Diplomasi Presiden Prabowo ke AS Berbuah Manis, Investasi Baterai Rp8 Triliun Masuk Batam

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 30 Oktober 2026 | 13:04 WIB
Diplomasi Presiden Prabowo ke AS Berbuah Manis, Investasi Baterai Rp8 Triliun Masuk Batam
Diplomasi Presiden Prabowo ke AS Berbuah Manis, Investasi Baterai Rp8 Triliun Masuk Batam! (Dok. Kemenperin)

astakom.com, Jakarta - Langkah diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat (AS) terbukti bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa dampak konkret bagi pertumbuhan industri nasional.

Salah satu buktinya adalah realisasi kerja sama investasi industri baterai dan teknologi energi terbarukan di Batam, dengan target nilai investasi tahap awal mencapai USD 500 juta atau sekitar Rp8 triliun.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menilai pencapaian ini menjadi sinyal positif dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya pada sektor perdagangan, investasi, dan pengembangan manufaktur modern.

"Ini adalah tindak lanjut dari kunjungan Bapak Presiden ke Amerika Serikat. Kita membuktikan bahwa kunjungan Presiden (Prabowo) ke luar negeri menghasilkan langkah-langkah produktif. Selain mempererat hubungan antarnegara, kunjungan tersebut juga membawa misi ekonomi untuk mengundang investor, menumbuhkan industri, dan menciptakan lapangan kerja di Indonesia," kata Sarmuji di Jakarta, dikutip Kamis (29/10/2026).

Ekosistem baterai makin proper

Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut langsung dari komitmen investasi yang sebelumnya telah ditandatangani di Washington, D.C., pada 18 Februari 2026 dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo. 

Proyek tahap awal Tynergy ini bakal berlokasi di Wiraraja Industrial Park I, Batam, untuk memproduksi baterai dengan cakupan aplikasi yang beragam, mulai dari kendaraan listrik (EV), pusat data (data center), hingga sistem penyimpanan energi berbasis energi baru terbarukan (EBT).

"Alhamdulillah, hari ini kita menyaksikan penandatanganan kerja sama antara perusahaan Indonesia yang diwakili Wiraraja Group dan perusahaan Amerika Serikat untuk memproduksi produk yang sangat penting bagi Indonesia. Kita memang sangat konsisten dalam membangun dan memperkuat ekosistem industri baterai nasional," kata Sarmuji.

Indonesia menarik di mata investor

Sarmuji menambahkan, masuknya modal asing di sektor bernilai tambah tinggi ini mempertegas bahwa Indonesia masih menjadi destinasi yang menarik bagi para investor global.

"Selama ini kita sudah fokus mengembangkan industri baterai. Namun, pemanfaatannya sangat beragam, mulai dari mobil listrik, data center, hingga energi baru terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya. Kehadiran investasi ini akan semakin memperkuat kedalaman industri kita," katanya.

"Ini merupakan bukti bahwa investor masih sangat tertarik terhadap Indonesia. Apalagi pemerintah memiliki komitmen yang kuat dan konsisten dalam mengembangkan ekosistem baterai. Tentu investasi seperti ini kita sambut dengan sangat baik," lanjut Sarmuji.

Guna memastikan project raksasa ini berjalan tanpa effort berlebih di hambatan birokrasi, Kementerian Perindustrian berjanji memberikan pengawalan penuh.

"Kementerian Perindustrian akan mendukung setiap langkah pengusaha dan pelaku industri dalam mengembangkan kerja sama di Indonesia. Apabila terdapat kendala dalam proses investasi, kami siap membantu mengurai hambatan tersebut agar investasi dapat berjalan lancar," tegasnya.

Pabrik siap beroperasi penuh di 2027

Dari sisi dunia usaha, Presiden Direktur PT Wiraraja Bintang Persada Akhmad Ma'ruf Maulana menegaskan bahwa kemitraan ini adalah buah nyata dari keseriusan pemerintah dalam menggaet investor kelas dunia.

"Ini merupakan wujud nyata dari perjalanan Bapak Presiden ke Washington, D.C., yang akhirnya mulai direalisasikan di Batam," kata Ma'ruf.

Fasilitas produksi di Batam saat ini sudah memasuki tahap akhir penyelesaian. Diperkirakan pada kuartal pertama tahun depan, infrastruktur fisik tersebut siap beroperasi penuh dan menerima arus investasi lanjutan.

"Pabriknya sebenarnya sudah selesai dan saat ini masih dalam tahap finishing. Insya Allah sekitar April tahun depan fasilitas tersebut sudah dapat dikunjungi. Kami juga akan mengundang Bapak Menteri untuk melihat langsung industri yang telah kami bangun," kata dia.

Membuka peluang ke sektor strategis lainnya

Sementara itu, Presiden Direktur PT Tynergy Technology Group Yan Purba ngespill kalau proyek ini baru masuk babak pembuka. Kolaborasi yang melibatkan Essence Global Indonesia dan Energy Tech Indonesia ini diproyeksikan bakal merambah ke sektor teknologi strategis lainnya.

"Ini merupakan tahap awal untuk mengembangkan produk-produk energi terbarukan, baterai, serta teknologi yang mendukung kebutuhan data center. Mudah-mudahan kerja sama ini dapat berlanjut ke tahap kedua dan ketiga, termasuk untuk pengembangan industri semikonduktor," kata Presdir Yan.

Langkah strategis ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi transformasi Indonesia sebagai pemain utama rantai pasok teknologi dan energi hijau global. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Diplomasi ekonomi Presiden Prabowo ke Amerika Serikat mulai membuahkan hasil konkret. Kerja sama investasi senilai USD 500 juta atau sekitar Rp8 triliun di Batam bakal memperkuat ekosistem industri baterai nasional, mulai dari kebutuhan kendaraan listrik, data center, hingga energi terbarukan. Pabrik yang dibangun bersama perusahaan AS ini ditargetkan siap beroperasi penuh pada April 2027. Menariknya, kolaborasi ini juga berpotensi berkembang ke industri semikonduktor, sehingga peluang Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok teknologi global makin terbuka.

Presiden Prabowo Diplomasi industri EV investasi baterai Industri Baterai Menperin Sarmuji EBT Baterai EV

Infografis

Terkini