Apa Itu La Nina? Fenomena Alam yang Diprediksi BMKG Sambut Nataru 2025
astakom.com, Jakarta — Menjelang akhir tahun 2025, Indonesia bersiap menghadapi fenomena alam yang disebut La Nina, yakni sebuah gejala pendinginan suhu laut di Samudra Pasifik yang sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena La Nina akan muncul di Indonesia pada akhir tahun 2025, bertepatan dengan momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, dan bertahan hingga awal tahun 2026.
Meski diprediksi muncul dengan intensitas lemah, namun fenomena El Nina tetap harus diwaspadai lantaran berpotensi memicu cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Tanah Air.
Hal tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dimana ia menyebut bahwa La Nina bukan sekadar perubahan cuaca biasa biasa, melainkan fenomena iklim global yang bisa berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
“BMKG memprediksi La Nina akan terjadi pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 dengan intensitas lemah (potensi 50-70%). Meski tergolong lemah, dampaknya tetap signifikan,” ujar Guswanto, dikutip astakom.com, Jumat (17/10/2025).
Apa Itu La Nina?
Dilansir dari laman resmi BMKG, La Nina merupakan kondisi ketika Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dari normal, menyebabkan pembentukan awan meningkat di wilayah Indonesia.Pendinginan laut ini membuat angin pasat bertiup lebih kuat ke barat, sehingga massa udara lembap menumpuk di kawasan Asia Tenggara. Hasilnya, musim hujan berpotensi datang lebih cepat dan intensitasnya meningkat drastis, lebih tinggi dari yang seharusnya.
“Fenomena ini meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum,” kata Guswanto.
“Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di wilayah dengan sistem drainase yang kurang optimal,” imbuhnya.
BMKG mencatat bahwa Jakarta menjadi salah satu kota yang paling rentan. Kombinasi antara curah hujan tinggi, kondisi tanah rendah, serta sistem drainase yang belum maksimal dapat memperbesar risiko banjir saat La Nina aktif.
“Jakarta termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap banjir saat La Nina terjadi. Beberapa faktor pemicunya adalah curah hujan tinggi, drainase kota yang belum optimal, serta permukaan tanah yang rendah dan dekat laut,” jelas Guswanto.
Puncak Hujan Diprediksi Desember 2025 – Januari 2026
BMKG memperkirakan, musim hujan periode 2025/2026 tidak akan datang serentak di seluruh Indonesia karena perbedaan Zona Musim (ZOM) di tiap wilayah.Awal musim hujan diprediksi terjadi di Sumatera dan Kalimantan pada Agustus 2025, sementara puncaknya akan berlangsung pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
Wilayah yang berpotensi mengalami puncak hujan antara lain, Jawa bagian barat dan tengah, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemudian sebagian besar Sulawesi bagian selatan, serta beberapa wilayah di Papua.
BMKG juga menyoroti bahwa kombinasi La Nina lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif bisa memperkuat curah hujan di wilayah-wilayah tersebut.
“Kondisi iklim global seperti La Nina lemah dan IOD negatif bisa memperkuat intensitas hujan di beberapa wilayah. Karena itu, kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” tambahnya.
Dampak La Nina yang Perlu Diwaspadai
Fenomena La Nina tidak hanya berdampak pada lingkungan dan infrastruktur karena bencana hidrometeorologi yang menyertainya, tetapi juga pada kesehatan masyarakat.BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit yang kerap muncul di musim hujan, seperti flu, demam berdarah, diare, ISPA, chikungunya, dan penyakit kulit akibat kelembapan tinggi.
Selain itu, peningkatan curah hujan bisa menyebabkan gagal panen di sektor pertanian, kerusakan jalan dan jembatan, serta gangguan transportasi darat maupun udara. Oleh karena itu, pemerintah daerah diimbau memperkuat sistem mitigasi dan mempercepat penanganan darurat bencana.
BMKG menegaskan, bahwa La Nina kali ini diperkirakan tidak sekuat episode-episode sebelumnya. Namun, masyarakat tetap diminta tidak lengah. Kesiapsiagaan terhadap curah hujan ekstrem, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025, menjadi kunci agar aktivitas masyarakat tetap berjalan aman.
Fenomena La Nina memang bagian dari siklus alam, tetapi dampaknya bisa dikelola dengan kesiapan. Dari memperkuat drainase kota, menjaga lingkungan bebas sampah, hingga meningkatkan edukasi publik soal bencana hidrometeorologi.
“Kami berharap masyarakat dapat tetap waspada, namun tidak panik. Pemerintah dan BMKG akan terus melakukan pemantauan serta memberikan peringatan dini cuaca ekstrem di berbagai daerah,” tutup Guswanto.
Gen Z Takeaway
Siap-siap ya, akhir tahun ini Indonesia bakal “disiram” hujan ekstra gara-gara La Nina! Fenomena ini bikin suhu laut di Pasifik jadi lebih dingin, terus efeknya curah hujan di Indonesia naik, bahkan bisa sampai hujan nonstop di beberapa wilayah.BMKG bilang, meskipun La Nina kali ini cuma “level lemah”, tapi dampaknya tetap bisa bikin banjir, longsor, dan gangguan transportasi, terutama pas libur Natal & Tahun Baru 2025 nanti.











