Cegah Gagal Ginjal Sejak Dini, Kemenkes Sebut Skrining CKG Bisa Tekan Emisi Karbon Layanan Kesehatan
astakom.com, Jakarta - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digencarkan pemerintah disebut tidak hanya penting untuk pencegahan penyakit, tetapi juga berpotensi menekan dampak lingkungan dari layanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan menilai deteksi dini penyakit ginjal dapat mengurangi kebutuhan terapi dialisis atau cuci darah yang selama ini membutuhkan sumber daya besar.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan skrining kesehatan di layanan dasar sebagai strategi ganda: menjaga kesehatan masyarakat sekaligus menekan emisi karbon dari sistem kesehatan.
Deteksi dini lewat CKG jadi kunci
Kementerian Kesehatan menyebut skrining kesehatan seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) mampu menekan kebutuhan terapi pengganti ginjal di tahap lanjut. Dengan begitu, penggunaan sumber daya lingkungan untuk terapi dialisis juga bisa ditekan.
Pelaksana tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menegaskan bahwa pencegahan penyakit sejak layanan kesehatan primer sangat penting.
“Deteksi dini di tingkat primer itu sangat diperlukan untuk mencegah angka-angka yang tadi saya sampaikan itu,” kata Andi dikutip dari media pada Kamis, (11/3/2026).
Menurutnya, jika penyakit ginjal dapat terdeteksi lebih awal, pasien bisa mendapatkan penanganan sebelum mencapai tahap gagal ginjal yang membutuhkan dialisis rutin.
Dialisis punya jejak karbon besar
Isu lingkungan juga menjadi perhatian dalam layanan kesehatan ginjal. Data yang disampaikan Kemenkes menunjukkan bahwa terapi dialisis memiliki jejak karbon yang cukup signifikan.
Berdasarkan data The American Society of Nephrology, satu kali prosedur hemodialisis dapat menghasilkan emisi setara 58,9 kilogram CO₂.
Selain itu, jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia juga cukup besar. Data Indonesian Renal Registry mencatat sekitar 200 ribu pasien gagal ginjal membutuhkan hemodialisis hingga dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Hal ini membuat terapi ginjal menjadi salah satu layanan kesehatan dengan penggunaan energi dan air yang tinggi.
Penyakit ginjal jadi beban besar JKN
Kemenkes juga menyoroti besarnya beban pembiayaan penyakit ginjal bagi sistem kesehatan nasional. Penyakit ini termasuk dalam kelompok penyakit katastropik yang menyedot anggaran besar dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Pada 2025, sekitar Rp193 triliun anggaran JKN digunakan untuk layanan kesehatan, dan sebagian besar dialokasikan untuk layanan tingkat lanjut di rumah sakit.
Gagal ginjal bahkan menempati peringkat kedua beban pembiayaan terbesar setelah penyakit jantung, diikuti kanker dan stroke.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan layanan kesehatan dasar serta skrining massal melalui program CKG di puskesmas agar penyakit dapat dicegah sebelum memasuki tahap berat.
Momentum Hari Ginjal Sedunia 2026
Dorongan terhadap skrining kesehatan juga sejalan dengan peringatan Hari Ginjal Sedunia 2026 yang mengusung tema “Caring for People, Protecting the Planet”.
Tema ini menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan manusia juga berkaitan dengan perlindungan lingkungan.
Kemenkes pun mengajak berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, industri hingga masyarakat, untuk bersama meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan ginjal.
“Kami mengajak komitmen dari berbagai pemangku kepentingan untuk bersama membangun masa depan kesehatan ginjal yang berkelanjutan,” ujar Andi.











