Riset Ulama Perempuan dan Pesantren Indonesia Bikin Peneliti 6 Negara Terpana!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 04:04 WIB
Riset Ulama Perempuan dan Pesantren Indonesia Bikin Peneliti 6 Negara Terpana!
Riset Ulama Perempuan dan Pesantren Indonesia Bikin Peneliti 6 Negara Terpana! [Kemenag]

astakom.com, Jakarta – Ekosistem keilmuan ulama perempuan dan tradisi pesantren di Nusantara sukses mencuri perhatian dunia global. Akademisi, peneliti, dosen, hingga mahasiswa lintas negara resmi berkumpul dalam agenda International Short Course 2026: Learning Islam Through Women Ulama, Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia yang menyajikan insight mendalam soal peran ulama perempuan.

Kegiatan yang berjalan selama delapan hari pada 2–9 November 2026 di Jakarta dan Cirebon ini dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Program akademik internasional ini merupakan hasil collaboration apik antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta, serta lembaga riset global Peace Research Institute Oslo (PRIO) Norwegia.

Titik temu tradisi & kemanusiaan

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keynote speech-nya menekankan kalau gelaran kursus singkat internasional ini membuka ruang bagi komunitas akademik dunia buat melihat langsung bagaimana ajaran Islam di Indonesia tumbuh secara dinamis dan menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan.

"Indonesia merupakan laboratorium hidup bagi perkembangan Islam. Di sini, ajaran Islam terus dikaji, dipraktikkan, dan dikembangkan melalui interaksi antara keilmuan agama, budaya lokal, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai-nilai demokrasi. Islam tidak hanya hidup dalam perdebatan teks klasik, tetapi mewujud di tengah pesantren dan keseharian masyarakat," tutur Menag Nasaruddin Umar, Senin (02/11/2026).

Laboratorium hidup

Menag menjelaskan, pesantren adalah institusi pendidikan khas Indonesia yang semenjak masa perjuangan kemerdekaan sampai saat ini berfungsi sebagai ekosistem keilmuan Islam, pembentukan karakter, kepemimpinan komunitas, dan transformasi sosial. Sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, dan jaringan ulama perempuan atas program ini membuktikan kalau kampus keagamaan terkoneksi langsung dengan kebutuhan masyarakat.

"Kolaborasi yang mengajak peserta merasakan langsung kehidupan Islam di Indonesia melalui pesantren, jejaring ulama perempuan, dan komunitas lokal ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukanlah menara gading yang terisolasi dari masyarakat," sambung Menag.

Keterlibatan peneliti

Ketua LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga sebagai Ketua Panitia Pelaksana, Amelia Fauzia menyatakan kalau kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta terpilih, terdiri atas 14 perempuan dan 4 laki-laki yang mewakili 6 negara, yakni Aljazair, Maroko, Pakistan, Gambia, Filipina, dan Indonesia. Adapun peserta dari dalam negeri berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, serta kader PKUMI Masjid Istiqlal.

Amelia menjelaskan, selama delapan hari penerapan, para peserta bakal mengikuti kuliah akademik, diskusi interaktif, lokakarya, sampai pembelajaran lapangan (field trip) yang dipandu oleh 13 narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pegiat keadilan gender. Program ini juga bersinergi dengan proyek riset internasional Religious Gender Justice yang dipimpin oleh Associate Professor Kaja Borchgrevink dari PRIO Oslo di empat negara.

Blusukan ke pesantren

"Melalui kursus singkat ini, kami mengajak peserta mengkaji bagaimana pengetahuan Islam diproduksi, ditafsirkan, dan diterjemahkan ke dalam aksi sosial. Kita mempelajari bagaimana ulama perempuan berkontribusi dalam keadilan gender, otoritas keagamaan, bina damai (peacebuilding), tanggung jawab pelestarian lingkungan, dan transformasi sosial," ucap Amelia.

Selain join sesi akademik di Jakarta, para peserta dan peneliti internasional juga dijadwalkan melaksanakan kunjungan lapangan ke Cirebon buat belajar langsung dari para ulama perempuan dan komunitas pesantren, salah satunya menginap dan mengikuti aktivitas pendidikan di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon.

"Memahami pengetahuan keagamaan membutuhkan perhatian pada teks dan tradisi, sekaligus melihat bagaimana teks tersebut ditafsirkan dan dipraktikkan di tengah komunitas. Karena itu, tinggal di pesantren dan belajar langsung dari masyarakat di sana menjadi bagian penting dari program ini agar melahirkan pemahaman mendalam serta kolaborasi keilmuan ke depan," ungkap Amelia.

Selaras dengan hal tersebut, Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif menyatakan kalau program kerjasama antara LP2M UIN Jakarta, UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon beserta bermacam partner buat digagas buat menyediakan pertukaran ide soal pelembagaan fungsi perempuan di ruang publik keagamaan.

"Para peserta dari berbagai negara dapat melihat langsung bagaimana masyarakat Muslim tradisional dan pesantren di Indonesia merawat serta mengajarkan tradisi keilmuan klasik, sembari menjalankan komitmen yang kuat terhadap kesetaraan akses dan keadilan sosial dalam memahami Islam," tutup Ali Munhanif. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Jujur, keren banget sih saat tahu kalau sistem pendidikan pesantren dan kiprah keren ulama perempuan kita sampai bikin peneliti dari enam negara bela-belain dateng buat nge-riset langsung. Ini bukti nyata kalau Islam di Indonesia itu adem, inklusif, dan jalan seirama sama kemanusiaan, bukan cuma teori di dalam kelas doang.

Pesantren Kemenag kemenag update Kementerian Agama

Infografis

Terkini