua dNabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS..
Kejadian ini menjadi titik balik sejarah sekaligus ritual ibadah disetiap umat Islam masuk fase musim haji hingga puncaknya perayaan hari raya Idul Adha.
Peristiwa qurban dengan latar sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tadi seketika menjadi momen plot twist terbaik dalam sejarah peradaban manusia. Menegas menegaskan bahwa esensi dari kurban bukanlah darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan (kepatuhan), keikhlasan, kesabaran yang terpancar dari pelakunya.
Kurban jadi ibadah yang dianjurkan
Dalam pandangan ulama Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja), ibadah kurban merupakan sunah muakad yang sangat dianjurkan terutama bagi mereka yang mampu secara finansial (memiliki cukup uang untuk berkurban)
Anjuran berkurban bagi kalangan umat Islam dapat ditemui dalam Aqur'an Surah Al Haj Ayat 37 dan terdapat juga anjuran serta keutamaan berkurban pada beberapa hadis Rasulullan SAW dikalangan para perawi diantaranya Imam Ahmad dan Ibnu Majah dan Imam Tirmidzi.
So, Sejarah Iduladha mengajarkan kita tentang arti penting sebuah prioritas. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya, bahkan di atas cinta kepada keluarga sekalipun. Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk tetap *on track* dalam menjalankan prinsip-prinsib kebenaran meski harus mengorbankan kenyamanan pribadi.
*Selamat Berkurban, Happy Eid Al-Adha!
Gen Z Takeaway
Salute! Ternyata duladha bukan cuma soal nyembelih hewan. Ini tentang bukti loyalitas, trust level maksimum ke sang pencipta Allah Swt Tuhan pencipta semesta. Kita memang seru belajar dari kisah 2 Nabi Bapak-anak ini (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail), karena kadang kita juga sering ngadepin tantangan rela mengorbankan hal paling dicintai demi prinsip dan iman.










