Penentu Kabinet Israel: Partai Arab Mampu Tumbangkan Netanyahu?
astakom.com, Jakarta – Dinamika politik global kembali menjadi sorotan tajam publik internasional menyusul hasil pemilihan umum Israel yang tidak menghasilkan mayoritas tunggal bagi petahana Benjamin Netanyahu. Di tengah krisis kemanusiaan dan eskalasi konflik berkepanjangan di Jalur Gaza, hasil pemilu kali ini memunculkan secercah harapan baru yang menyita perhatian dunia.
Posisi tawar Partai Arab dengan perolehan 19 kursi kini menjelma menjadi faktor penentu yang krusial dalam peta koalisi pembentukan pemerintahan baru. Publik tentu mendesak agar arah politik pasca-pemilu ini tidak lagi berfokus pada pendekatan militer semata, melainkan membuka ruang dialog demi mewujudkan stabilitas kawasan yang selama ini dirindukan oleh masyarakat global.
Deadlock suara Israel
"Sebenarnya ada posisi Partai Arab yang cukup signifikan, ya 19, yang bisa menentukan koalisi ke depan, Harapannya Partai Arab bisa menentukan posisinya ya, untuk bisa bergabung dengan partai oposisi sehingga penyelesaian dari Gaza akan lebih damai," tutur Yon Machmudi selaku Pengamat Politik Timur Tengah dalam sambungan telepon kepada wartawan astakom pada Sabtu, (31/10/2026).
Hasil rekapitulasi suara pemilu Israel menunjukkan kondisi politik yang cukup lowkey namun menegangkan, di mana tidak ada satupun blok yang langsung mendominasi secara mutlak. Perolehan suara koalisi pendukung Netanyahu mengalami penurunan signifikan, sementara kubu oposisi juga gagal mengungguli secara telak dengan perbandingan suara ketat di angka 53 berbanding 48 kursi.
Padahal, syarat mutlak untuk membentuk pemerintahan mayoritas stabil di parlemen memerlukan sedikitnya 65 kursi. Kondisi deadlock ini memaksa Presiden Israel untuk segera menunjuk figur perdana menteri dalam kurun waktu dua minggu ke depan, memicu spekulasi liar apakah akan lahir koalisi moderat atau justru pemerintahan sayap kanan yang kian menguat.
"Dari suara Netanyahu kan juga mengalami penurunan... Kemudian kelompok oposisi juga tidak bisa mengungguli ya dari partai yang berkuasa sekarang. Perbandingannya kan 53-48. Sementara untuk bisa berkuasa itu kan sekitar perlu 65 kursi mayoritas." ungkap Yon Machmudi.
Partai Arab penentu
Di tengah jalan buntu politik tersebut, kehadiran faksi Partai Arab menjadi kartu truf yang sangat diperhitungkan oleh berbagai lini. Meskipun kubu oposisi dipimpin oleh figur berhaluan kanan seperti Gadi Eisenkot yang merupakan mantan Menteri Pertahanan sekaligus rival politik Netanyahu kehadiran elemen partai tengah di dalam koalisi berpotensi melunakkan garis kebijakan pemerintah. Gadi Eisenkot dinilai memiliki sudut pandang yang lebih terbuka dan tidak sepenuhnya sejalan dengan gaya kepemimpinan militeristik Netanyahu.
Peluang oposisi moderat
Jika faksi Partai Arab cerdas membaca momentum ini untuk merapat ke kubu oposisi, jalan menuju pemerintahan yang lebih moderat dan inklusif bukan lagi sekadar angan-angan kosong.
"Kalau dia yang berkuasa, saya bilang ya potensinya akan lebih kuat ya ke arah pendekatan yang lebih ke tengah, tetapi memang agak rinci juga ya koalisinya karena tadi itu campuran antara tengah, kanan, dan juga partai-partai Arab." jelas Yon Machmudi.
Secercah asa Palestina
Lengsernya rezim petahanan diprediksi membawa angin segar bagi peluang perdamaian jangka panjang serta membuka kembali celah diskursus kemerdekaan Palestina yang selama ini ditutup rapat oleh pemerintahan Netanyahu. Pakar politik menilai bahwa penurunan pengaruh politik Netanyahu tidak hanya melemahkan daya gedor militer sepihak, tetapi juga berpotensi menyeret sang petahana keluar dari tampuk kekuasaan sekaligus meringankan tekanan hukum terkait kasus korupsi yang melilitnya.
Lebih dari itu, sinergi antara oposisi moderat, faksi Partai Arab, serta dinamika politik internasional termasuk konstelasi kebijakan Amerika Serikat diharapkan mampu mengembalikan momentum penerapan solusi dua negara (two-state solution) demi mengakhiri penderitaan warga sipil di Gaza.
"Tentu dengan faksi kanan oposisi berkuasa, ditambah partai Arab, potensi untuk mendengar suara publik internasional itu lebih mudah dan kemungkinan untuk kemerdekaan Palestina lebih memiliki peluang, dibandingkan dengan Netanyahu yang memang menutup adanya negara Palestina." jelas Yon Machmudi. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Plot twist politik Israel! Netanyahu kehabisan dominasi dan 19 kursi Partai Arab mendadak jadi kingmaker. Kalau Partai Arab gabung ke kubu oposisi, era kepemimpinan militeristik Netanyahu bisa runtuh—membuka jalan baru buat dialog damai dan kemerdekaan Palestina yang selama ini ketutup rapat.









