astakom.com, Jakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mastiin aktivitas pendidikan tinggi di wilayah terdampak bencana Sumatera sudah kembali normal setelah bencana yang terjadi di akhir 2025 lalu.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani menyampaikan bahwa secara umum perkuliahan di daerah terdampak banjir tetap bisa berjalan normal karena mayoritas kampus tidak berada di zona yang terkena dampak langsung.
Ia juga menegaskan pihaknya tetap memberi atensi serius kepada mahasiswa dan keluarga yang terdampak, terutama terkait pembiayaan dan keberlanjutan studi agar tetap aman dan berlanjut.
“Kami memastikan perguruan tinggi tidakhanya hadir pada tahap tanggap darurat, tetapi juga dalam fase pemulihan dan pencegahan,” ujar Najib, Rabu (25/2/2026).
Perguruan tinggi ikut pulihkan wilayah terdampak
Dirjen Saintek mengatakan pihaknya telah mengoordinasikan puluhan perguruan tinggi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, untuk terlibat dalam penanganan darurat, pembukaan posko layanan, hingga penguatan program riset kebencanaan sebagai bagian dari upaya pemulihan dan mitigasi jangka panjang.
Hingga akhir Desember, lanjut dia, Kemendiktisaintek mendirikan 28 kampus posko di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yang dikoordinasikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) XII (Aceh), LLDikti I (Sumatera Utara), dan LLDikti X (Sumatera Barat dan Jambi).
61 perguruan tinggi ikut dukung pemulihan
Adapun jumlah perguruan tinggi yang mendukung kegiatan ini adalah 61 perguruan tinggi dan terdapat 68 pusat layanan di lapangan, termasuk yang terkait layanan psikososial dan pendidikan darurat. Kemendiktisaintek juga telah mengirimkan 2.260 dokter, 1.267 tenaga kesehatan, dan 219 relawan.
“Dukungan pembiayaan bagi mahasiswa terdampak serta penguatan riset mitigasi bencana menjadi langkah berkelanjutan agar sistem pendidikan tinggi semakin tangguh menghadapi situasi serupa di masa mendatang,” ujar Ahmad Najib Burhani.

