Kajian BRIN: 79 Persen Kawasan IKN Masih Non-Air

Editor: Alfian Tegar
Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:00 WIB
Kajian BRIN: 79 Persen Kawasan IKN Masih Non-Air
Istana Garuda dan kawasan perkantoran yang sedang dirampungkan Kementerian PU. (Dok. Humas Otorita Ibu Kota Nusantara)

astakom.com, Jakarta - Tengok potensi kekeringan IKN Nusantara di Kalimantan Timur. Kajian BRIN mengungkapkan bahwa 79 persen kawasan IKN masih non-air.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil kajian terbaru mengenai ketersediaan air di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Berdasarkan analisis data satelit, wilayah tersebut memiliki ketersediaan air tinggi (High Water/HW) sebesar 0,51 persen, air vegetasi (Vegetation Water/VW) 20,41 persen, dan non-air (Non Water/NW) 79,08 persen.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Laras Toersilawati, menjelaskan bahwa kajian dilakukan menggunakan data citra satelit Sentinel-2A sepanjang Januari hingga Desember 2022. Analisis dilakukan melalui platform Google Earth Engine (GEE).

Dalam kajian tersebut, peneliti menghitung tiga indeks spektral utama: Indeks Air Permukaan Tanah (LSWI), Indeks Perbedaan Vegetasi Ternormalisasi (NDVI), dan Indeks Perbedaan Air Ternormalisasi (NDWI).

Ketiga indeks ini menjadi dasar dalam model Artificial Neural Network (ANN) atau Jaringan Saraf Tiruan (JST).

“JST ini merupakan sistem pemrosesan informasi dengan karakteristik yang mirip jaringan saraf biologis di otak manusia. Awalnya dirancang sebagai alat pengenalan pola dan analisis data, dengan keunggulan dibanding metode statistik konvensional yang mengharuskan data berdistribusi normal,” kata Laras dikutip dari situs resmi BRIN, Senin (20/10/2025).

Laras menambahkan, penginderaan jauh digunakan untuk mendeteksi perubahan kadar air dalam tanah dan vegetasi melalui indeks inframerah dekat (NIR) 0,7–1,3 mikrometer serta SWIR.

Tiga metode citra satelit multi-band yaitu NDVI, NDWI, dan LSWI, digunakan untuk memperkirakan keberadaan badan air permukaan.

Resiko Jika Kekurangan Air

Menurut Laras, ketersediaan air yang tidak mencukupi dapat menimbulkan dampak besar bagi pembangunan IKN.

Perubahan iklim dan menurunnya curah hujan berpotensi mengurangi cadangan air tanah, sementara kualitas air bisa terpengaruh oleh tingginya kadar asam atau zat besi.

Selain itu, pertambahan penduduk akibat arus migrasi ke IKN diperkirakan akan menambah tekanan terhadap pasokan air bersih.

“Untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkaan air, pemerintah dapat membangun bendungan, sistem perpipaan baru, dan embung,” ujar Laras.

“Selain itu, penting membangun hutan kota, melakukan reboisasi, serta menanam pohon pengganti akibat alih fungsi lahan dari hutan industri eucalyptus menjadi kawasan terbangun.”

Ia juga menyarankan penerapan konsep Kota Spons (Sponge City) untuk mengelola air hujan agar dapat terserap kembali ke tanah dan dimanfaatkan ulang. Edukasi publik mengenai penghematan air dan kebersihan sumber air juga dianggap krusial.

Riset Empiris untuk Akurasi Data

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Prof. Dr. M. Rokhis Khomarudin, menilai bahwa kajian ketersediaan air di IKN masih perlu diperkuat melalui observasi lapangan.

“Sejauh ini, informasi ketersediaan air masih berbasis citra satelit dan belum didukung data lapangan,” ujarnya dalam siaran pers Otorita IKN, Senin (20/10/2025).

Rokhis bersama tim BRIN telah melakukan kunjungan lapangan ke IKN pada 15 Oktober 2025 untuk meninjau sejumlah infrastruktur pengairan.

Ia menilai, observasi langsung penting untuk memverifikasi kondisi sebenarnya di lapangan.

Dalam kunjungan tersebut, Rokhis mengapresiasi fungsi embung-embung di kawasan IKN yang tidak hanya berperan menampung air, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi lokal, seperti penanaman kopi liberika di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai.

“Danau ini menjadi penting bagi ekonomi hijau, karena di sekelilingnya sudah ditanami kopi liberika. Saya juga mendengar sudah ada 54 embung yang dibangun di IKN, yang nantinya akan memenuhi kebutuhan air baku masyarakat Nusantara,” kata Rokhis.(aLf)

Gen Z Takeaway

Hasil riset BRIN soal potensi kekeringan di IKN jadi alarm serius buat masa depan kota baru itu. Bayangin, 79% wilayahnya masih tergolong non-air, artinya pasokan air alami masih minim banget. Di tengah ambisi bangun kota hijau dan modern, tantangan dasarnya justru soal air bersih. Pemerintah perlu gerak cepat lewat solusi kayak bendungan, embung, dan konsep Sponge City biar air hujan bisa dimanfaatkan ulang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN Daerah Aliran Sungai Ibu Kota Nusantara (IKN) IKN Kalimantan Timur Prof. Dr. M. Rokhis Khomarudin Pusat Riset Geoinformatika

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB