Staf PBB Tewas dalam Tahanan Houthi: Guterres Kecam Keras Yaman!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 08:26 WIB
Staf PBB Tewas dalam Tahanan Houthi: Guterres Kecam Keras Yaman!
Staf PBB Tewas dalam Tahanan Houthi: Guterres Kecam Keras Yaman!  [Timpres/Paulina]

astakom.com, Jakarta – Dunia internasional lagi-lagi dihebohkan sama kabar duka yang bikin elus dada. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, secara tegas ngeluarin kecaman keras setelah dapet kabar kalau salah satu stafnya tewas waktu masih meringkuk di jeruji besi kelompok Houthi, Yaman.

PBB berduka kembali

Lewat ungkapan di akun X pribadinya pada Sabtu, (31/10/2026), Guterres spill rasa kaget dan syok beratnya atas kepergian Mohammed Ibrahim al-Shami. Almarhum sendiri merupakan salah satu punggawa handal yang mendedikasikan dirinya di Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR).

Al-Shami ternyata sudah disekap secara semena-mena sama pihak Houthi sejak 6 Juni 2024 lalu. Guterres juga ngebongkar fakta kalau al-Shami adalah pegawai PBB kedua yang harus meregang nyawa di dalam tahanan kelompok tersebut.

"Saya tetap sangat prihatin terhadap keselamatan dan kesejahteraan personel PBB, mantan staf PBB, serta personel organisasi kemanusiaan dan masyarakat sipil yang masih ditahan," tutur Guterres, dilansir dari Anadolu, Senin, (2/11/2026).

Tragedi berulang di Yaman

Sebelum tragedi ini kejadian, insiden serupa juga pernah menimpa Ahmed Ba'alawi. Staf lokal Program Pangan Dunia (WFP) itu dikabarkan mangkat pada 11 Februari 2025 usai diciduk otoritas setempat di Yaman bagian utara sejak 23 Januari 2025.

Awal mula konflik

Negeri Saba alias Yaman sebenarnya udah terjebak dalam pusaran konflik akut sejak tahun 2014 silam. Semua bermula waktu pasukan Houthi sukses ngerebut kendali ibu kota Sanaa dari tangan pemerintah yang sah.

Situasi makin pelik pas koalisi militer yang dikomandoi sama Arab Saudi mutusin buat turun tangan pada Maret 2015 demi membackup pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Buntut dari perang urat saraf dan senjata yang nggak ada matinya ini sukses bikin Yaman jadi saksi salah satu krisis kemanusiaan paling parah di muka bumi. Alhasil, jutaan warga lokal sekarang cuma bisa pasrah dan 100% bergantung sama uluran bantuan kemanusiaan buat sekadar bertahan hidup sehari-hari.

Bahaya misi kemanusiaan

Insiden parah yang bertubi-tubi nimpa para pekerja PBB ini jelas nimbulin alarm bahaya buat misi kemanusiaan global. Banyak pihak, termasuk para gatekeeper diplomasi internasional, mulai mempertanyakan jaminan perlindungan bagi mereka yang tulus mengabdi di zona konflik.

Hilangnya nyawa para frontline workers kayak al-Shami dan Ba'alawi buktiin kalau risiko lapangan tuh nggak main-main. Kalau dibiarin terus, dikhawatirkan bakal makin banyak nyawa tak berdosa yang jadi korban lalimnya situasi politik di sana.

Kondisi di Yaman saat ini bener-bener bikin miris siapa pun yang dengar. Di tengah gempuran krisis pangan dan blokade politik yang nggak berkesudahan, keselamatan para human workers justru makin terancam di balik jeruji besi.

Banyak pihak berharap tekanan global dari PBB bisa jadi wake-up call buat pihak-pihak berkonflik supaya lebih mindful dan segera ngebebasin sisa tahanan lainnya sebelum jatuh korban jiwa berikutnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Berita ini jadi reminder pahit kalau para pejuang kemanusiaan di garis depan punya risiko kerja yang sangat dipertaruhkan demi bantu sesama. Nyawa pekerja sosial yang gugur di zona konflik membuktikan kalau isu keamanan global belum sepenuhnya aman, dan desakan publik internasional emang krusial banget buat nyuarain keadilan serta perlindungan hak asasi manusia.

PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa Sekjen PBB Antonio Guterres Kelompok Houthi Yaman

Infografis

Terkini