Warning: El Nino Ekstrem ‘Godzilla’ Sebabkan Polusi Naik dan Penyakit Tular Vektor Mengintai
astakom.com, Jakarta - Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” mulai berdampak ke Indonesia dan memicu kekhawatiran lintas sektor.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan, perubahan cuaca signifikan akibat fenomena ini tidak hanya memicu kemarau panjang, tetapi juga berpotensi memperburuk kualitas udara serta meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Kondisi ini membuat masyarakat diminta lebih waspada, terutama kelompok rentan seperti anak-anak yang dinilai lebih mudah terdampak perubahan lingkungan ekstrem.
Udara Memburuk, Risiko Kabut Asap Meningkat
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan El Nino menyebabkan musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan rendah. Dampaknya, proses rain washing menurun sehingga polutan tidak tersapu hujan dan justru menumpuk di atmosfer.
“Udara menjadi stagnan, diperparah lapisan inversi dan angin lemah. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, sehingga menimbulkan kabut asap yang berdampak langsung pada kesehatan,” katanya, Senin (13/4), dikutip dari detikHealth.
Ancaman Penyakit Ikut Naik
Selain kualitas udara yang memburuk, peningkatan suhu dan perubahan lingkungan turut memicu berkembangnya penyakit tular vektor.
Genangan air yang terbentuk dalam periode tertentu menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak, sehingga meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Di sisi lain, penurunan kualitas air dan sanitasi selama kemarau panjang juga berpotensi memicu penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, hingga leptospirosis.
Imbauan Kemenkes: Kurangi Aktivitas Luar & Terapkan PHBS
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan selama periode El Nino.
Beberapa di antaranya meliputi mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi tinggi, menutup ventilasi saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker bila diperlukan, memanfaatkan penjernih udara di dalam ruangan, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
IDAI: Anak-anak Harus Lebih Dijaga
Peringatan juga datang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Organisasi ini menilai anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak perubahan cuaca ekstrem.
Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan kondisi cuaca yang tidak stabil membuat tubuh anak harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi.
“Secara umum, sebaiknya anak-anak berada di dalam ruangan saat cuaca ekstrem. Jangan sampai dibiarkan tanpa pengawasan karena di musim seperti ini daya tahan tubuh bisa menurun,” ujarnya kepada wartawan, Senin (13/4).
Ia juga menekankan pentingnya asupan nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh anak.
“Nutrisi harus diperbaiki, terutama protein hewani, supaya anak lebih fit menghadapi kondisi cuaca ekstrem seperti ini,” jelasnya.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada pola cuaca global. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat memicu kemarau panjang, peningkatan polusi udara, hingga lonjakan risiko penyakit di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.(deA/aRsp)
Gen Z Takeaway
El Nino “Godzilla” bukan cuma bikin panas—tapi juga efek domino: polusi naik, penyakit ikut nambah, dan anak-anak jadi paling rentan. Jadi, jangan cuek sama kondisi sekitar—lebih aware, lebih siap.











