Jelang Nataru 2026/2027, Kemenhub Perketat Perhatian pada Aspek Keselamatan

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 10:31 WIB
Jelang Nataru 2026/2027, Kemenhub Perketat Perhatian pada Aspek Keselamatan
Jelang Nataru 2026/2027, Kemenhub Perketat Perhatian pada Aspek Keselamatan [astakom/Jasa Marga]

astakom.com, Jakarta – Keselamatan perjalanan menjadi salah satu hal yang tidak boleh luput dari persiapan transportasi menjelang libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengingatkan seluruh operator dan pemangku kepentingan agar tidak hanya mengejar kelancaran perjalanan maupun ketersediaan armada, tetapi juga memastikan setiap layanan transportasi memenuhi aspek keselamatan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas dalam penyelenggaraan Angkutan Nataru 2026/2027. Pesan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Penyelenggaraan Angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 di Kantor Kemenhub, Jakarta, pada Senin (02/11/2026).

Menurut Dudy, persiapan transportasi akhir tahun membutuhkan perhatian menyeluruh, bukan sekadar memastikan kendaraan atau armada tersedia. Kondisi prasarana, kesiapan awak dan petugas, pengendalian kepadatan, hingga kemampuan menghadapi situasi darurat juga menjadi bagian yang menentukan keselamatan perjalanan.

"Natal dan Tahun Baru adalah waktu yang berarti bagi banyak keluarga. Mereka memercayakan keselamatan perjalanannya kepada kita. Kepercayaan itu harus dijawab dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan angkutan Nataru," ujar Dudy.

6 aspek keselamatan yang menjadi perhatian Kemenhub

Dalam rapat koordinasi tersebut, Kemenhub menyoroti enam faktor yang perlu dipastikan oleh operator dan seluruh pihak terkait agar penyelenggaraan Angkutan Nataru berjalan aman.

Pertama, kelayakan armada dan prasarana transportasi. Seluruh sarana yang digunakan harus dipastikan memenuhi persyaratan keselamatan dan laik beroperasi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemeriksaan atau ramp checksebelum armada melayani masyarakat.

Kedua, kondisi awak dan petugas transportasi. Kesiapan sumber daya manusia juga tidak kalah penting karena setiap petugas harus berada dalam kondisi sehat serta memiliki kompetensi sesuai tanggung jawabnya.

Ketiga, kemampuan mengantisipasi kapasitas angkutan dan kepadatan perjalanan. Operator perlu memperhitungkan kebutuhan berdasarkan data serta situasi di lapangan agar potensi penumpukan penumpang dapat diantisipasi.

Keempat, pemanfaatan informasi cuaca dan kondisi lintasan dalam menentukan keputusan operasional. Hal ini menjadi perhatian khusus untuk menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem maupun perjalanan di wilayah yang berpotensi mengalami bencana.

Kelima, kesiapan menghadapi keadaan darurat. Operator perlu memastikan langkah penanganan tersedia apabila terjadi gangguan atau kondisi yang membutuhkan respons cepat.

Keenam, kualitas pelayanan kepada pengguna transportasi. Kemenhub menekankan pentingnya layanan yang tertib, transparan, dan manusiawi, termasuk memastikan informasi perjalanan serta fasilitas tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dudy juga mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah hanya karena penyelenggaraan Nataru merupakan agenda rutin setiap tahun. Menurutnya, persoalan kecil yang berkaitan dengan keselamatan tetap harus segera ditangani, termasuk rambu yang tertutup, peralatan keselamatan yang tidak berfungsi, maupun informasi yang terlambat disampaikan.

"Kita membutuhkan keselamatan dan keamanan, sinergi dan kolaborasi, perhatian terhadap detail, serta kesiapan menghadapi ketidakpastian. Rutinitas tahunan tidak boleh membuat kita lengah. Rambu yang tertutup, alat keselamatan yang tidak berfungsi, atau informasi yang terlambat harus segera diperbaiki," ucap Dudy.

Kemenhub antisipasi cuaca ekstrem dan jalur rawan bencana

Selain kesiapan armada dan petugas, kondisi cuaca juga menjadi perhatian dalam persiapan Angkutan Nataru. Kemenhub memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta pengelola prasarana untuk mengantisipasi potensi gangguan perjalanan.

Sejumlah langkah yang disiapkan mencakup pemetaan titik rawan banjir dan longsor, antisipasi gelombang tinggi serta angin kencang, penyediaan jalur alternatif, hingga penyiapan sarana dan petugas di wilayah yang berpotensi terdampak.

Kemenhub juga menjadikan pelaksanaan Nataru sebelumnya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan tahun ini. Beberapa hal yang menjadi perhatian meliputi peningkatan layanan mudik gratis, penambahan sarana transportasi pada lintasan penyeberangan padat seperti Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk, pengaturan lalu lintas serta penyeberangan, hingga penambahan fasilitas umum di simpul transportasi yang ramai.

Menhub turut meminta setiap pimpinan operator menyusun rencana operasi yang mencakup kesiapan armada dan awak, pengendalian risiko, penanganan kepadatan, serta prosedur kedaruratan. Sementara itu, jajaran Kemenhub diminta menjalankan pengawasan secara konsisten, menindaklanjuti setiap temuan, dan menangani pelanggaran keselamatan sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.

Posko terpadu Nataru disiapkan mulai 18 Desember

Untuk mendukung pemantauan dan koordinasi selama masa angkutan akhir tahun, Kemenhub merencanakan Posko Terpadu Angkutan Nataru 2026/2027 pada 18 Desember 2026 hingga 6 Januari 2027.

Posko tersebut direncanakan beroperasi selama 20 hari dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Keberadaannya akan menjadi pusat pemantauan kondisi transportasi secara terpadu, sehingga potensi gangguan perjalanan bisa diketahui lebih awal dan ditangani dengan cepat.

Dudy meminta seluruh pihak yang terlibat memperkuat kerja sama dan menjalankan tanggung jawab masing-masing selama penyelenggaraan Nataru. Ia menegaskan bahwa keberhasilan angkutan akhir tahun tidak cukup diukur dari kelancaran perjalanan, tetapi juga dari keselamatan masyarakat dan mutu pelayanan yang diterima sejak keberangkatan hingga kembali ke rumah.

"Keberhasilan Nataru, kita ukur dari keselamatan masyarakat dan mutu pelayanan yang masyarakat rasakan sejak berangkat hingga kembali ke rumah. Di balik setiap tiket terdapat seseorang yang ditunggu keluarganya. Itulah tanggung jawab yang kita emban bersama," ujar Dudy.

Dengan berbagai persiapan tersebut, Kemenhub menempatkan keselamatan sebagai perhatian utama dalam menghadapi mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru. Kesiapan armada, petugas, prasarana, hingga antisipasi kondisi darurat menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar perjalanan masyarakat tetap aman selama periode Nataru 2026/2027. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Libur akhir tahun bukan cuma soal perjalanan yang lancar atau tiket yang sudah di tangan. Ada banyak aspek keselamatan yang perlu dipastikan sebelum masyarakat berangkat, mulai dari kondisi armada, kesiapan awak, informasi cuaca, hingga penanganan keadaan darurat. Karena itu, persiapan Angkutan Nataru perlu dilakukan secara menyeluruh agar masyarakat bisa menikmati perjalanan Natal dan Tahun Baru dengan lebih aman dan nyaman.

Nataru Nataru 2026/2027 Libur Nataru Jelang Nataru 2026/2027 kemenhub Keselamatan transportasi Keselamatan Transportasi Darat

Infografis

Terkini