Kemenkes Ingatkan Risiko Penularan Campak Saat Mudik Lebaran, Imunisasi Dipercepat di Wilayah Rawan
astakom.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran 2026. Lonjakan mobilitas masyarakat serta aktivitas berkumpul saat silaturahmi dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular tersebut.
Dilansir dari siaran live Kemenkes pada Senin, (9/3/2026) berrdasarkan data Kemenkes, hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan 6 kematian di Indonesia.
Selain itu, tercatat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi.
Wilayah yang melaporkan kejadian tersebut antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Mobilitas mudik tingkatkan risiko penularan
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan tren kasus campak sempat meningkat pada awal tahun sebelum mulai menunjukkan penurunan pada Februari 2026. Meski demikian, momentum mudik tetap berpotensi memicu penyebaran jika tidak diantisipasi.
“Tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujar Andi Saguni dalam keterangan resmi Kemenkes.
Ia menambahkan bahwa peningkatan mobilitas masyarakat selama mudik Lebaran dapat memperbesar peluang penularan, terutama pada kelompok anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
“Menjelang mudik Lebaran, mobilitas masyarakat akan meningkat dan potensi kerumunan lebih besar. Karena itu masyarakat perlu tetap waspada terhadap penularan campak,” katanya.
Pemerintah percepat program imunisasi
Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, Kemenkes mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah di wilayah yang memiliki kasus tinggi.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Rizka Andalusia, memastikan bahwa stok vaksin campak-rubella (MR) dalam kondisi aman untuk mendukung percepatan imunisasi.
“Dalam merespons kejadian luar biasa campak, salah satu faktor penting selain surveilans adalah penyediaan vaksin untuk pelaksanaan imunisasi,” kata Rizka Andalusia dalam keterangan resmi Kemenkes.
Pemerintah mencatat saat ini tersedia sekitar 9,5 juta dosis vaksin MR di tingkat pusat, sementara sekitar 6,6 juta dosis telah didistribusikan ke daerah melalui dinas kesehatan dan puskesmas.
Program percepatan imunisasi tersebut diprioritaskan di 102 kabupaten/kota yang menjadi fokus pengendalian kasus campak.
Imbauan Kemenkes saat silaturahmi lebaran
Selain mempercepat imunisasi di daerah, Kemenkes juga menyiapkan layanan vaksinasi di sejumlah titik pelayanan mudik, termasuk bandara dan pelabuhan, guna menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk tidak bepergian jika mengalami gejala campak seperti demam dan ruam pada kulit, karena penyakit ini sangat mudah menular melalui droplet atau percikan pernapasan.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi dan balita selama momen silaturahmi Lebaran.
“Kebiasaan asal menyentuh bayi atau balita saat kumpul-kumpul, terutama Lebaran, sebaiknya dihindari karena risiko penularan campak cukup tinggi,” ujar Andi Saguni.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan anak telah mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kontak dengan orang yang memiliki gejala penyakit menular.











