Presiden Prabowo Sesalkan Alih Fungsi Situs Sejarah: Peninggalan Majapahit Jadi Pabrik
astakom.com, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menyoroti praktik alih fungsi situs bersejarah yang dinilai kian mengkhawatirkan. Dalam arahannya kepada kepala daerah, ia menyampaikan keprihatinan atas laporan sejumlah peninggalan Kerajaan Majapahit yang disebut telah berubah menjadi kawasan industri.
Peringatan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Ia menegaskan, pembangunan seharusnya tidak mengorbankan jejak sejarah bangsa.
Di hadapan para kepala daerah, Prabowo mengingatkan bahwa pengabaian terhadap warisan sejarah bukan hanya soal kehilangan artefak, tetapi juga berisiko mengikis identitas nasional dan ingatan kolektif bangsa.
Situs Majapahit disorot, daerah diminta lebih tanggap
Prabowo menyampaikan bahwa ia menerima laporan terkait sejumlah situs Majapahit yang tidak lagi berfungsi sebagai kawasan cagar budaya. Beberapa di antaranya bahkan disebut telah beralih menjadi pabrik, tanpa perlindungan yang memadai.
Ia menilai, pemerintah daerah memegang peran kunci dalam menjaga keberadaan situs-situs tersebut, mengingat kewenangan pengelolaan dan pengawasan berada di tingkat lokal.
“Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah. Mereka yang melupakan sejarah akan terbelit dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu,” ujar Prabowo.
Menurutnya, peninggalan sejarah bukan sekadar benda masa lalu, melainkan penanda perjalanan panjang bangsa Indonesia yang seharusnya dijaga lintas generasi.
Prasasti yang pernah ada, kini dipertanyakan keberadaannya
Dalam kesempatan itu, Prabowo turut membagikan pengalamannya melihat langsung peninggalan sejarah yang kini diduga telah hilang. Ia menyebut pernah menjumpai sebuah prasasti di kawasan kolam renang Manggarai pada akhir 1970-an.
“Saya masih melihat prasasti. Saya lihat satu prasasti tahun 1978, saya ulangi, tahun 1978, 28 tahun setelah kedaulatan kemerdekaan, masih ada prasasti di kolam renang Manggarai waktu itu. Sayang, mungkin sudah dibongkar,” ungkapnya.
Ia menilai, hilangnya prasasti dan artefak semacam itu mencerminkan lemahnya kesadaran terhadap pentingnya sejarah, meski Indonesia telah lama merdeka dan berdaulat penuh atas warisan budayanya.
Dari RRI Bung Tomo hingga kritik pembangunan jangka pendek
Selain peninggalan era Majapahit, Prabowo juga mempertanyakan keberadaan sejumlah situs penting lainnya, termasuk lokasi siaran Radio Republik Indonesia (RRI) yang digunakan Bung Tomo saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
“Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan oleh Bung Tomo waktu pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa yang sudah jadi pabrik,” kata Prabowo.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang berbagai generasi. Karena itu, menurut Prabowo, orientasi pembangunan jangka pendek tidak seharusnya menyingkirkan nilai-nilai sejarah yang telah membentuk bangsa.
“Semua telah menyumbangkan kontribusi terhadap kehadiran kita hari ini. Saya selalu mengajak apa pun perbedaan kita—berbeda suku, ras, agama, dan aliran pemikiran politik—kita adalah satu bagian, satu keluarga besar Indonesia,” pungkas Prabowo.
Pernyataan Prabowo tersebut menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian sejarah. Ia meminta pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan warisan sejarah tetap terjaga sebagai bagian dari identitas nasional.











