Film Horor Indonesia 'Bisikan Desa Gringsing' Tampil di Cannes 2026, Bawa Teknologi Virtual Production
astakom.com, Jakarata - Film horor Indonesia “Bisikan Desa Gringsing” ikut mencuri perhatian di ajang Marché du Film Cannes 2026, Prancis.
Bukan cuma karena membawa genre horor lokal ke pasar film internasional, film garapan sutradara Ivander Tedjasukmana ini juga mengusung teknologi virtual production dalam proses produksinya.
Virtual production merupakan teknologi produksi film modern yang memungkinkan proses syuting dilakukan menggunakan latar digital real-time lewat layar LED beresolusi tinggi.
Teknologi ini belakangan semakin sering dipakai industri perfilman global karena dinilai mampu menghadirkan visual lebih imersif sekaligus membuat proses produksi lebih efisien.
Digarap dengan Virtual production
Dari informasi yang dihimpun astakom.com pada Rabu, (20/5/2026) CEO Oceanus Media Global (OMG Studios) Nick GC Tan menyebut virtual production kini bukan sekadar perangkat teknologi, tetapi sudah menjadi bagian dari pendekatan kreatif baru dalam industri film Asia Tenggara.
“Virtual production bukan sekadar teknologi. Ini adalah bahasa kreatif baru bagi penceritaan Asia Tenggara. Kami bangga bisa menjadi pionir penggunaannya di perfilman horor Indonesia bersama para partner kami,” ujar Nick GC Tan melalui siaran pers di Jakarta, dikutip dari media nasional pada Rabu, (20/5/2026).
“Bisikan Desa Gringsing” diklaim sebagai salah satu film horor panjang Indonesia pertama yang memakai LED volumetric stage beresolusi tinggi. Teknologi tersebut memungkinkan para aktor berakting di depan layar LED raksasa yang menampilkan lingkungan digital secara langsung selama proses pengambilan gambar berlangsung.
Tampil di pasar film Cannes
Film ini diperkenalkan dalam Marché du Film yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Film Cannes. Ajang tersebut dikenal sebagai salah satu pasar film terbesar dunia yang mempertemukan rumah produksi, distributor, investor, hingga pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Kehadiran “Bisikan Desa Gringsing” di Cannes ikut menambah langkah perfilman Indonesia untuk memperluas jangkauan di pasar internasional, khususnya lewat genre horor yang dalam beberapa tahun terakhir terus berkembang.
Film tersebut dibintangi sejumlah aktor Indonesia seperti Aghniny Haque, Surya Saputra, Kiki Narendra, dan Mian Tiara.
Produksi kolaborasi Asia tenggara
Proses produksi film dilakukan di fasilitas milik OMG Studios di Iskandar Malaysia Studios, Johor, Malaysia. Proyek ini juga mendapat dukungan dari Infocomm Media Development Authority Singapura, Studios Film Office Malaysia melalui program FIMI+, serta Kementerian Kebudayaan Indonesia.
Kolaborasi lintas negara ini menjadi bagian dari kerja sama industri kreatif Asia Tenggara dalam pengembangan produksi film modern, termasuk pemanfaatan teknologi virtual production yang kini mulai berkembang di kawasan regional.
Teknologi virtual production sendiri memungkinkan sineas menciptakan lingkungan visual digital secara real-time tanpa harus sepenuhnya bergantung pada lokasi fisik. Pendekatan ini juga mulai banyak digunakan dalam produksi film dengan kebutuhan visual tinggi, termasuk genre horor dan fantasi.
Industri film dan teknologi makin dekat
Kehadiran “Bisikan Desa Gringsing” di Cannes turut menyoroti bagaimana teknologi mulai memainkan peran penting dalam perkembangan industri perfilman Indonesia.
Penggunaan virtual production dinilai membuka peluang baru bagi sineas lokal untuk menghadirkan kualitas visual yang lebih modern sekaligus memperluas daya saing film Indonesia di pasar global.(deA/aRsp)













