Modernisasi Logistik Militer: TNI AD Adopsi Sistem Pengelolaan Pangan dari Singapura

Editor: Alfian Tegar
Senin, 13 Oktober 2025 | 19:28 WIB
Modernisasi Logistik Militer: TNI AD Adopsi Sistem Pengelolaan Pangan dari Singapura
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana (Foto: Liputan 6)

Dalam upaya meningkatkan kualitas program Menuju Binter Go Green, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melakukan langkah strategis dengan mempelajari sistem manajemen makanan dan logistik militer yang diterapkan oleh Angkatan Darat Singapura (Singapore Army). Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama bilateral di bidang pertahanan yang menekankan pentingnya efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan dalam pengelolaan kebutuhan pangan pasukan.

Kepala Dinas Pembinaan Potensi Dirgantara Angkatan Darat, Brigjen TNI Wawan Erawan, menjelaskan bahwa kunjungan dan studi lapangan ke Singapura bertujuan untuk memahami bagaimana negara tersebut mampu mengatur sistem logistik militer secara modern dan terintegrasi, terutama dalam hal penyediaan makanan yang bergizi dan higienis bagi prajurit di berbagai kondisi operasi. “Kita ingin belajar bagaimana sistem dapur militer mereka mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasukan di lapangan tanpa mengurangi standar gizi,” ujar Brigjen Wawan di Markas Besar TNI AD, Jakarta.

Peningkatan Standar Logistik dan Gizi Prajurit

Program Menuju Binter Go Green sendiri merupakan salah satu inisiatif TNI AD untuk mendorong kemandirian pangan, efisiensi sumber daya, dan pengelolaan logistik yang ramah lingkungan. Salah satu fokus utama dari program ini adalah penyediaan makanan sehat, bergizi, dan berkelanjutan bagi seluruh prajurit.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi TNI AD meninjau berbagai fasilitas dapur militer di beberapa kamp pelatihan Angkatan Darat Singapura, termasuk sistem field kitchen yang dirancang dengan teknologi mutakhir dan mudah dioperasikan di berbagai medan. Sistem ini memungkinkan penyajian makanan dengan kandungan gizi yang terukur dan waktu distribusi yang cepat, bahkan dalam kondisi darurat atau operasi militer jarak jauh.

“Singapura memiliki sistem distribusi makanan militer yang efisien dan berbasis data. Mereka mengintegrasikan teknologi informasi dalam rantai pasok logistik, mulai dari penyimpanan bahan makanan hingga pengawasan asupan kalori prajurit. Ini menjadi contoh yang sangat baik untuk kita adaptasi,” ujar Wawan menambahkan.

Kerja Sama Bilateral dan Transfer Pengetahuan

Langkah TNI AD ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura di sektor pertahanan. Melalui program Military Food Management Exchange, kedua negara bersepakat untuk saling berbagi pengalaman dan inovasi dalam pengelolaan dapur militer modern.

Dari pihak Singapura, kunjungan ini disambut oleh Colonel Lim Wei Jian, Kepala Divisi Logistik Singapore Army, yang menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi ini. “Kami senang dapat berbagi pengalaman dalam membangun sistem logistik yang tangguh dan efisien. Kesehatan dan gizi tentara adalah kunci keberhasilan setiap misi,” ujar Lim.

Kegiatan ini juga menjadi forum pertukaran ide tentang pengembangan teknologi dapur militer ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik perhatian delegasi Indonesia adalah penggunaan sistem waste-to-energy yang mengubah limbah organik menjadi sumber energi untuk memasak di lapangan.

Implementasi di Dalam Negeri

Usai kunjungan tersebut, TNI AD berencana untuk mengintegrasikan konsep yang dipelajari ke dalam sistem logistik domestik, terutama di satuan-satuan yang terlibat dalam operasi di daerah perbatasan dan terpencil. Pusat Pembinaan Jasmani dan Dinas Kesehatan TNI AD akan dilibatkan dalam penyusunan pedoman gizi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan energi prajurit di berbagai kondisi operasi.

Selain itu, TNI AD juga akan menggandeng lembaga riset pangan nasional dan sejumlah perguruan tinggi negeri untuk melakukan uji coba penerapan sistem pengelolaan makanan militer yang lebih efisien dan berbasis bahan lokal. Tujuannya agar prajurit tetap memperoleh asupan gizi yang seimbang tanpa bergantung pada pasokan impor.

“Kita ingin membangun sistem logistik pangan militer yang mandiri, modern, dan ramah lingkungan. Dengan belajar dari negara lain, kita dapat mempercepat transformasi manajemen logistik di tubuh TNI AD,” tegas Brigjen Wawan.

Dukungan dari Kementerian Pertahanan

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menyambut positif langkah TNI AD ini. Dalam pernyataannya, Juru Bicara Kemhan, Dahnil Anzar Simanjuntak, menilai bahwa upaya modernisasi sistem makanan militer merupakan bagian penting dari reformasi pertahanan non-alutsista. “Pertahanan tidak hanya bicara senjata atau strategi tempur, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik dan kesejahteraan prajurit. Asupan gizi adalah fondasi dari kekuatan tempur,” ujar Dahnil.

Langkah Menuju Ketahanan Logistik Nasional

Kolaborasi ini menjadi cerminan bahwa TNI AD berkomitmen untuk terus berinovasi dan membuka diri terhadap praktik terbaik dari luar negeri. Dengan mengadopsi manajemen logistik yang terukur, efisien, dan berkelanjutan, TNI AD diharapkan dapat memperkuat ketahanan logistik nasional yang menjadi pilar penting bagi keamanan negara.

“Transformasi logistik bukan hanya soal efisiensi, tapi tentang menjaga kesiapan dan ketahanan pasukan. Apa yang kita pelajari dari Singapura akan menjadi fondasi untuk sistem yang lebih modern di masa depan,” tutup Wawan.

angkatan darat singapura Tentara Nasional Indonesia tni ad

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB