Campak Disebut Paling Menular, Kemenkes: Bisa 18 Kali Lipat dari Covid-19
astakom, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak yang masih berpotensi terjadi.
Peringatan ini disampaikan menyusul tingginya tingkat penularan campak yang disebut jauh melampaui Covid-19, penyakit yang sebelumnya menjadi pandemi global.
Dilansir dari media nasional pada Senin, (20/4/2026), disebutkan bahwa campak memiliki kemampuan menyebar sangat cepat, terutama di lingkungan dengan cakupan imunisasi yang rendah.
Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi krusial agar tidak terjadi lonjakan kasus di berbagai daerah.
Campak paling mudah menyebar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan tertinggi.
“Jadi kalau Covid dulu di awal-awal, satu orang nularin tiga, nularin empat. Waktu Omicron bisa delapan gitu, ya. Nah, campak ini satu orang bisa nularin sampai 18, ya. Katanya sih rata-rata 15. Jadi ini penyakit yang di seluruh dunia, penyakit menular yang paling menular,” kata Budi dalam rapat di Komisi IX DPR, dikutip dari media pada Senin (20/4/2026).
Angka tersebut jauh melampaui penularan Covid-19 yang pada awal pandemi rata-rata hanya menularkan tiga hingga empat orang.
Tingginya angka penularan ini menjadikan campak sebagai penyakit yang perlu diwaspadai secara serius oleh masyarakat.
Menular tapi bisa dicegah
Meski memiliki tingkat penularan tinggi, pemerintah menegaskan bahwa campak bukan penyakit yang tidak bisa ditangani.
“Karena ini penyakit sangat menular, kita minta izin agar vaksin campak juga bisa diberikan ke orang dewasa, terutama tenaga kesehatan,” tuturnya dikutip dari media pada Selasa, (21/4/2026).
Ia menekankan bahwa vaksinasi menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Dengan imunisasi yang tepat, risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.
Kemenkes menjelaskan bahwa kematian akibat campak umumnya bukan disebabkan langsung oleh virus, melainkan komplikasi yang ditimbulkan.
Hal ini serupa dengan Covid-19, di mana dampak fatal seringkali berkaitan dengan respons tubuh terhadap infeksi.
Karena itu, deteksi dini dan penanganan cepat menjadi sangat penting.
Tidak semematikan Ebola atau TBC
Meski sangat mudah menular, campak dinilai tidak memiliki tingkat kematian setinggi penyakit lain seperti Ebola atau tuberkulosis.
Namun, risiko tetap meningkat jika seseorang tidak mendapatkan vaksinasi.
“Yang menyebabkan kematian itu efek sampingnya, bukan virusnya langsung,” jelas Budi.
Pemerintah pun terus mendorong peningkatan cakupan vaksinasi untuk mencegah penyebaran lebih luas.(deA/aRsp)











