Haji 2026 Nggak Cuma Fisik, Kemenkes Ingatkan Mental Jemaah: 10–15% Butuh Perhatian Khusus
astakom, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa tantangan ibadah haji 2026 tidak hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kesiapan mental. Ada sekitar 10–15 % jemaah haji Indonesia diperkirakan membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa selama di Tanah Suci.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi, mengungkap kondisi ini semakin kompleks dengan adanya perubahan lingkungan ekstrem dan padatnya aktivitas ibadah. Bahkan, sekitar 30–40 persen jemaah dilaporkan mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme biologis.
Situasi ini makin krusial karena kelompok lansia menjadi yang paling rentan. Data Balai Pengobatan Haji Indonesia menunjukkan sekitar 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat merupakan lansia dengan gejala demensia, sehingga butuh perhatian ekstra selama pelaksanaan haji.
Lansia paling rentan
Kemenkes mencatat jemaah lanjut usia menghadapi risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan mental. Faktor usia, penurunan fungsi kognitif, serta tekanan adaptasi di lingkungan baru membuat lansia lebih mudah mengalami kebingungan hingga demensia.
“Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” ujar Imran dikutip dari media nasional ada Senin, (27/04/2026)
Karena itu, pendampingan terhadap lansia menjadi fokus utama dalam layanan kesehatan haji tahun ini.
Cuaca ekstrem
Kondisi cuaca di Makkah yang bisa mencapai 35–38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah menjadi salah satu faktor utama. Risiko dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan tidur meningkat, terutama saat jemaah menjalani aktivitas fisik intens seperti tawaf dan sa’i.
Di sisi lain, kebijakan baru dari Arab Saudi, termasuk sistem digital seperti aplikasi Nusuk, turut menambah tekanan psikologis. Bagi sebagian jemaah, khususnya lansia, adaptasi teknologi menjadi tantangan tersendiri.
Pendekatan holistik strategi utama
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes menerapkan pendekatan holistik untuk menjaga kesehatan mental jemaah. Mulai dari konseling prakeberangkatan, edukasi manajemen stres, hingga pengaturan jadwal ibadah agar tetap seimbang dengan waktu istirahat.
Selain itu, dukungan sosial antarjemaah, pemenuhan nutrisi dan hidrasi, serta praktik spiritual seperti doa dan zikir dianjurkan untuk membantu menjaga stabilitas emosi. Kementerian Agama Republik Indonesia juga memastikan layanan pendampingan bagi jemaah berisiko tinggi terus diperkuat. (deA/aNs/aRsp)











