BI Putuskan Kebijakan Suku Bunga Tetap di 4,75 Persen
astakom.com, Jakarta - Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur untuk memutuskan suku bunga acuan atau BI Rate. Keputusan penetapan bunga acuan berlangsung pada 16 sampai 17 Maret 2026.
Diketahui suku bunga acuan atau BI Rate fix ditetapkan berada di level 4,75 persen pada Maret 2026. Sedangkan untuk suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility sebesar 5,5 persen.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16 dan 17 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil RDGB Maret 2026, dikutip pada Kamis (19/3/2026).Perry mengatakan bahwa keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan asesmen prospek perekonomian dan berbagai tantangan global dan domestik terutama dampak dari eskalasi di Timur Tengah.
Perkuat stabilitas nilai tukar rupiah
"Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” ucap Perry.Untuk ke depannya, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional," kata Perry.
Posisi devisa Indonesia
Dia juga menjelaskan bahwa kebijakan mempertahankan BI Rate bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi intervensi serta kecukupan cadangan devisa.Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Skenario dampak eskalasi Timur Tengah
Selanjutnya, BI juga memperhitungkan berbagai skenario dampak eskalasi Timur Tengah terhadap perekonomian global. Salah satunya adalah fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi global.BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat, jadi 3,1 persen dari proyeksi sebelumnya 3,2 persen. Lalu inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen.
Artinya pada situasi ini ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter global menjadi sempit atau nyaris tidak mungkin, termasuk potensi tertundanya penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate).










