'Maybe Not Even Humans?' Pentagon Selidiki Dugaan AI Tentukan Target Serangan
astakom.com, Techno - Kalimat dari The New Republic “who's deciding where the bombs drop in Iran? Maybe not even humans.” memicu kekhawatiran global soal peran kecerdasan buatan dalam perang modern.
Isu ini mencuat setelah Pentagon melakukan penyelidikan internal terkait insiden serangan udara di Iran yang dilaporkan mengenai fasilitas sipil, termasuk sekolah.
Penggunaan AI dalam militer sebenarnya bukan hal baru, namun keterlibatannya dalam proses penentuan target kini memicu perdebatan serius: apakah teknologi ini masih sekadar alat, atau mulai melampaui kendali manusia?
Pentagon selidiki dugaan peran AI
Penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah AI hanya digunakan sebagai alat bantu analisis atau ikut memengaruhi penentuan target operasi.
Amerika Serikat telah mengakui penggunaan AI untuk mengolah data intelijen dalam jumlah besar mulai dari citra satelit, sinyal komunikasi, hingga pola pergerakan aktivitas di lapangan.
Namun insiden yang menyasar fasilitas sipil membuat batas antara “alat bantu” dan “pengambilan keputusan” kini dipertanyakan.
“who's deciding where the bombs drop in Iran? Maybe not even humans.” Dikutip langsung dari media The New Republic pada Selasa, (17/3/2026).
AI canggih, tapi tetap terikat aturan
Sistem AI seperti yang dikembangkan Anthropic digunakan untuk membantu analisis data kompleks dan menemukan pola yang sulit dideteksi manusia.
Namun sejak awal, industri teknologi telah menetapkan batasan tegas. CEO Sam Altman dari OpenAI menegaskan bahwa AI tidak boleh digunakan untuk mengambil keputusan senjata secara otonom.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat juga memiliki aturan human in the loop, yang mengharuskan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
“Kalau sudah begini, harusnya kesalahan tetap ada di tangan manusia yang menyetujuinya….” dikutip dari unggahan instagram akun Jaga Indonesia, Selasa (17/3/2026).
Dua skenario dan risiko nyata
Pasca insiden ini, para ahli menilai ada dua kemungkinan yang terjadi: AI hanya digunakan sebagai alat bantu namun terjadi kesalahan manusia, atau AI digunakan terlalu jauh hingga memengaruhi penentuan target.
Perbedaan ini sangat krusial, karena menyangkut kepatuhan terhadap aturan militer dan etika penggunaan teknologi dalam konflik.
Kasus ini juga menunjukkan risiko nyata penggunaan AI: sistem mampu mengolah data dalam skala besar, tetapi tidak memiliki empati, konteks moral, atau tanggung jawab atas keputusan yang diambil.
“AI tidak seharusnya digunakan secara otonom untuk mengambil keputusan yang melibatkan senjata.” sambungnya.













