Penulis Buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” Meninggal Dunia

Editor: Alfian Tegar
Jumat, 17 Oktober 2025 | 14:28 WIB
Penulis Buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” Meninggal Dunia
Penulis Korea Selatan Baek Se-hee (duduk) menandatangani buku-bukunya di Singapore Writers Festival (SWF) 2024. (Foto: MOONRISE STUDIO)

astakom.com, Jakarta - Baek Se-hee, penulis memoar laris I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki dikabarkan meninggal dunia pada usia 35 tahun.

Menurut keterangan Korea Organ Donation Agency, Baek menyelamatkan lima nyawa melalui donasi organ. Lembaga tersebut menyebutkan pada Kamis (17/10) bahwa ia mendonasikan jantung, paru-paru, hati, serta kedua ginjalnya.

Hingga kini, penyebab pasti kematian Baek belum diungkapkan.

Dalam pernyataan resmi keluarga, adik Baek menyampaikan, “(Baek) ingin menulis, berbagi isi hatinya melalui karya, dan menumbuhkan harapan bagi banyak orang. Dengan sifatnya yang lembut dan jauh dari kebencian, kami berharap kini ia dapat beristirahat dengan tenang.”

Karyanya Mengubah cara Pandang Kesehatan Mental

Baek mulai dikenal luas sejak menerbitkan buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” pada tahun 2018. Buku tersebut, yang merupakan perpaduan antara esai dan panduan pengembangan diri, menuturkan secara jujur perjuangannya menghadapi depresi, tepatnya gangguan depresi persisten atau dysthymia, serta pengalaman terapi bersama psikiaternya.

Karya tersebut mendapat sambutan luas berkat kejujurannya dalam membahas kesehatan mental dan usahanya mematahkan stigma seputar isu tersebut di Korea Selatan.

Menurut pihak penerbit, dua seri buku karya Baek telah terjual sekitar 600.000 eksemplar di Korea, dan lebih dari 1 juta kopi di seluruh dunia, setelah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa, termasuk Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Belgia, dan Polandia. Di Inggris saja, buku itu terjual sebanyak 100.000 eksemplar dalam enam bulan sejak peluncurannya.

Warisan Literasi dan Pesan Kemanusiaan

Dalam wawancara sebelumnya dengan The Korea Herald, Baek pernah mengatakan, “Terlepas dari perbedaan bahasa dan budaya, aku menyadari bahwa rasa sakit di hati manusia adalah hal yang universal. Aku masih terharu mengetahui kisahku bisa menyentuh hati orang lain, sekaligus sadar bahwa banyak orang menyimpan luka batin yang dalam, dan butuh keberanian besar hanya untuk berkata, ‘Aku tidak baik-baik saja.’”

Selain buku terkenalnya, Baek juga berkolaborasi dengan penulis lain dalam karya seperti “No One Will Ever Love You as Much as I Do” (2021) dan “I Want to Write, I Don’t Want to Write” (2022). Ia aktif berinteraksi dengan pembaca lewat berbagai diskusi dan seminar. Pada Juni lalu, Baek merilis karya fiksi pertamanya berjudul “A Will from Barcelona.” (aLv)

Gen Z Takeaway
Kepergian Baek Se-hee bikin banyak orang sadar kalau ngomongin soal mental health itu bukan tanda lemah, tapi justru bentuk keberanian. Ia ninggalin warisan yang lebih dari sekadar buku, sebuah ruang aman buat siapa pun yang pernah ngerasa “nggak baik-baik aja.” Di era serba cepat dan penuh tekanan kayak sekarang, pesan Baek tetap relevan: nggak apa-apa buat jujur sama diri sendiri, selama kita nggak berhenti berusaha nyembuhin luka pelan-pelan.

Baek Se Hee I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki Kematian Baek Sehee Kesehatan Mental Korea Selatan Tteokbokki

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB