89 Personel TNI AU Ikuti Pelatihan CH-4 Batch 2 di China, Perkuat SDM untuk Alutsista Masa Depan
astakom.com, Taizhou - TNI Angkatan Udara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna mengawaki alat utama pertahanan dan keamanan (alpalhankam) generasi baru. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan CH-4 Batch 2 yang resmi dimulai di Taizhou, China, pada Selasa (28/11/2025).
Sebanyak 89 personel TNI AU mengikuti program pengembangan kompetensi ini. Mereka berada di bawah komando Letkol Pnb Lucky Candra Yudistira dan Letkol Pnb Chaerul Dinata, S.A.P., yang memimpin langsung jalannya pelatihan. Program ini diselenggarakan oleh Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT) dan dijadwalkan berlangsung selama 10 minggu.
Selama pelatihan, para personel akan mendalami pengoperasian pesawat CH-4, termasuk sistem kendali, prosedur misi, serta pemahaman teknis yang dibutuhkan untuk mendukung kesiapan operasional TNI AU di masa depan.
Bekal ini diharapkan mampu meningkatkan ketepatan, kecepatan, dan efektivitas pelaksanaan tugas di lapangan.
Inisiatif peningkatan kompetensi ini selaras dengan agenda prioritas TNI AU, yang menjadikan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu fokus utama dari lima program prioritas.
Dengan semakin banyak personel yang terlatih pada platform alutsista modern, TNI AU mempertegas langkah transformasinya menuju angkatan udara yang tangguh, adaptif, dan sesuai tuntutan era pertahanan berbasis teknologi tinggi.
GenZ TakeAway Dari kacamata Gen Z, langkah TNI AU mengirim 89 personelnya ikut pelatihan CH-4 ini terasa on point banget buat masa depan pertahanan Indonesia. Di era ketika teknologi jadi ujung tombak, upgrade skill bukan cuma penting tapi wajib.
Gen Z cenderung ngelihat ini sebagai investasi jangka panjang: SDM yang melek teknologi negara yang lebih siap menghadapi ancaman modern. Plus, vibe-nya tuh jelas: kita nggak cuma beli alutsista canggih, tapi juga memastikan orang yang ngendalikan itu capable dan nggak ketinggalan zaman. Ini baru namanya strategi yang sustainable.













