Tarif Bea Keluar Batu Bara dan Nikel Disiapkan, Target Mulai Efektif Awal April

Editor: Shintya
Jumat, 27 Maret 2026 | 17:02 WIB
Tarif Bea Keluar Batu Bara dan Nikel Disiapkan, Target Mulai Efektif Awal April
Tarif Bea Keluar Batu Bara dan Nikel Disiapkan, Target Mulai Efektif Awal April (astakom/ilustrasi pexels)

astakom.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui soal tarif baru Bea Keluar (BK) khusus untuk komoditas batu bara dan nikel.

Menurut Purbaya, angkanya sudah ditetapkan oleh Presiden Prabowo, tinggal menunggu keputusan teknis dari kebijakan ini. Jika pembahasan untuk aturan teknisnya berjalan lancar, maka aturan ini targetnya mulai berlaku efektif pada awal bulan April.

"Angka sudah diputuskan oleh Presiden, tetapi kan rapatnya bisa diskusikan dahulu, baru kita bisa keluarkan seperti apa nanti. (Batu bara) jelas akan dikenakan biaya keluar sesuai dengan arahan Presiden. Bukan saya yang memutuskan loh," ujar Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, dikutip pada Kamis (27/3/2026).

Sebelumnya, Purbaya sempat mengusulkan skema tarif berjenjang untuk batu bara, yaitu mulai dari 5 persen sampai 11 persen. Angka itu pastinya akan disesuaikan dengan fluktuasi harga di pasar perdagangan internasional. Namun, untuk keputusan pastinya Purbaya belum ngespill. Dia juga bilang kalau level-taxnya harus dirapatin dulu.

Implementasi kebijakan bea keluar

"Harusnya kalau besok jadi, ya 1 April. Kalau besok jadi. Belum tahu, kan masih dirapatkan dulu level tax-nya seperti apa. Yang pasti kan masih angka besar," kata Purbaya.

Implementasi kebijakan ini punya peluang untuk dipercepat sama pemerintah, kalau harga komoditas fosil masih menunjukkan tren penguatan. Hal itu mungkin saja dilakukan untuk mengoptimalkan pendapatan negara.

"Kita lihat seperti apa kondisi industrinya, tetapi kalau kepepet bisa (lebih cepat). Artinya, kalau ini harganya tinggi terus, kita bisa share (segera menerapkan BK) untuk menaikkan income kita," kata Purbaya.

Harga batu bara lagi naik

Strategi pemerintah ini dilakukan di saat harga batu bara sekarang lagi tinggi-tingginya. Bahkan tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir meskipun sempat jatuh ke angka 4,1 persen ke angka USD 140,5 per ton, beberapa hari lalu. Dalam satu bulan terakhir, harga komoditas fosil ini melonjak sekitar 20,09 persen.

Dia juga mengaku ada potensi keberatan dari pengusaha, tapi Purbaya menegaskan bahwa margin keuntungan pengusaha sekarang masih memadai buat berbagi sama negara.

"Mereka (pengusaha batu bara) pasti enggak setuju, tetapi kan harga batu bara tinggi sekali sekarang USD135/ton lebih," katanya.

Kebijakan akan dibuat adil 
Kementerian Keuangan akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk menghitung besaran tarif yang adil supaya kebijakan ini tidak mematikan industri.

Kementerian ESDM juga rencananya akan melakukan penyesuaian target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Sampai sekarang fokus utama pemerintah baru tertuju pada dua komoditas strategis.

"Yang kita omongin ke Pak Presiden baru batu bara sama nikel, (komoditas) yang lain belum kita omongin. Jadi saya enggak tahu dapat persetujuan apa enggak. Kalau dua itu, sepertinya dapat, tinggal teknisnya berapa level yang pas," jelas Purbaya.

Gen Z Takeaway
Pemerintah udah green light tarif baru bea keluar buat batu bara dan nikel, tinggal nunggu teknis fix sebelum start kemungkinan 1 April. Timing-nya pas banget karena harga lagi naik, jadi negara mau optimize revenue tanpa terlalu ganggu industri. Meski pengusaha mungkin keberatan, pemerintah bilang margin mereka masih aman buat sharing cuan.

Batu Bara batubara kemenkeu Nikel Pertambangan tarif baru bea keluar

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB