Ngabuburit dan Buka Puasa Ditemani Blood Moon! Fase Total Muncul Usai Magrib
astakom.com, Jakarta — Langit Indonesia bakal menghadirkan pemandangan langka pada Selasa (3/3/2026). Fenomena Gerhana Bulan Total atau yang populer disebut Blood Moon terjadi bertepatan dengan Ramadan, bahkan fase puncaknya hadir sesaat setelah waktu berbuka puasa.
Informasi ini disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa gerhana bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) Bumi.
Dalam kondisi tersebut, cahaya Matahari terhalang sepenuhnya, tetapi Bulan tidak benar-benar gelap. Ia justru tampak berwarna jingga hingga merah gelap akibat pembiasan cahaya oleh atmosfer Bumi.
“Gerhana bulan total ini dikenal juga dengan istilah Moonrise Eclipse, karena Bulan akan terbit dalam keadaan sudah berada di fase gerhana. Gerhana bulan total sesaat setelah berbuka menambah kekhidmatan ibadah puasa,” ujar Prof. Thomas.
Jam berapa terjadi?
Berdasarkan data BRIN:
- Gerhana bulan sebagian mulai pukul 16:50:00 WIB
- Fase total (Blood Moon) terjadi pukul 18:04:26 – 19:02:45 WIB
- Gerhana bulan sebagian berakhir pukul 20:17:10 WIB
Untuk wilayah WITA dan WIT, waktu pengamatan menyesuaikan zona masing-masing.
Wilayah Mana Saja Bisa Menyaksikan?
Fenomena ini dapat diamati di:
- Asia Timur & Asia Tenggara (Indonesia juga termasuk lho)
- Australia & Oseania
- Sekitar Samudra Pasifik
- Amerika Utara dan bagian barat Amerika Selatan
Dilansir dari unggahan Media Sosial BRIN pada Selasa, (3/3/2026) Gerhana bulan aman diamati tanpa alat bantu khusus. Masyarakat hanya perlu memastikan kondisi langit cerah dan menghadap ke arah timur saat Bulan terbit.
Kenapa disebut blood moon?
Warna merah pada Bulan muncul karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembiasan. Cahaya biru tersaring, sementara cahaya merah dibiaskan ke arah Bulan. Efek inilah yang membuat Bulan tampak dramatis dan kemerahan.
Secara astronomi, gerhana bulan total tidak terjadi setiap tahun dan tidak selalu bisa diamati dari wilayah yang sama. Karena itu, momen 3 Maret 2026 menjadi kesempatan istimewa bagi masyarakat Indonesia untuk menyaksikannya secara langsung.













