IHSG Pekan ke-2 April Melejit 2,8%! Efek "Ceasefire" Bikin Market Auto Bergairah?

Editor: Shintya
Rabu, 8 April 2026 | 12:04 WIB
IHSG Pekan ke-2 April Melejit 2,8%! Efek "Ceasefire" Bikin Market Auto Bergairah?
IHSG Melejit 2,8%! Efek "Ceasefire" Bikin Market Auto Rebound? (astakom/ilustrasi saham pexels)

astakom.com, Jakarta - Pada perdagangan saham hari ini Rabu (8/4/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 2,75 persen ke level 7.162,41.

Last update pukul 09.20 WIB, saham IHSG naik di 196,33 poin 2,81 persen ke angka 7.152,44. Kenaikan harga saham hari ini ditopang oleh sektor-sektor yang turut menguat pada pembukaan perdagangan sesi satu pagi ini.

Penguatan kembali IHSG ke kisaran 7.000 ini kalangan market menilai dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global saat ini. Dilansir dari IDX, eskalasi di Timur Tengah yang akhirnya mengarah di titik kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS)  dan Iran bikin saham dan obligasi yang belakangan ini volatil kini berbalik menguat pada perdagangan Rabu (8/04/2026).

Kabar gencatan senjata ini direspons baik sama pasar saham khususnya komoditas logam yang berpotensi rebound setelah akhir-akhir ini tertekan ketegangan geopolitik.

Selat Hormuz sebagai alat tawar

Dilansir Reuters, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bilang kalau Washington sepakat menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan. Disusul sama diskusi lebih lanjut buat tercapainya perjanjian damai jangka panjang.

Berdasarkan riset yang dilakukan Indo Premier Sekuritas menjelaskan kalau Iran kemungkinan masih bakal menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar utama dalam eskalasi ini, karena jalur tersebut mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Diketahui, penutupan jalur ini sudah menyebabkan kurang-lebih 12 juta barel per hari produksi minyak terhenti, termasuk produk turunan seperti naphta, sulfur, dan LNG.

Kondisi saham sektor batubara

Indo Premier mencatat dari sisi sektor, sejak eskalasi dimulai sampai awal Maret 2026, sektor batu bara menjadi satu-satunya yang mampu mengungguli IHSG.

Berkebalikan sama saham logam mulia dan logam dasar seperti AMMN, INCO, NCKL, dan TINS yang tertekan akibat ketidakpastian geopolitik global. Sementara, untuk saham minyak dan gas bergerak terbatas karena sebelumnya sudah mencatatkan kinerja positif sejak awal tahun.

Di situasi gencatan senjata ini, Indo Premier memprediksi reaksi awal pasar bakal terkoreksi pada saham energi, tapi pada saham nikel dan emas berpotensi pulih. Kondisi ini udah terlihat dari reaksi pasar di perdagangan 1 April, saat narasi gencatan senjata heboh dibahas di pasar.

Skenario terburuk, lonjakan harga minyak

Melihat persediaan minyak global di laut telah menurun tajam,  sehingga harga minyak diproyeksi bertahan di kisaran minimal USD85-USD90 per barel. Tapi pasar tetap antisipasi dan mulai terbiasa dengan dinamika hasil negosiasi yang berubah-ubah.

Dalam skenario ekstrem kalau Selat Hormuz tetap dibatasi atau ditutup untuk waktu yang lebih lama, Indo Premier memperingatkan risiko lonjakan harga minyak. Bahkan sampai kehilangan persediaan hingga sekitar 200 juta barel pada pertengahan April, dan potensi inflasi akibat gangguan pasokan energi.

"Dalam skenario ini, inflasi akibat gangguan pasokan (supply-shock inflation) berpotensi terjadi. Meski dalam jangka pendek seluruh logam kemungkinan tertekan, logam dasar dan emas diperkirakan diuntungkan dalam jangka menengah hingga panjang karena berpotensi memicu supercycle baru sekaligus menjadi aset lindung nilai utama, mirip dengan yang terjadi pada era 1970-an," tulis Indo Premier dikutip dari media pada Rabu (8/4/2026). (shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

IHSG langsung ngegas +2,8% ke 7.100-an gara-gara sentimen ceasefire AS–Iran yang bikin market balik risk-on. Harga minyak drop ke bawah USD100, jadi sektor logam punya chance buat rebound, sementara energi bisa ketahan. Tapi lowkey, market masih waspada karena drama Selat Hormuz bisa anytime bikin volatility balik lagi.

IHSG Hari Ini Pantauan harga saham Bursa Saham Indonesia stock exchange (IDX)

Infografis

Terkini