FAO Warning soal Krisis Pangan Global, Indonesia Siap Jadi Pemasok Dunia!

Editor: Anri Syaiful
Minggu, 24 Mei 2026 | 14:33 WIB
FAO Warning soal Krisis Pangan Global, Indonesia Siap Jadi Pemasok Dunia!
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau gudang sewa Perum Bulog di kawasan Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/05/2026). (Dok. Kementan)

astakom.com, Jakarta – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) baru aja ngasih peringatan keras soal risiko krisis pangan global. Terutama, akibat ketegangan geopolitik dan kacaunya rantai pasok dunia.

Namun, di tengah situasi yang bikin ketar-ketir ini, posisi ketahanan pangan Indonesia justru makin menyala. RI malah pede banget dan siap ambil peran sebagai pemasok pangan buat dunia.

Efek domino Selat Hormuz yang bikin ketar-ketir

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, lewat podcast FAO pada Senin silam, 18 Mei 2026, ngasih tahu kalau potensi penutupan Selat Hormuz itu bukan masalah sepele atau gangguan sementara doang.

Hal ini bisa memicu guncangan sistemik yang parah buat sektor pangan dan pertanian global. Makanya, dia minta tiap negara gercep atau gerak cepat memperkuat kapasitas pangan mereka biar nggak gampang tumbang.

"Saatnya telah tiba untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas pangan negara-negara, bagaimana meningkatkan ketahanan mereka terhadap hambatan ini," ujar Maximo Torero, dilansir laman resmi Kementerian Pertanian, disitat astakom.com pada Minggu (24/05/2026).

Mentan Amran: santai, pangan kita aman sentosa!

Merespons hal itu, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan kalau pemerintah udah curi start mengantisipasi gejolak global. Strateginya lewat genjot produksi, naikin cadangan pangan, dan menjaga stabilitas pasokan nasional.

Intinya, skenario terburuk dari faktor alam sampai politik global udah diantisipasi dengan matang.

"Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insyaAllah tetap aman,” tegas Mentan Amran.

Spill data: produksi beras kita lagi melimpah ruah

Mentan Amran juga menepis rasa khawatir publik dengan nge-spill data kondisi pangan nasional yang emang lagi solid banget.

Faktanya, jumlah produksi beras kita saat ini posisinya jauh di atas angka kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia tiap bulannya. Jadi, isu kelangkaan beras jelas nggak valid buat saat ini.

"Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, masyarakat tidak perlu risau," ujar Mentan Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dari amankan stok lokal menuju go global

Belajar dari masa lalu, ketahanan pangan itu efeknya krusial banget buat stabilitas ekonomi negara. Mentan Amran menilai, karena urusan perut di dalam negeri udah aman dan stoknya melimpah, ini saatnya Indonesia buat upgrade level. Kita harus berani unjuk gigi di kancah internasional buat bantuin negara lain.

"Kalau kebutuhan dalam negeri aman dan stok kuat, Indonesia harus berani mengambil peran lebih besar. Kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga harus siap membantu negara sahabat yang membutuhkan," ucap Mentan.

Rekor baru: cadangan beras terbanyak sepanjang sejarah!

Sisi positif ini juga diperkuat oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam rapat kerja bareng Komisi IV DPR RI pada Selasa silam, 19 Mei 2026. Dia memaparkan kalau per 18 Mei 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog sukses menyentuh angka 5,37 juta ton.

Angka fantastis ini jadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia modern.

"Stok kita melimpah, sudah 5,3 juta ton. Potensi produksi dan serapan ke depan juga masih sangat besar,” ujar Wamentan Sudaryono.

Ekspor beras dan aksi kemanusiaan yang berkelas

Gara-gara stok yang melimpah ini, Indonesia mulai melebarkan sayap ke pasar internasional. Kita udah mengekspor 2.280 ton beras premium senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi buat konsumsi jemaah haji, plus ngirim bantuan kemanusiaan 10 ribu ton beras ke Palestina. Target ke depan, kita pengen beras lokal juga dikonsumsi sama jemaah dari negara lain.

"Kita sudah kirim 10 ribu ton beras ke Palestina, ke Arab Saudi sekitar 2.000 ton. Ke depan, kita berharap bukan hanya jemaah Indonesia saat haji dan umrah yang mengonsumsi beras RI, tetapi juga jemaah negara lain," ujarnya.

Plot twist: dulu impor, sekarang mandiri dan swasembada

Kondisi sekarang jelas berbanding terbalik alias plot twist dari masa krisis 1997–1998, di mana stok beras kita saat itu cuma 893 ribu ton dan harus bergantung pada impor.

Sepanjang tahun 2025 kemarin, Indonesia sama sekali nggak impor beras medium dan mencatat surplus produksi 3,5 juta ton. Kerennya lagi, 8 dari 11 komoditas strategis—-termasuk beras dan jagung pakan-—diproyeksikan aman tanpa impor di tahun 2026. Ini berkat reformasi pupuk subsidi.

Pemerintah bahkan mulai menerapkan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun. (aNs)

Gen Z Takeaway

Gila sih, di saat FAO lagi ketar-ketir ngingetin risiko krisis pangan global akibat konflik geopolitik, ketahanan pangan Indonesia malah lagi menyala! Berkat strategi gercep pemerintah melalui Kementan dan reformasi pupuk, stok beras nasional sekarang sukses bikin rekor tertinggi sepanjang sejarah sampai surplus 3,5 juta ton dan zero impor beras medium. Nggak cuma aman sentosa buat urusan perut dalam negeri, RI yang dulu hobi impor sekarang malah plot twist siap go global jadi pemasok dunia, mulai dari ekspor beras premium ke Arab Saudi sampai kirim bantuan kemanusiaan ke Palestina. Class banget! 

kementan FAO Ketahanan Pangan Nasional Krisis Pangan Global Ekspor Beras Swasembada Beras swasembada pangan

Infografis

Terkini