OTW Juli 2026: Pabrik Baterai EV Rp17 Triliun di Karawang Made in Indonesia Bidik Pasar Global!
astakom.com, Jakarta - Indonesia makin serius ngurus “harta karun” nikel. Nggak cuma diekspor mentah, sekarang hasil tambangnya mulai diolah jadi produk berteknologi tinggi di dalam negeri.
Salah satu langkah besarnya datang dari pabrik baterai listrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, yang sebentar lagi siap jalan.
Pabrik hasil kolaborasi Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) itu ditargetkan masuk tahap commercial operation date (COD) pada Juli 2026.
Kehadiran fasilitas ini jadi sinyal kalau Indonesia mulai naik kelas, dari sekadar pemasok bahan mentah jadi pemain industri baterai kendaraan listrik global.
Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation, Aditya Farhan Arif, bilang progres pembangunan pabriknya sudah hampir rampung.
“Saat ini, persiapannya sudah 90 persen. Pabrik ini ini tidak hanya bicara soal pengembangan baterai, tetapi juga kita kembangkan industrinya, ekosistemnya, kapabilitasnya dan tentu saja teknologinya,” kata Aditya dalam bincang Mind Club di Jakarta, dikutip oleh astakom.com pada Senin (25/05/2026).
Strategi hilirisasi tambang
Bukan cuma soal bikin baterai mobil listrik, proyek ini juga dianggap jadi bagian penting dari strategi besar hilirisasi tambang Indonesia. Pemerintah lagi ngebut supaya kekayaan mineral seperti nikel nggak terus ekspor ke luar negeri dalam bentuk mentahan, tapi bisa diolah sendiri sampai jadi produk bernilai lebih tinggi.
Apalagi tren kendaraan listrik alias EV lagi ngegas secara global. Momentum itu dilihat IBC sebagai peluang buat Indonesia jadi pemain penting di rantai pasok baterai dunia, bukan sekadar penonton.
Pabrik CATIB tahap awal punya kapasitas produksi 6,9 Gigawatt Hour (GWh). Nantinya bakal ditambah lagi 8,1 GWh di fase berikutnya. Produk yang dihasilkan juga nggak main-main, mulai dari baterai untuk Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), sampai Battery Energy Storage System (BESS) buat penyimpanan energi listrik.
Total investasi proyek
Total investasi proyek ini tembus USD 1,1 miliar atau setara dengan Rp 17 triliun.
“Untuk tahap awal paling tidak kita sudah menyerap sekitar Rp4 triliun investasinya,” kata Aditya.
Jenis baterai yang diproduksi di Karawang nanti terdiri dari manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Dua tipe ini jadi “material” utama kendaraan listrik yang dipakai banyak produsen otomotif atau mobil listrik.
IBC juga nggak mau cuma jadi jago kandang atau cuma main di domestik. Pasar ekspor sudah mulai diincer, terutama buat negara-negara yang industri kendaraan listriknya lagi tumbuh agresif.
“Selain pasar lokal, kami juga membidik ekspor untuk jenis baterai NMC ke Jerman. Di sana pabrikan banyak menggunakannya. Sementara untuk storage kita incar Jepang,” katanya.
Investasi SDM
Menariknya lagi, proyek ini juga dibarengi investasi sumber daya manusia (SDM). Jadi bukan cuma tambangnya yang dimaksimalkan, tapi juga kemampuan teknologinya. IBC bahkan mengirim enam ratus tenaga kerja Indonesia ke China buat belajar langsung soal pengembangan baterai.
“Kita ingin mencetak engineer yang fokus pada pengembangan baterai. Selain itu kami juga bekerja sama dengan kampus-kampus di sini,” katanya.
Langkah ini dinilai penting supaya Indonesia nggak terus bergantung sama teknologi luar. Jadi ke depannya, pengelolaan kekayaan alam nasional nggak cuma menghasilkan cuan dari bahan baku, tapi juga membuka jalan buat transfer teknologi, penciptaan engineer lokal, sampai lahirnya industri masa depan di dalam negeri.
Industri baterai listrik sudah mulai dari tahun lalu
Tahun lalu, tepatnya pada Minggu (29/6/2025) Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Groundbreaking Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan kepercayaannya terhadap groundbreaking kali ini menjadi suatu sejarah yang memiliki nilai strategis.
Kepala Negara meyakini bahwa kunci dari pembangunan suatu bangsa berasal dari kemampuan untuk mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat. Presiden juga menyoroti groundbreaking ini sebagai suatu kerja sama kolosal antarnegara yang ditandai kerja sama dengan Tiongkok.
"Kita bermitra dengan kawan-kawan kita, saudara-saudara kita dari Tiongkok. Kita bisa bekerja sama dengan program yang menurut saya ini termasuk, bisa dikatakan, kolosal. Bisa dikatakan terobosan luar biasa. Dari sini kita bisa menghasilkan energi terbarukan dan ramah lingkungan yang dicita-citakan seluruh dunia," kata Presiden Prabowo dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM pada Senin (25/5/2026). (Shnty/aRsp/aNs)
Gen Z Takeaway
Indonesia lagi leveling up dari negara eksportir nikel mentah jadi pemain baterai mobil listrik global. Pabrik baterai CATIB di Karawang siap operasi Juli 2026 buat supply EV sampai ekspor ke Jerman dan Jepang. Bukan cuma cuan, proyek ini juga nge-push transfer teknologi dan lahirin engineer lokal biar RI nggak bergantung sama asing.












