Ramadan No Drama: Stok Pangan Melimpah, HET Dikawal Ketat!
astakom.com, Jakarta - Ramadan udah semakin dekat, pemerintah gaspol buat pastiin kondisi atau ketersediaan pangan 'aman' saat hari besar keagamaan bulan Ramadan dan Idul Fitri pada Februari dan Maret 2026.
Berdasarkan neraca pangan sampai April 2026, ada sembilan komoditas strategis dalam posisi surplus produksi. Diantaranya adalah beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Surplus produksi itu jadi bantalan kuat buat jaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen jelang Ramadan dan Idul Fitri. Makanya, semua pelaku usaha diminta supaya nggak menjual komoditas di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang udah ditetapkan pemerintah.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman bilang kalau produksi kita tinggi, dan stok juga banyak. Intinya kita nggak boleh ada main-main.Stok beras berlimpah
"Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga (belum swasembada) ini pun stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main," kata Amran Sulaiman, dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (16/2/2026).Amran memberi contoh pada stok beras nasional sekarang yang tembus sampai 3,4 juta ton. Angkat tertinggi sepanjang sejarah, bahkan dua kali lipat dari kondisi normal yang berkisar 1–1,5 juta ton.
Ditambah lagi pemerintah siapkan cadangan SPHP sebesar 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp 12.500 per kilogram sebagai instrumen stabilisasi.
Stok daging dan komoditas protein juga aman
Buat ketersediaan daging dan komoditas protein juga ada di level aman, bahkan sebagian udah masuk pasar ekspor."Tidak ada alasan beras naik. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Minyak goreng kita produsen terbesar dunia, stok pemerintah 700 ribu ton, harga maksimal Rp 15.700. Daging ayam Harga Acuan Pembeliannya Rp 40.000, daging sapi Rp 140.000," katanya.
Pada awal tahun 2026, BPS melaporkan potensi produksi yang masih menjanjikan. Pada periode Januari–Maret 2026, potensi produksi padi diperkirakan mencapai 17,65 juta ton GKG atau meningkat 2,41 juta ton GKG.
Pemerintah perketat pengawasan
Hal ini menunjukkan kenaikan 15,80 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Buat pastiin kebijakan harga berjalan efektif di lapangan, pemerintah lakukan pengawasan stok dan distribusi yang terus diperkuat lewat kolaborasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan. Supaya harga-harga dalam kondisi terjangkau bagi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri.
"Kalau ada yang mencoba menaikkan harga, pemerintah bersama Satgas Pangan akan menindak tegas. Pengawasan difokuskan pada sumber distribusi besar, bukan pedagang kecil. Yang diperiksa adalah pabrik, distributor utama, dan rantai pasok hulunya," ujarnya.
Gerakan pangan murah
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Isy Karim menegaskan pentingnya monitoring intensif di pasar. Dia meminta agar pemerintah daerah segera melaporkan apabila terjadi lonjakan harga yang tidak sejalan dengan kondisi stok."Kalau harga melonjak tapi stok cukup, tentu bisa diambil tindakan. Segera laporkan ke pusat agar bisa dilakukan suplai dari daerah lain atau melalui BUMN pangan, sehingga harga tidak bergejolak," kata Isy Karim, dalam kesempatan yang sama.
Dalam upaya menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan lewat intervensi langsung di pasar, pemerintah melaksanakan Gerakan Pangan Murah Serentak di seluruh Indonesia.
Gerakan itu dimulai dari hari Jumat (13/2/2026), langkah ini diambil sekaligus buat mastiin masyarakat bisa memperoleh pangan yang cukup, aman, dan terjangkau.









