Indeks Literasi-Numerasi Siswa Rendah, Pakar Soroti Komponen dan Sistem Pendidikan di Indonesia
astakom.com, Jakarta — Permasalahan mengenai rendahnya indeks literasi dan numerasi siswa Indonesia terus menjadi perbincangan.
Melansir berita yang telah dimuat astakom.com, sebelumnya pengamat pendidikan menyebut pemerintah harus berani melakukan penelitian secara komprehensif mengenai permasalahan ini.
Salah satu pengamat pendidikan, Saprudin Padlil Syah, mengatakan terdapat kemungkinan ada faktor lain yang menyebabkan rendahnya indeks literasi dan numerasi siswa di Indonesia.
“Karena komponen pendidikan ada banyak ada siswa dan guru yang menjadi komponen inti. Lalu komponen penunjang ada lembaga, kurikulum, orang tua siswa, lingkungan, fasilitas, itu semua mempunyai pengaruh dalam keberhasilan sistem pendidikan,” ujar Saprudin dalam wawancara eksklusif dengan wartawan astakom.com, dua hari yang lalu (30/12/2025).
Saprudin juga menegaskan lembaga sekolah tak kalah penting memiliki pengaruh yang signifikan bagi pendidikan, khususnya kemampuan dan kompetensi siswa.
Sistem pendidikan yang berbasis kompetensi
Saprudin juga mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia yang baik adalah sistem pendidikan yang bersasis kompetensi. Ia mengatakan harus ada keselarasan antara kurikulum dan sistem belajar mengajar di sekolah.
“Para ahli sudah meramu dan memberikan kriteria kompetensi yang harus dimiliki siswa sesuai dengan umurnya, kurikulum yang ada sudah baik, tinggal di lapangan bagaimana menyesuaikan kurikulum dengan materi yang diberikan,” ujar Saprudin.
“Jangan sampai lembaga tidak menggunakan kurikulum tsb, artinya tidak sesuai dengan kriteria kompetensi tadi,” tambahnya.
Tantangan yang dihadapi sistem pendidikan Indonesia
Selain itu, Saprudin sebagai pakar pendidikan menyampaikan yang menjadi tantangan utama dalam sistem pendidikan di Indonesia ialah pola pikir.
Menurutnya, pola pikir seluruh komponen pendidikan di Indonesia haruslah diperhatikan dan seragam sesuai dengan tujuan mulia pendidikan di Indonesia.
“Harusnya pola pikirnya tujuan pendidikan adalah bagaimana setiap tingkatan anak mendapat potensi yang seharusnya ia dapatkan,” tuturnya.











