Gak Boleh Ada Anak yang ‘Buta’ Agama! Menag Nasaruddin Ungkap Strategi Perkuat Pendidikan Keagamaan Wilayah 3T
astakom.com, Jakarta - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam agenda Rakernas BMBPSDM di Jakarta pada Kamis (29/1/2026). Beliau menegaskan kalau negara gak boleh abai sama nasib pendidikan keagamaan anak-anak yang tinggal di area Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), demi menjaga fondasi karakter generasi muda agar tetap kokoh di tanah airnya sendiri.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas kondisi di lapangan yang menunjukkan kalau akses belajar agama di wilayah pelosok masih sangat terbatas. Penekanan Menag ini bertujuan agar ketahanan sosial masyarakat di perbatasan tetap on point dan nggak gampang goyah oleh pengaruh luar yang nggak stable.
Menag Nasaruddin Umar menyoroti masalah pelik soal kurangnya guru ngaji serta penyuluh di daerah terpencil yang seringkali bikin layanan pembinaan umat jadi nggak optimal.
Dalam arahannya, beliau menjelaskan kalau faktor utama berkurangnya tenaga pendidik ini adalah masalah kesejahteraan yang masih minim, sehingga banyak imam dan pembina agama yang kesulitan buat survive di lokasi pelosok.“Di sejumlah wilayah perbatasan dan daerah terpencil, keterbatasan tenaga pendidik keagamaan masih menjadi tantangan. Karena itu, kehadiran negara melalui layanan keagamaan yang merata menjadi sangat penting,” ujar Menag.
Dampaknya cukup nyata, mulai dari tantangan kemampuan baca tulis Al-Qur’an di tingkat akar rumput yang mulai menurun sampai fungsi pembinaan yang kurang berjalan.
Oleh karena itu, Menag menginstruksikan jajarannya buat segera nyusun kebijakan afirmatif yang lebih "berpihak" kepada para pejuang agama di wilayah 3T agar kehadiran negara bener-bener terasa manfaatnya sampai ke ujung Indonesia.
Revitalisasi KUA di Perbatasan, Bukan Sekadar Urusan Administrasi
Menteri Agama pengen Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di wilayah 3T naik level fungsinya menjadi pusat layanan yang lebih responsif dan care sama kebutuhan warga lokal.KUA nggak boleh cuma jadi tempat ngurus surat nikah atau administrasi formalitas aja, tapi harus jadi garda terdepan dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat setempat.
“KUA di daerah perbatasan harus kita perkuat agar mampu menjadi pusat layanan keagamaan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat,” tegasnya.
Dengan memperkokoh peran KUA, diharapkan masyarakat di daerah perbatasan dapet perlindungan dan bimbingan keagamaan yang lebih intensif biar vibe religiusitas di perbatasan tetep terjaga dengan baik.
Fokus Literasi Al-Qur’an, Fondasi Karakter Biar Gak Low-Vibe
Salah satu poin yang bikin Menag khawatir adalah soal kemampuan baca tulis Al-Qur'an anak-anak di pedesaan yang butuh perhatian serius.Beliau menegaskan kalau literasi kitab suci ini adalah fondasi paling dasar buat ngebangun karakter generasi Z dan generasi selanjutnya agar punya integritas tinggi.
Pendidikan agama yang kuat diharapkan bisa jadi "tameng" bagi anak-anak di perbatasan biar mereka tetep punya identitas nasional yang kuat dan nggak gampang terpengaruh tren yang merusak moral.
Sinergi Ketahanan Keluarga, Rahasia Lahirnya Generasi Tangguh
Nasaruddin Umar juga mengaitkan pentingnya pendidikan agama dengan keharmonisan dalam lingkungan keluarga.Menurut beliau, kalau pendidikan agama di wilayah 3T diperkuat dan didukung oleh keluarga yang harmonis, maka bakal lahir generasi yang bener-bener tangguh dalam menghadapi tantangan sosial yang makin kompleks.
Sinergi antara peran guru agama di luar dan peran orang tua di rumah adalah kunci utama buat nyetak anak muda yang nggak cuma pinter secara intelektual, tapi juga punya akhlak yang proper.
Support Total Buat Pejuang Agama di Pelosok
Sebagai langkah konkret dari Rakernas BMBPSDM 2026, Menag memerintahkan penyusunan aturan khusus yang bakal nambah support buat para penyuluh dan pendidik di daerah 3T.“Negara harus memastikan anak-anak di wilayah perbatasan dan daerah terpencil tetap mendapatkan akses pendidikan agama yang layak sebagai bagian dari hak dasar mereka,” pungkas Menag.
Kebijakan ini diharapkan bisa menjawab keresahan soal kesejahteraan tenaga pendidik keagamaan yang selama ini udah berjuang di garda terdepan.











