Sekolah Rakyat Buka Jalan bagi Anak Buruh Tani di Sragen
astakom.com, Jakarta - Punijah (45), buruh tani serabutan di Sragen, Jawa Tengah, menjalani hidup dalam tekanan ekonomi sekaligus beban keluarga yang tak ringan. Suaminya, Rebo, mengalami depresi dan kerap pergi tanpa kabar, membuat Punijah menjadi satu-satunya tulang punggung bagi dua anaknya.
Dengan penghasilan sekitar Rp20–30 ribu per hari, itu pun jika ada yang mempekerjakan, Punijah harus mencukupi kebutuhan keluarga dalam kondisi serba terbatas. Ia mengakui, ketika tidak ada pekerjaan, berarti tidak ada pemasukan sama sekali.
Keluarga ini tinggal di rumah sederhana berukuran 64 meter persegi di Dusun Bendorejo, Kecamatan Mondokan. Dinding rumah dari anyaman bambu tampak mulai rapuh, dan saat hujan deras turun, air kerap masuk melalui bagian atap yang bocor.
Tak lanjut sekolah
Kondisi ekonomi tersebut sempat memaksa anak sulungnya, Ahmad Lutfi (16), menghentikan pendidikan setelah lulus dari sekolah menengah pertama. Untuk membantu keluarga, Lutfi bekerja di pabrik kerupuk hingga menjaga toko. Padahal, keinginan untuk kembali bersekolah terus ia sampaikan kepada ibunya.
"'Mak, saya pengen sekolah lagi'," ungkap Punijah menirukan perkataan sang anak, dilansir laman Kemensos, kemarin (26/04/2026).
Namun, Punijah hanya bisa menahan harapan itu. Dengan suara bergetar, ia mengaku tak mampu membiayai pendidikan anaknya karena harus menanggung kebutuhan keluarga seorang diri.
Harapan pada sekolah rakyat
Harapan itu akhirnya menemukan jalan melalui program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program pendidikan gratis ini membuka akses bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk kembali melanjutkan pendidikan.
Kini, Lutfi tercatat sebagai siswa sekolah menengah atas di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 78 Sragen. Di sekolah berasrama tersebut, seluruh kebutuhannya terpenuhi tanpa biaya, mulai dari perlengkapan belajar, makan bergizi tiga kali sehari, hingga fasilitas laptop.
"Alhamdulillah, sangat senang. Saya sangat bersyukur banget. Saya senang sekali. Soalnya anak saya bisa sekolah lagi," ujar Punijah penuh haru.
Bisa kembali sekolah
Bagi Lutfi, kesempatan ini menjadi titik balik. Ia mengaku senang bisa kembali bersekolah sekaligus mendapatkan pembinaan karakter. Di SRT 78 Sragen, ia tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga dilatih untuk disiplin dan mandiri. Ia pun menaruh cita-cita menjadi tentara sebagai bentuk pengabdian kepada negara.
"Terima kasih, Bapak Presiden (Presiden Prabowo Subianto), sudah menerima saya di Sekolah Rakyat. Saya bisa belajar dan menggapai cita-cita saya," ucap Lutfi.
Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu langkah pemerintah melalui Kementerian Sosial dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Upaya ini diharapkan mampu memutus mata rantai kemiskinan sekaligus melahirkan generasi yang cerdas dan berdaya saing.
Selain akses pendidikan, keluarga Punijah juga mendapat bantuan dua ekor kambing dari Kementerian Sosial untuk membantu menopang ekonomi rumah tangga. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan awal menuju kemandirian.
Gen Z Takeaway
Kadang hidup emang sekeras itu, kayak yang dialamin Punijah dan Lutfi. Tapi dari cerita ini keliatan banget, harapan tuh bisa datang dari mana aja, asal nggak nyerah. Lutfi sempat berhenti sekolah, bahkan harus kerja, tapi mimpinya nggak ikut padam. Begitu ada kesempatan, dia gas lagi. Intinya simpel: keadaan boleh sulit, tapi mimpi jangan ikut diturunin. Karena sekali dikasih jalan, lo harus siap buat jalanin dan buktiin.











