Nilai Literasi dan Numerasi Lemah, Pengamat Soroti Siswa ‘Schooling Without Learning’

Editor: Alfian Tegar
Jumat, 26 Desember 2025 | 19:41 WIB
Nilai Literasi dan Numerasi Lemah, Pengamat Soroti Siswa ‘Schooling Without Learning’

astakom.com, JakartaKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil rekapitulasi hasil tes kompetensi akademik (TKA) 2025.

Yang mengejutkan adalah Kemendikdasmen menyebut bahasa Inggris dan matematika menjadi mata pelajaran yang rata-rata nilainya paling rendah.

Rendahnya capaian nilai TKA SMA 2025 membuka kembali persoalan mendasar mutu pembelajaran di Indonesia, khususnya bidang literasi dan numerasi.

Salah satu pengamat pendidikan, Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan permasalahan ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya ialah kurangnya sinkronisasi antara kurikulum yang diajarkan di sekolah, berbeda dengan isi soal dalam TKA.

“Ini yang harusnya seperti yang saya bilang, perlunya ada sinkronisasi antara yang diajarkan dengan apa yang disoalkan kan begitu,” ujarnya melalui siaran langsung radio, Jumat (26/12/2025).

Permasalahan fondasional yang dialami siswa

Iman juga mengatakan bahwa penyebab permasalahan ini bisa berasal dari persoalan dasar siswanya itu sendiri. Ia menyebut permasalahan ini adalah permasalahan fondasional.

“Zaman sekarang ini kan banyak kejadian siswa yang belum belum memenuhi standar untuk naik kelas, tetap naik kelas, padahal fondasi dari siswanya itu sendiri belum kuat,” ujar Iman.

“Ini kan justru nggak perlu jauh-jauh, permasalahannya mendasar, kalau saya sebut ini merupakan permasalahan fondasional,” tambah Iman.

Permasalahan schooling without learning

Selain permasalahan dari siswanya, Iman mengatakan permasalahan lain berasal dari situasi belajar dan mengajar yang terjadi di sekolah.

Dalam proses belajar mengajar tersebut, siswa bersekolah hanya sebagai formalitas saja. Siswa datang ke sekolah untuk belajar tetapi dalam hal ini “tidak belajar”.

“Nah terakhir permasalahannya, banyak siswa ke sekolah itu schooling without learning, jadi mereka datang ke sekolah, mengikuti kegiatan belajar, tapi tuh materi gak masuk gitu ke siswanya,” ujarnya.

Dalam menutup perbincangan, Iman pun menegaskan perlunya kerja sama antara guru, orang tua siswa, dan masyarakat untuk bersama-sama memastikan siswa memahami apa yang sedang dan sudah diajarkan guru di sekolah, lalu penjagaan siswa ketika di rumah, dan pengawasan lingkungan siswa di masyarakatnya.

Gen Z Takeaway
Intinya, hasil TKA 2025 yang menunjukkan rendahnya nilai bahasa Inggris dan matematika jadi sinyal kuat ada masalah mendasar di pembelajaran, dari fondasi siswa yang belum kuat, kurikulum yang belum nyambung dengan tes, hingga praktik “schooling without learning”. Solusinya, pendidikan perlu dikerjain bareng guru, orang tua, dan lingkungan supaya belajar di sekolah benar-benar bermakna.

Guru Kemendikdasmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Kurikulum Pendidikan Literasi dan Numerasi Matematika Nilai Literasi Siswa Nilai Numerasi Siswa Tes Kemampuan Akademik TKA

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB