The Fed Tahan Bunga 3,75-4%, Investor Kini Menanti Keputusan Desember

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:29 WIB
The Fed Tahan Bunga 3,75-4%, Investor Kini Menanti Keputusan Desember
The Fed Tahan Bunga 3,75-4%, Investor Kini Menanti Keputusan Desember [The Fed]

astakom.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), resmi memutuskan buat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75-4 persen pada Rabu (28/10/2026) waktu setempat. Hasil dari keputusan ini sebenernya udah diantisipasi sama para pelaku pasar di tengah kondisi inflasi yang masih tergolong lumayan tinggi, sembari semua pihak menantikan rilis data ekonomi terbaru.

Keputusan itu diambil lewat pemungutan suara yang cukup ketat, yakni 10 berbanding 2. Keputusan ini juga dibersamai dengan penilaian yang makin positif terhadap lanskap ekonomi AS secara umum.

Pihak The Fed menilai kalau perekonomian saat ini melaju dengan ritme yang terbilang kuat, meskipun di sisi lain kemajuan inflasi buat benar-benar menyentuh target 2 persen masih terasa lambat.

Inflasi masih jadi tantangan

Ketua The Fed, Kevin Warsh bilang kalau, laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2026 diperkirakan menunjukkan kuatnya investasi dan belanja konsumen, serta percepatan pertumbuhan dibandingkan paruh pertama tahun ini.

Hasilnya justru nunjukkin kalau ekonomi AS belum tumbuh secepat itu kok, sampe memicu inflasi dari sisi permintaan.

"Ekonomi bergerak ke arah yang benar. Apakah ekonomi tumbuh terlalu panas atau terlalu kuat? Itu bukan penilaian sebagian besar kolega saya," kata Warsh dalam konferensi pers dikutip dari Reuters, pada Kamis (29/10/2026).

Strategi The Fed tekan inflasi

Selanjutnya, Warsh juga yakin kalau angka inflasi dapat ditekan menuju target 2 persen tanpa harus menghambat pertumbuhan ekonomi atau meningkatkan pengangguran.

Dia menilai perubahan produktivitas, termasuk yang telah berlangsung sebelum maraknya kecerdasan buatan (AI), berpotensi meningkatkan ekonomi AS lebih cepat tanpa memicu kenaikan harga yang berlebihan.

Arah kebijakan suku bunga yang relatif tinggi ini sudah mulai menunjukkan taringnya dalam memperketat kondisi kredit. Situasi tersebut dinilai berpotensi memperlambat investasi bisnis dan menekan belanja rumah tangga berpendapatan tinggi, sehingga membantu meredam inflasi secara bertahap.

Ada potensi suku bunga naik lagi?

Meski begitu pernyataan kebijakan terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan kalau kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan. Sejumlah pejabat The Fed mengkhawatirkan permintaan yang didorong investasi AI dan belanja konsumen yang kuat mulai memberikan tekanan terhadap harga.

"Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen secara tepat waktu," tertulis sebagai pernyataan FOMC.

Dinamika internal dan menghadapi pemilu paruh waktu AS

Dinamika internal di tubuh bank sentral ini juga menyajikan drama tersendiri. Dua pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dengan keputusan tersebut. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Bagi Cook, ini menjadi kali pertama dia menyatakan perbedaan pendapat dalam keputusan kebijakan moneter bank sentral.

Dengan segala dinamikan yang terjadi ini, para pelaku pasar tidak mau kalah agile dan masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya, yakni 8-9 Desember 2026. Angka inflasi AS yang masih bertengger sekitar satu persen di atas target bank sentral menjadi salah satu pemicu utama ekspektasi tersebut.

Di luar urusan angka moneter, dinamika ini kian panas karena isu inflasi dan biaya hidup juga menjadi perhatian utama menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di level 3,75–4% meski inflasi AS masih belum sepenuhnya jinak. Keputusan ini mencerminkan keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat tanpa perlu buru-buru menaikkan bunga. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap terbuka, terutama jika tekanan inflasi dari investasi AI dan belanja konsumen terus meningkat. Jadi, pasar masih perlu bersiap menghadapi arah kebijakan moneter AS yang cukup dinamis.

The Fed The Federal Reserve kevin warsh Inflasi AS

Infografis

Terkini