Khutbah Jumat Istiqlal Perkuat Narasi Pidato Presiden Prabowo, Kemuliaan Guru Menghidupkan Cinta dalam Pendidikan

Editor: Alfian Tegar
Jumat, 28 November 2025 | 20:07 WIB
Khutbah Jumat Istiqlal Perkuat Narasi Pidato Presiden Prabowo, Kemuliaan Guru Menghidupkan Cinta dalam Pendidikan

astakom.com, JakartaKhutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, hari ini (28/11/2025) ramai dipadati oleh jamaah yang khusyuk. Khutbah diisi oleh Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT), dengan tema khutbah “Menanam Kasih dalam Pendidikan Umat.”

Khutbah tersebut mengajak kembali para umat Islam untuk meneguhkan kembali kedudukan seorang guru  pentingnya etika keilmuan, serta perlunya membangun orientasi pendidikan berbasis kasih sayang.

Dalam pembukaan khutbahnya, Prof. Tholabi menegaskan keutamaan ilmu sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Ia mengutip Q.s. al-Mujadalah ayat 11 untuk menekankan bahwa Allah meninggikan derajat orang berilmu.

Ilmu Merupakan Instrumen Peradaban

Menurut dia, ayat tersebut memberi penegasan bahwa ilmu adalah instrumen peradaban dan sarana penyucian jiwa. Dengan nada reflektif, ia mempertanyakan, “bagaimana ilmu itu diberikan serta melalui proses pengetahuan dapat mengangkat derajat manusia?”

Dari situ, ia mengajak jemaah menelaah mekanisme turunnya wahyu. Prof. Tholabi menjelaskan, sekalipun Allah Mahakuasa, wahyu tetap diturunkan melalui perantara, yakni Malaikat Jibril.

Ia merujuk Surah al-Syu‘ara ayat 193–194 untuk menunjukkan bahwa proses pengajaran, bukan pemberian instan, merupakan mekanisme ilahi. “Nabi saja menerima wahyu melalui pembimbing. Bagaimana mungkin manusia biasa mendapatkan ilmu tanpa guru?” ujarnya.

Guru Merupakan Jembatan Epistemologis

Guru, menurut Prof. Tholabi, adalah “jembatan epistemologis” yang memastikan kebenaran ilmu diteruskan secara benar dan beradab. Ia menegaskan bahwa peran guru dalam Islam bukan pelengkap, melainkan fondasi peradaban yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya ilmu.

Lebih jauh, ia menguraikan tiga prinsip pendidikan dalam wahyu pertama, Q.s. al-‘Alaq ayat 1–5: iqra’ sebagai dorongan belajar aktif, al-qalam sebagai simbol pengetahuan yang terdokumentasi, serta kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya tidak mengetahui apa-apa kecuali melalui proses belajar.

“Dengan tiga prinsip ini, Islam membangun kerangka pendidikan komprehensif yang melahirkan insan beradab dan rendah hati,” tuturnya.

Memasuki tema Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, Prof. Tholabi mengajak jemaah menjadikannya sebagai momen reflektif untuk memahami kembali kedudukan guru dalam konstruksi keilmuan Islam.

Ia menyampaikan tiga makna filosofis, yakni: guru sebagai perantara ilmu, guru sebagai fondasi peradaban, dan guru sebagai teladan pedagogis yang diwariskan dari sifat-sifat Malaikat Jibril, yakni amanah, lembut, dan penuh kasih.

“Penghormatan terhadap guru adalah bagian dari maqashid al-syari‘ah, yakni menjaga kehidupan ilmu,” ujarnya.

Tiga Wujud Cinta Sebagai Pilar Kurikulum

Dalam salah satu bagian terpenting khutbahnya, Prof. Tholabi menyoroti pentingnya merancang kurikulum pendidikan yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga menyentuh hati. Ia menegaskan bahwa kurikulum ideal dalam perspektif Islam harus menanamkan cinta. “Ilmu harus turun ke hati, bukan hanya ke kepala,” ujarnya.

Ia kemudian menyebut tiga wujud cinta sebagai pilar kurikulum, yakni: cinta kepada sesama manusia, cinta kepada alam, dan cinta kepada tanah air. Masing-masing pilar diperkuat dengan rujukan Al-Qur’an dan Hadis. Hubungan guru dan murid, katanya, tidak boleh dibangun atas dasar ketakutan, melainkan kasih sayang yang melahirkan komunikasi mendidik.

Tentang cinta lingkungan, ia menegaskan bahwa bumi adalah amanah ilahi dan harus dijaga sebagai bentuk etika spiritual. Adapun cinta tanah air, menurutnya, adalah ekspresi syukur dan bagian dari tanggung jawab sejarah.

“Tanah air dicintai bukan karena sempurna, tetapi karena ia adalah tempat kita menunaikan amanah peradaban,” lanjutnya sambil mengutip hadis Rasulullah Saw. tentang kecintaan beliau kepada Mekah.

Menutup khutbah, Prof. Tholabi mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai cinta dapat melahirkan kehancuran. Sebaliknya, ilmu yang dibingkai cinta kepada Allah, sesama, alam, dan bangsa merupakan jalan keselamatan bagi umat. Ia mengajak jemaah menjaga etika ilmu, meneguhkan penghormatan kepada guru, serta berkomitmen membangun pendidikan berkeadaban. (aLf/aSP)

Gen Z Takeaway

Dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie menegaskan bahwa guru adalah jembatan utama ilmu dan fondasi peradaban, sekaligus mengajak umat merayakan Hari Guru sebagai momen memperkuat etika keilmuan berbasis kasih sayang. Ia menekankan bahwa pendidikan ideal bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga menanamkan cinta—kepada sesama, alam, dan tanah air—karena ilmu tanpa cinta berisiko melahirkan kerusakan, sementara ilmu yang dibingkai kasih justru menjadi jalan keselamatan dan kemajuan umat.

Hari Guru Hari Guru Nasional 2025 Ilmu dalam Islam Instrumen Peradaban Kemuliaan Guru Khutbah Jumat Masjid Istiqlal Jakarta Presiden Prabowo Jembatan Epistemologis

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB