Kamu Perlu tahu! Berikut Identifikasi dan Akumulasi Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera
Reporter: Shintya
Astakom.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu merilis sebuah pernyataan resmi, mengenai cuaca ekstrem yang menerjang wilayah Indonesia.
Faktor ini harus diwaspadai lantaran disinyalir menjadi penyebab Indonesia mengalami bencana banjir dan longsor di Sumatera.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, terus melakukan pengawasan terkait curah hujan dan faktor yang memengaruhi bencana hidrometeorologi di wilayah terdampak.
“Perlu diwaspadai peningkatan intensitas hujan pada tanggal 11, 12, dan 16 Desember akibat pengaruh dari Bibit Siklon Tropis 91S. Tapi, mohon tetap tenang, waspada, dan menjaga kesiapsiagaan karena potensi bibit siklon ini tumbuh menjadi siBerklon tropis ke daratan dalam kategori rendah,” kata Faisal di Sibolga, dikutip dari laman BMKG pada Senin, (15/12/2025).
Ancaman siklon
Dalam ilmu kebumian, sebenarnya letak geografis Indonesia yang dilintasi garis katulistiwa seharusnya bisa membuat negara ini tenang dari ancaman sikon (pemicu angin kencang dan curah hujan tinggi).
Tapi, karena laut kita yang saat ini kondisinya tidak baik, akibat dari pemanasan global, dinamika atmosfer dan faktor alam lainnya, jadi siklon sangat mungkin menerjang kita.
Fenomena ini juga didukung dengan kejadian berurutan lainnya, yaitu karena cuaca pada bulan Desember yang ditandai dengan angin monsun atau muson barat.
Mengenal badai siklon
Siklon adalah sistem cuaca bertekanan rendah yang bisa memicu angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi.Biasanya terbentuk di atas laut hangat (seperti yang sedang laut Indonesia alami) dan, meski jarang langsung menghantam Indonesia, dampaknya tetap bisa terasa seperti cuaca ekstrem (curah hujan tinggi) dan potensi banjir.
Faktor kerusakan alam, yang tak selestari dulu
Penyebab dari banjir dan longsor ini sedikit banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia, terutama dalam alih fungsi lahan. Pembantaian alam secara liar dan penggundulan hutan membuat hutan yang seharusnya menjadi alat resapan air, menjadi tidak berfungsi secara optimal.
Akibatnya, daratan tidak memiliki resapan air yang baik, dan istilah mudahnya, hutan di daerah terdampak sudah tidak kuat menjadi alat resapan air.
Pakar Hidrologi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono juga menilai bahwa faktor alam saja tidak mungkin menyebabkan dampak yang sebesar ini.
“Jika hanya karena faktor cuaca ekstrim, (dampak) banjirnya tidak sejauh itu ya, tapi ini banjirnya kan sangat luar biasa,” katanya, dilansir dari laman resmi UGM, Senin (15/12). (shnty/aSP)











