Menelusuri Sejarah Taman Ismail Marzuki, dari Pusat Kesenian hingga Ruang Literasi
astakom.com, Jakarta – Taman Ismail Marzuki (TIM) bukan sekadar tempat untuk menikmati pertunjukan seni, pameran, atau membaca buku. Kawasan yang berada di Cikini, Jakarta Pusat, ini menyimpan perjalanan sejarah panjang sebelum berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas seni dan literasi di ibu kota.
Menghimpun informasi dari sejumlah sumber resmi yang dikutip pada Minggu 01/11/2026), astakom.com merangkum bahwa TIM diresmikan pada 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Pembangunannya berangkat dari gagasan menghadirkan pusat kesenian terpadu agar para seniman memiliki ruang untuk berkarya, mengembangkan kreativitas, dan memperkenalkan hasil karyanya kepada masyarakat.
Seiring perkembangannya, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan pertunjukan dan pameran. TIM juga dilengkapi fasilitas pendidikan dan literasi, termasuk Perpustakaan Jakarta serta Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang menyimpan berbagai koleksi kesusastraan Indonesia.
Berawal dari kawasan Taman Raden Saleh
Sebelum dikenal sebagai pusat kesenian, kawasan yang sekarang ditempati TIM memiliki sejarah berbeda. Berdasarkan catatan sejarah kebudayaan, area tersebut dahulu berkaitan dengan bekas kediaman pelukis Raden Saleh yang kemudian digunakan sebagai Kebun Binatang Cikini.
Kawasan itu juga dikenal sebagai Taman Raden Saleh dan menjadi salah satu ruang rekreasi masyarakat Jakarta. Setelah kebun binatang dipindahkan ke Ragunan, kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi.
Lahan yang sebelumnya berkaitan dengan aktivitas rekreasi itu kemudian dikembangkan menjadi pusat kegiatan seni dan kebudayaan. Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang terpadu bagi para seniman di tengah perkembangan Jakarta sebagai ibu kota.
Digagas Ali Sadikin untuk mewadahi kreativitas seniman
Sosok penting di balik pendirian Taman Ismail Marzuki adalah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977. Gagasan pembangunan pusat kesenian tersebut muncul dari kebutuhan Jakarta terhadap fasilitas dan infrastruktur kebudayaan yang mampu mendukung kehidupan seni.
Dalam catatan sejarah Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Ali Sadikin memandang kehidupan seni dan pendidikan kesenian sebagai bagian penting dari perkembangan sebuah kota. Pemikirannya kemudian bertemu dengan gagasan sejumlah seniman senior Indonesia yang menginginkan adanya wadah kesenian terpusat.
Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki akhirnya diresmikan pada 10 November 1968. Kehadirannya membuka ruang bagi berbagai kegiatan seni, mulai dari musik, tari, teater, seni rupa, film, hingga sastra.
Pada 26 Juni 1970, Ali Sadikin juga mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di kompleks TIM. Lembaga pendidikan tersebut kemudian berkembang menjadi Institut Kesenian Jakarta pada 1980.
Mengapa menggunakan nama Ismail Marzuki?
Nama Taman Ismail Marzuki dipilih untuk menghormati komponis Indonesia asal Betawi, Ismail Marzuki. Sosoknya dikenal melalui karya-karya musik yang turut mewarnai perjalanan seni dan sejarah Indonesia.
Beberapa lagu ciptaannya yang dikenal masyarakat antara lain Halo-Halo Bandung, Berkibarlah Benderaku, dan Sepasang Mata Bola. Karya-karya tersebut memperlihatkan kontribusinya dalam perkembangan musik Indonesia.
Penggunaan namanya pada pusat kesenian ini menjadi bentuk penghargaan terhadap kiprah Ismail Marzuki. Selain mengenang sosok komponis tersebut, penamaan itu juga memperkuat identitas TIM sebagai ruang yang menaungi perkembangan seni dan kebudayaan.
Berkembang menjadi ruang seni dan literasi
Perjalanan Taman Ismail Marzuki tidak berhenti sebagai pusat pertunjukan. Kawasan ini terus dikembangkan dengan berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas seni, pendidikan, dan literasi masyarakat.
Salah satu fasilitas yang kini berada di dalam kompleks TIM adalah Perpustakaan Jakarta. Berdasarkan informasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, fasilitas ini menyediakan berbagai layanan bagi masyarakat, mulai dari ruang baca, koleksi buku, hingga kegiatan literasi dan edukasi.
Selain itu, terdapat Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang menjadi tempat penyimpanan berbagai arsip dan koleksi kesusastraan Indonesia.
Pusat dokumentasi tersebut memiliki perjalanan tersendiri. Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Koleksinya kemudian dipindahkan ke TIM dan diresmikan oleh Ali Sadikin pada 30 Mei 1977.
Setelah kawasan TIM menjalani revitalisasi sejak 2019, fasilitas Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin hadir dalam gedung yang diperbarui. Penggunaan gedung tersebut diresmikan pada 7 Juli 2022.
Kini, Taman Ismail Marzuki menjadi salah satu ruang kebudayaan di Jakarta yang mempertemukan berbagai aktivitas seni, pendidikan, dan literasi dalam satu kawasan. Perjalanannya dari kawasan Taman Raden Saleh hingga berkembang menjadi pusat kesenian menunjukkan bagaimana sebuah ruang kota dapat terus bertransformasi sekaligus mempertahankan perannya dalam kehidupan budaya masyarakat. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Jadi, Taman Ismail Marzuki punya cerita yang lebih panjang dari sekadar tempat menonton pertunjukan atau mencari buku bacaan. Kawasan ini memiliki sejarah yang berawal dari Taman Raden Saleh sebelum dikembangkan menjadi pusat kesenian oleh Ali Sadikin pada 1968. Sekarang, masyarakat bisa menemukan beragam aktivitas dalam satu kawasan, mulai dari pertunjukan seni, pameran, membaca buku di Perpustakaan Jakarta, hingga mengenal arsip sastra di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.









