Densus 88 Beberkan Pola Rekruitment Jaringan Terorisme Pada Usia Gen Z: 110 Anak Sudah Tergabung
astakom.com, Jakarta - Penyelidikan terkait insiden ledakan SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta, terus dilakukan. Temuan terakhir mengungkapkan bahwa Pelaku ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, tergabung dalam grup True Crime Community atau Komunitas Kejahatan Nyata. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Eddy Hartono.
Juru Bicara Densus 88 antiteror polri, AKBP Mayndra Eka Wardana mengungkapkan Densus 88 mendeteksi adanya aktivitas perekrutan anak sebanyak lebih dari 110 anak yang dilakukan oleh jaringan terorisme. Sebanyak lima orang sudah diamankan dan menjadi tersangka.
“Densus 88 mendeteksi adanya trend baru di tahun 2025 ini terjadi rekrutmen yang kita ketahui angkanya lebih dari 110 orang bahkan lebih,” ujarnya.
Pola Rekruter Jaringan Terorisme
Mayndra juga mengungkapkan pola yang dilakukan rekruter dalam mencari korban untuk bergabung dalam jaringan radikalisme atau terorisme tersebut.
“Jadi untuk radikalisme ini sendiri mereka semacam menebar jaring. Misalnya ikan mana yang kena itu mereka tidak peduli, karena ini sistemnya random dan ditebarkan. Itu saja di beberapa zona-zona yang mungkin rentan di sana,” ungkap Mayndra.
“Ya rentannya seperti di game online. Nah disanalah terjadi interaksi. Kemudian anaknya digiring membuat sebuah medan pertempuran digitar disana. Mereka custom sendiri ala-ala ISIS di Suriah dan sebagainya,” tambahnya.
Simbol-simbol Terorisme dalam Game Online
Mayndra juga mengungkapkan bahwa melalui game online tersebut sudah banyak simbol-simbol terorisme. Simbol-simbol itu yang secara tidak langsung menyusupi ke psikologis anak-anak atau remaja.
Lalu kemudian korban di masukkan ke dalam grup yang terenkripsi dan memiliki panduan komunitasnya sendiri. Setelah itu, di dalam grup dikirimkan video-video dan berbagai konten yang aslinya sehingga membuat anak-anak menjadi familiar.(aLf/aSP)
Gen Z Takeaway
Penyelidikan ledakan SMAN 72 makin ngasih gambaran serius: pelakunya ternyata aktif di komunitas “True Crime Community” dan terhubung dengan pola rekrutmen teror yang mulai banyak menyasar anak lewat ruang digital. Densus 88 bilang sudah ada lebih dari 110 anak yang direkrut tahun ini, biasanya lewat game online yang disusupi simbol-simbol ekstrem dan interaksi terarah sampai akhirnya mereka digiring masuk grup terenkripsi berisi konten radikal. Intinya, tren baru ini nunjukkin gimana ruang hiburan digital bisa jadi pintu masuk radikalisasi kalau nggak diawasi.











