Temuan Hasil Pemeriksaan dan Jenis Teknologi Benda Misterius Mirip Torpedo di Laut Lombok

Editor: Dhea Vallerina Riyon
Kamis, 9 April 2026 | 13:15 WIB
Temuan Hasil Pemeriksaan dan Jenis Teknologi Benda Misterius Mirip Torpedo di Laut Lombok
(astakom/IG@lembagakeris)

astakom.com, Jakarta Penemuan benda asing menyerupai torpedo di laut Lombok perairan Gili Trawangan tidak hanya menjadi perhatian dari sisi keamanan, tetapi juga membuka indikasi penggunaan teknologi kelautan canggih yang umum dipakai dalam riset laut modern.

Dilansir dari sebuah situs web pada Rabu (8/4/2026), benda tersebut ditemukan oleh nelayan dan kemudian diamankan aparat sebelum diserahkan ke TNI Angkatan Laut untuk dilakukan identifikasi teknis lebih lanjut.

Spesifikasi fisik dan indikasi perangkat UUV

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal aparat:

  • Panjang sekitar 3,7 meter
  • Diameter sekitar 70 sentimeter
  • Bentuk silinder menyerupai torpedo
  • Terdapat label “CSIC” dan aksara Cina

Dilansir dari media pada Rabu, (8/4/2026), desain seperti ini identik dengan unmanned underwater vehicle (UUV), yaitu kendaraan bawah laut tanpa awak yang dirancang untuk bergerak stabil dan efisien dalam misi pengumpulan data laut.

Secara teknis, bentuk torpedo digunakan karena:

  • meminimalkan hambatan air
  • menjaga stabilitas di arus laut
  • memungkinkan operasi jarak jauh di bawah permukaan

Teknologi sensor laut: bagaimana adcp bekerja

Dilansir dari astakom.com pada Rabu, perangkat teknologi kelautan seperti ini umumnya dapat dilengkapi dengan sensor canggih bernama Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Sensor ini bekerja mirip dengan sonar, yakni memancarkan gelombang suara untuk mengukur kecepatan arus air dan memetakan profil hidro-oseanografi dasar laut secara mendetail.Dalam praktik global, teknologi ADCP digunakan luas dalam riset oseanografi. Sistem ini bekerja dengan mengirim gelombang suara ke dalam air, lalu membaca pantulan dari partikel di dalam laut untuk menganalisis arah dan kecepatan arus di berbagai kedalaman.

Secara ilmiah, penjelasan ini didukung oleh lembaga internasional seperti NOAA dan NASA, yang menyebut bahwa ADCP:

  • menggunakan efek Doppler dari gelombang suara untuk mengukur arus laut
  • menghitung perubahan frekuensi pantulan dari partikel di air untuk menentukan kecepatan dan arah arus

Bahkan, teknologi ini mampu:

  • mengukur arus dari berbagai lapisan kedalaman sekaligus
  • digunakan pada kapal, buoy, hingga kendaraan bawah laut otonom

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi bahwa perangkat yang ditemukan di Lombok menggunakan sistem ADCP tersebut.

Fungsi global dan nilai strategis data laut

Dalam praktik internasional, perangkat UUV dengan sensor seperti ADCP digunakan untuk: riset oseanografi, pemetaan dasar laut, monitoring arus laut jangka panjang

Teknologi ini memungkinkan pengumpulan data laut secara kontinu tanpa kehadiran manusia. Data yang dihasilkan sangat penting karena menggambarkan kondisi arus, struktur air, hingga dinamika bawah laut secara detail.

Karena itu, selain untuk riset, data kelautan juga memiliki nilai strategis tinggi dalam konteks navigasi dan pemahaman wilayah laut. (deA/aRsp)

Gen Z takeaway

Ini bukan sekadar benda aneh di laut. Secara teknologi, alat kayak gini bisa “ngintip” kondisi laut dari dalam—pakai gelombang suara dan data presisi tinggi. Tapi untuk kasus ini, semuanya masih ditelusuri. Yang jelas, sekarang yang punya data laut = punya keunggulan informasi.

UUV Lombok Penemuan Benda Asing Techno Spesifikasi Mobil

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB