Auto Cuan! Program MBG Bikin Peternak Ayam Petelur di Sumba Barat Daya NTT Kebanjiran Order
astakom.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) gagasan Presiden RI Prabowo Subianto membawa berkah buat banyak orang, baik buat penerima manfaat maupun pemasok, sebut aja kayak peternak lokal.
Bukti nyatanya berkah MBG ini dirasain langsung sama Benediktus Dalupe, peternak telur asal Desa Kadi Pada, Kecamatan Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum ada program MBG, Benediktus sering kesusahan buat jual telurnya. Dia biasanya memasok telur ke penjual retail, tapi penjualannya nggak stabil. Ditambah lagi pembayaran nggak pasti.Lewat program MBG nasib Benediktus berubah. Selama enam bulan terakhir, dia bisa memasok rata-rata 4.000 butir telur per hari ke dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tanamanda. Bahkan, kalau permintaannya lagi tinggi, dia sering ngerasa kewalahan untuk penuhi pesanan.
Seneng bisa berkontribusi
Benediktus juga seneng karena bukan cuma soal cuan yang nambah, tapi karena dia bisa ikut berkontribusi memenuhi kebutuhan protein anak-anak di NTT.Perlu diketahui, sebelum ada MBG, warga NTT dapet suplai telur dari luar NTT, terutama dari Jawa. Jelas, kualitasnya jadi nggak bisa terjaga karena prosesnya makan waktu dan perpindahan tempat.
"Nah, sekarang dengan adanya peternak lokal yang mengembangkan usaha peternakan ayam petelur ini, pertama jaminan nutrisinya terjamin. Tidak ada istilahnya telur busuk. Kemudian, dikonsumsi oleh penerima manfaat MBG juga tentu lebih baik. Artinya, jaminan telur fresh-nya betul-betul kita sediakan," kata Benediktus ditemui di peternakannya, dikutip oleh Astakom pada Kamis (12/2/2026).
Peternakannya baru bisa menyuplai ke satu SPPG
Benediktus yang punya 6.000 ekor ayam petelur baru bisa menyuplai telur ke satu SPPG secara reguler. Per pengiriman dia menyuplai sampe 25 ikat telur atau sekitar 3.600 butir. Pengirimannya dilakuin dalam 3 hari per minggu, yaitu pada hari Minggu, Selasa, dan Kamis."Peternakan ini saya kembangkan untuk mendukung ketahanan pangan yang menjadi program prioritas dari Presiden Prabowo," katanya.
Beberapa dapur MBG lain juga disebut-sebut pengen dapet pasokan telur dari peternakannya. Tapi, dia belum bisa penuhi permintaan itu karena keterbatasan modal dan karyawan.
"Dengan kondisi saat ini yang SPPG-nya belum banyak pun, kami sudah kewalahan untuk menyuplai. Apalagi nanti kalau SPPG-nya sudah jalan semua di satu Kabupaten Sumba Barat Daya ini," katanya.
Pengen ningkatin produksinya
Dia berharap nanti ke depannya bisa ningkatin lagi produksi telurnya. Harapannya supaya lebih banyak lagi memasok bahan buat kebutuhan protein anak-anak penerima MBG.Rencananya, dia pengen ningkatin populasi ayamnya sampe 20 ribu ekor. Sehingga dia berharap bisa ngehasilin sampe 18 ribu butir telur per hari. Artinya, dia bisa memasok atau mensuplai ke enam dapur MBG.
"Makanya kita juga membutuhkan kemudahan akses kredit. Apakah melalui bank-bank Himbara atau dari aspek pihak-pihak lembaga yang lain untuk membantu kita. Karena kita mengembangkan ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit," katanya.
Dongkrak ekonomi lokal
Benediktus berpendapat kalau program MBG ini juga memacu peternak lokal lain untuk memulai usaha ayam petelur. Jelas aja, hal ini jadi good news sebab sebelumnya telur banyak dipasok dari Jawa. Kayak yang dibilang sebelumnya, produk berpotensi jadi nggak seger karena berbagai faktor, terutama lamanya proses pengiriman.
"Jadi masyarakat selama ini memang membutuhkan telur segar, telur fresh. Dan itu yang belum didapatkan karena mereka mengonsumsi telur dari luar,” kata dia.
Banyaknya permintaan terhadap konsumsi telur terbukti ngasih efek berantai yang positif.
Multiplier effect
Sebut aja permintaan jagung yang merupakan pakan utama ayam juga ikut melonjak. It means petani jagung di sekitar kandang ayam punya market baru. Ini juga jadi lahan cipta kerja yang baru, karena berpotensi membuka lapangan kerja lokal dan menumbuhkan ekonomi desa."Kita dulu tidak pernah pesan jagung untuk kebutuhan pakan. Sekarang butuh jagung. Jadi, otomatis petani di sekitar juga merasakan dampak," kata Benediktus.









