Anak Dikira Tak Fokus, Ternyata Gangguan Pendengaran? Kemenkes Soroti Ancaman “Budaya Bising” pada Generasi Muda
astakom.com, Jakarta – Anak yang dianggap sulit konsentrasi di kelas belum tentu bermasalah pada perilaku atau akademik. Bisa jadi, mereka tidak mendengar dengan optimal.
Isu ini mengemuka dalam media briefing Hari Pendengaran Sedunia 2026 yang digelar Kementerian Kesehatan RI pada 2 Maret 2026.
Pemerintah menyoroti gangguan pendengaran yang kerap luput terdeteksi, padahal berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak hingga produktivitas saat dewasa.
Paparan suara keras dari perangkat audio pribadi, musik dengan volume tinggi, hingga lingkungan yang semakin bising disebut sebagai faktor risiko utama, terutama pada anak dan generasi muda yang akrab dengan earphone dan headset sepanjang hari.
Ratusan ribu terdeteksi lewat skrining nasional
Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hingga 31 Desember 2025, dari 18.697.124 orang yang menjalani skrining pendengaran, sebanyak 337.056 orang atau 1,8 persen terdeteksi mengalami gangguan pendengaran.
Sementara itu, per 1 Maret 2026, dari 4.128.849 orang yang menjalani skrining, ditemukan 51.215 orang atau 1,24 persen mengalami gangguan pendengaran.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa persoalan ini sering tidak disadari.
“Pendengaran memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak, mulai dari perkembangan bahasa, kemampuan belajar, interaksi sosial, hingga produktivitas di usia dewasa. Gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia dan perlu ditangani secara serius melalui upaya pencegahan dan deteksi dini,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kemenkes pada Kamis, (4/4/2026).
“Masih banyak anak yang dianggap tidak fokus atau mengalami kesulitan belajar, padahal bisa jadi disebabkan oleh gangguan pendengaran. Oleh karena itu, pemeriksaan pendengaran secara berkala menjadi sangat penting.” Jelasnya.
1 dari 5 orang berisiko gangguan pendengaran
Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang membutuhkan rehabilitasi, dan jumlah itu dapat meningkat signifikan pada 2050 jika tidak ada intervensi pencegahan.
WHO juga memperingatkan bahwa lebih dari 1 miliar anak muda di seluruh dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat kebiasaan mendengarkan musik dengan volume tinggi melalui perangkat audio pribadi serta paparan suara keras di tempat hiburan.
Konteks ini relevan dengan kondisi Indonesia, di mana penggunaan earphone sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital — mulai dari belajar daring, bekerja hybrid, gaming, hingga streaming musik berjam-jam.
Safe listening dan target turun 50% pada 2030
Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan prinsip safe listening, yakni membatasi volume earphone maksimal 60 persen dan durasi penggunaan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda.
“Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi volume penggunaan earphone maksimal 60 persen dan durasi tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda. Penggunaan yang berlebihan dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran,” jelas dr. Siti Nadia.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (PERHATI-KL), Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, menyampaikan bahwa Indonesia telah berkomitmen menurunkan angka gangguan pendengaran hingga 50 persen pada 2030, sejalan dengan target global kesehatan pendengaran.
“Upaya penurunan gangguan pendengaran memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, hingga masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, penyebab utama gangguan pendengaran meliputi infeksi telinga, gangguan bawaan sejak lahir, paparan bising, penggunaan perangkat audio pribadi secara berlebihan, serta budaya lingkungan yang semakin bising.
Dengan pemeriksaan pendengaran kini menjadi bagian dari CKG untuk seluruh siklus kehidupan — dari bayi baru lahir hingga lanjut usia — pemerintah berharap deteksi dini bisa mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Gen Z Takeaway
Pakai earphone full volume tiap hari itu bukan cuma soal selera musik, tapi soal risiko kesehatan jangka panjang. Gangguan pendengaran sering nggak terasa di awal, tapi efeknya bisa ganggu fokus, komunikasi, bahkan masa depan akademik dan kerja. Turunin volume, kasih jeda, dan jangan anggap remeh kalau mulai sering bilang “hah?” dalam sehari. Telinga juga butuh istirahat.











