Spill Rencana Transformasi 'Perapian' Rumah Tangga: Dari Tungku Kayu Bakar hingga Uji Coba Tabung CNG

Pewarta: Anri Syaiful
Editor: AR Purba
Minggu, 24 Mei 2026 | 21:08 WIB
Spill Rencana Transformasi 'Perapian' Rumah Tangga: Dari Tungku Kayu Bakar hingga Uji Coba Tabung CNG
Dapur masyarakat Indonesia bukan sekadar tempat memasak, melainkan cerminan dari dinamika politik energi nasional selama lebih dari tiga dekade. [Ilustrasi Gemini AI]

astakom.com, Jakarta – Dapur warga Indonesia itu bukan cuma tempat masak, tapi udah jadi saksi bisu transformasi energi nasional yang dinamis abis. 

Selama lebih dari tiga dekade, negara kita udah bolak-balik ganti kebijakan energi ‘perapian’  demi dapur yang ngebul terus.

Perjalanan panjang ini dimulai dari era minyak tanah yang bikin anggaran negara atau APBN boncos, suksesnya konversi ke LPG, drama kompor induksi yang bikin netizen shock, sampai tren terbaru penjajakan pakai Jaringan Gas (Jargas) dan uji coba tabung CNG.

So, redaksi astakom.com dalam artikel ini akan menyajikan kilas balik atau transformasi penggunaan kompor dan energi di dapur masyarakat Indonesia dari masa ke masa yang dirangkum dari berbagai sumber di internet pada Minggu (24/05/2026).

1. Jadul: Tungku tradisional vs minyak tanah

Sebelum Indonesia merdeka sampai era Orde Lama (Orla), masyarakat kita masih setia sama biomassa kayak kayu bakar dan arang. Meski vibes-nya tradisional dan masih dipakai di sebagian desa, cara ini punya jejak karbon tinggi, bikin batuk-batuk karena asapnya, dan memicu penggundulan hutan. Tapi pelan-pelan, warga kota mulai beralih ke minyak tanah di era Presiden Sukarno.

2. Zaman kompor sumbu: Era subsidi yang bikin APBN boncos

Pas masuk era Orde Baru (Orba) di bawah Presiden Soeharto sampai awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), minyak tanah langsung jadi raja di dapur rakyat. Kompor sumbu itu pokoknya barang wajib yang fardu ain ada di setiap rumah. Sayangnya, pas masuk tahun 2000-an, kebijakan ini malah jadi bom waktu karena subsidinya beneran menguras APBN dan rawan diselewengkan industri.

Menteri ESDM era SBY, Purnomo Yusgiantoro, waktu itu sempat bilang: "Subsidi minyak tanah sudah tidak sehat lagi bagi APBN kita. Kita harus berani melakukan perubahan struktural demi efisiensi energi nasional."

3. Plot twist LPG 3 Kg: Megakonversi paling sukses dunia

Tahun 2007, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) bikin gebrakan plot twist dengan meluncurkan program Megakonversi Minyak Tanah ke LPG 3 Kg. Awalnya masyarakat sempat panic buying dan takut banget sama isu tabung melon yang katanya suka meledak. Tapi berkat bagi-bagi kompor gratis dan sosialisasi yang masif, program ini malah sukses besar di tingkat dunia karena berhasil menghemat anggaran negara sampai puluhan triliun rupiah.

Wapres JK waktu itu sempat mengenang momen krusial tersebut: "Memang awalnya ditolak, masyarakat takut meledak. Tapi kalau tidak kita paksa, negara ini jebol membiayai subsidi minyak tanah yang terus diimpor. Ini urusan keberanian mengeksekusi kebijakan."

4. Kompor induksi: Ambisi listrik yang kena jegal netizen

Pas masuk periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi), muncul tantangan baru karena impor LPG makin membengkak, padahal PLN lagi kelebihan pasokan listrik. Akhirnya tahun 2022, pemerintah sempat gaspol uji coba konversi ke kompor induksi listrik. Sayangnya, rencana ini langsung kena penolakan keras dari warga kelas menengah ke bawah yang takut tagihan listriknya bakal melonjak drastis.

Melihat situasi yang kurang kondusif, saat itu Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, langsung mengambil langkah mundur pada September 2022: "PLN memutuskan program pengalihan ke kompor listrik dibatalkan. Langkah ini dilakukan guna menjaga kenyamanan masyarakat di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi."

5. Move on ke Jargas: Solusi aman tanpa ribet

Biar nggak ketergantungan impor LPG tapi juga nggak bikin daya listrik jebol, pemerintah langsung move on melirik gas bumi domestik. Lewat Compressed Natural Gas (CNG) yang dialirkan via Jaringan Gas (Jargas), masyarakat diajak buat pakai gas yang langsung mengalir dari pipa rumah. Program sat set ini dinilai jauh lebih aman, murah, dan pasokannya konstan tanpa perlu drama angkat-angkat tabung kosong lagi.

Arifin Tasrif selaku Menteri ESDM periode 2019-2024 sempat menegaskan pentingnya langkah ini: "Kita punya gas bumi yang melimpah di dalam negeri, kenapa kita harus terus impor LPG? Pembangunan Jargas dan distribusi CNG untuk rumah tangga adalah kunci kemandirian energi dan penyelamat devisa negara."

6. Uji coba CNG: Misi swasembada energi biar nggak FOMO impor

Sekarang di era Presiden Prabowo Subianto, PR terbesar sektor energi adalah menyetop ketergantungan impor LPG yang udah nyentuh angka 75% dari kebutuhan nasional. Demi menyelamatkan devisa dan mewujudkan swasembada energi, pemerintah langsung gerak cepat memperluas proyek Jargas dan CNG. Berbeda sama LPG yang kebanyakan hasil impor, CNG ini murni memanfaatkan cadangan gas alam lokal yang melimpah ruah di bumi pertiwi.

Pemerintah sekarang lagi mematangkan rencana uji coba penyaluran kompor CNG pakai tabung khusus bertekanan tinggi untuk rumah tangga dan UMKM tertentu. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan membeberkan fakta kalau alternatif ini emang jauh lebih ramah di kantong:

"CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri," beber Menteri Bahlil, usai menghadiri rapat terbatas dipimpin Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa silam, 5 Mei 2026. (aNs/aRsp)

Gen Z Takeaway

Dapur Indonesia emang beneran punya lore yang panjang, dari era minyak tanah yang bikin APBN boncos parah sampai akhirnya plot twist sukses migrasi ke LPG 3 kg si tabung melon. Sempat ada drama kompor induksi yang bikin netizen shock dan berujung dibatalkan karena takut tagihan listrik jebol, sekarang pemerintah lagi sat set nyobain move on ke Jargas dan uji coba tabung CNG domestik biar nggak FOMO impor LPG lagi, plus bonusnya diklaim Menteri Bahlil 30% lebih ramah di kantong, no debat!

swasembada energi CNG Kementerian ESDM LPG 3 Kg LPG Politik Energi Nasional Dapur Rumah Tangga Ketahanan Energi

Infografis

Terkini