Performa HSG Dipenutupan Lebaran 2026: Market Terpengaruh Indikator Global atau Faktor Domestik?

Editor: AR Purba
Sabtu, 21 Maret 2026 | 09:19 WIB
Performa HSG Dipenutupan Lebaran 2026: Market Terpengaruh Indikator Global atau Faktor Domestik?
Pada hari perdagangan terakhir sebelum libur panjang lebaran 2026,IHSG ditutup menguat 1,2% ke level 7.106,8 Jumat 20/03/2026 [Foto: IDX/ astakom.com]

astakom.com, Ekbis – Pada hari perdagangan terakhir sebelum libur panjang, Selasa (17/03/2026) IHSG ditutup menguat 1,2% ke level 7.106,8.

Tercatat di zona hijau meski hanya sebentar, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup periode perdagangan menjelang libur panjang Idulfitri 1447 H berhasi menguat tipis, setelah sepekan sebelumnya sempat terkoreksi.

Capaian secara statistik dalam pengamatan market memang belum begitu optimis.

Karena IHSG sempat berupaya menatatkan reli kemenangan (window dressing) dalam performa market kawasan.

So, IHSG jelang lebaran menguat atau melemah?

​Rabu (18/03/2026), IHSG terpantau mengalami tekanan koreksi yang signifikan.

Indeks sempat merosot hingga ke bawah level psikologis 7.000, tepatnya menyentuh area 6.917 pada perdagangan intraday, sebelum akhirnya mencoba bertahan di kisaran 7.022.

Dalam konteks situasional market, secara akumulatif dalam sepekan terakhir, indeks IHSG semoat terkoreksi lebih dari 3%. Ini seolah jadi penanda absennya "euforia Lebaran" di lantai bursa tahun ini.

Scara kebiasaan, ​kondisi ini berbanding terbalik dengan pola historis di mana pasar biasanya cenderung tenang atau sedikit menguat karena aktivitas belanja masyarakat.

Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk tunai (cash out) guna menghindari risiko ketidakpastian global yang mungkin terjadi selama bursa domestik tutup selama lebih dari satu pekan.

​Upaya bertahan di Zona Hijau

​Meskipun sempat ada upaya rebound ke zona hijau pada awal Maret berkat aksi beli selektif pada saham-saham perbankan raksasa (Big Caps) seperti BBCA dan BMRI, kekuatan tersebut akhirnya luluh lantah oleh faktor eksternal.

Diantara faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sempat di atas US$100 per barel, yang berdampak langsung pada kekhawatiran inflasi energi tidak hanya secara global tapi juga di dalam negeri.

​Dikutip dari CGS International yang ditulis pada laman media online (16/03/2026), menyatakan,

​"Kombinasi eskalasi geopolitik Timur Tengah dan pemangkasan outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi sentimen negatif utama. Dampaknya aksi jual agresif investor asing pada sektor perbankan big caps."

Perbandingan IHSG dengan Market Kawasan Asia
​Dibandingkan dengan bursa saham di lawasan Asia, IHSG mencatatkan performa yang cenderung tertinggal (underperform).

Mengutip Media ekonomi nasional dsri analisa Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, memberikan catatan kritis mengenai posisi IHSG dibandingkan bursa Asia lainnya dijelang penutupan market libur lebaran kemarin

​"Pasar saham (IHSG) menunjukkan kegelisahan yang lebih tinggi dibandingkan bursa Asia lainnya menjelang libur Lebaran. Indonesia dinilai sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak karena ketergantungan pada impor energi, di tengah cadangan BBM nasional yang terbatas." dikutip astakom.com hari ini (20/03/2026

Jepang (Nikkei 225) masih mampu mencatatkan pertumbuhan tahunan sekitar 6,8% karena kebijakan korporasi yang atraktif, IHSG justru menjadi salah satu yang terlemah di regional.

Bursa Singapura (STI) dan Malaysia (KLCI) relatif lebih stabil karena eksposur mereka terhadap risiko fiskal domestik tidak sebesar Indonesia saat ini.

​Mengutip Investment Analyst dari Infovesta Utama pada pertengahan pekan ini (17/03/2026), menjelaskan bahwa tekanan pada pasar saham IHSG lebih kompleks dibandingkan tetangga regionalnya:

​"IHSG tertekan oleh isu MSCI terkait struktur pasar domestik serta penurunan outlook rating oleh lembaga pemeringkat global. Pasar dalam negeri saat ini tidak punya sentimen penahan penurunan seperti periode sebelumnya." Kutip astakom.com hari Jumat (20/03/2026)

Gen Z Takeaway
Pasar saham Indonesia lagi “nggak vibes” jelang Lebaran 2026—Indeks Harga Saham Gabungan sempat naik dikit tapi langsung ke-smack turun lagi karena combo bad news global + masalah dalam negeri. Dari luar, geopolitik bikin harga minyak ngegas dan investor auto takut (mode: cabut dulu 🏃‍♂️), dari dalam ada isu rating sama rupiah yang bikin makin nggak pede. Jadi bukan sekadar nggak ada “euforia Lebaran”, tapi emang market lagi defensive—lebih pilih pegang cash daripada ambil risiko.

Berita ekonomi Bursa Saham Indonesia eskalasi timur tengah Faktor-faktor saham IHSG IHSG Hari Ini lebaran 2026 Market Saham nilai tukar rupiah Penutuoan market

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB