Kemenbud Siapkan Pemulihan Warisan Budaya Pascabencana di 3 Provinsi Sumatera
astakom.com, Jakarta – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menyiapkan pemulihan lanjutan terhadap ekosistem budaya yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rencana penanganan ini mencakup perbaikan rumah maestro, penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno, revitalisasi museum, hingga rehabilitasi fasilitas kebudayaan yang terdampak.
Melansir dari keterangan resmi Kemenbud yang diterima astakom.com pada Jumat, (23/10/2026), persiapan pemulihan tersebut tidak hanya menyasar bangunan dan benda bersejarah, tetapi juga ruang yang mendukung keberlangsungan tradisi masyarakat. Pemerintah turut merencanakan inventarisasi dan kajian terhadap warisan budaya yang terdampak sebagai bagian dari upaya pelindungan di wilayah bencana.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan bahwa perencanaan anggaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan dan mempertimbangkan mitigasi risiko. Selain memulihkan objek yang terdampak, kementerian juga mendorong kesiapsiagaan di fasilitas kebudayaan agar perlindungan terhadap warisan budaya dapat dilakukan secara lebih terarah.
Aceh siapkan perbaikan 112 rumah maestro dan penyelamatan manuskrip
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati, menjelaskan bahwa rencana pemulihan di Aceh mencakup berbagai objek dan fasilitas kebudayaan yang tersebar di sekitar 18 kabupaten/kota. Penanganannya meliputi perbaikan rumah maestro, rehabilitasi sarana kebudayaan, serta penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno.
“Persiapan pemulihan di Aceh mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari perbaikan rumah maestro dan rehabilitasi sarana kebudayaan hingga penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno. Perencanaan ini disusun untuk mendukung keberlanjutan warisan budaya serta mengembalikan fungsi ruang dan fasilitas kebudayaan bagi masyarakat,” jelasnya.
Dalam perencanaan tersebut, sebanyak 112 rumah maestro masuk dalam sasaran perbaikan. Sejumlah tradisi yang tercakup antara lain Saman, Canang Ceureukeh dan Rapai Uroh, serta Rapa’i Bandar Khalifah.
Pemulihan fisik juga direncanakan untuk sarana dan prasarana pacuan kuda tradisional serta Rumah Peradaban Gayo di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Sementara itu, terdapat 314 objek cagar budaya (CB) dan objek diduga cagar budaya (ODCB) terdampak bencana yang masuk dalam rencana penanganan di 18 kabupaten/kota.
Pada sektor museum, persiapan revitalisasi menyasar Museum Kota Langsa dan Museum Nurul ‘Ala di Kabupaten Aceh Timur, dengan kegiatan berupa pengkajian koleksi, konservasi, dan penataan ulang tata pameran.
Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan penyelamatan sekitar 557 manuskrip kuno Aceh. Tahapannya mencakup penyelamatan, pembersihan fisik, konservasi, digitalisasi, hingga pengembalian naskah terdampak. Inventarisasi dan kajian terhadap cagar budaya, objek diduga cagar budaya, serta warisan budaya takbenda (WBTB) juga direncanakan di wilayah tersebut.
Sumatera Barat dan Sumatra Utara turut masuk rencana pemulihan
Di Sumatera Barat, rencana penanganan difokuskan pada penyelamatan dan revitalisasi cagar budaya serta objek yang diduga sebagai cagar budaya. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatra Barat, Nurmatias, menyebut sejumlah lokasi yang masuk dalam rencana tersebut, antara lain Rumah Syekh Dr. H. Karim Amrullah, kawasan bakal menhir Ampang Gadang, Rumah Gadang Ukiran Cino, dan cungkup makam Syekh Muhammad Amrullah.
Objek lainnya adalah Kantor Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penanganan lokasi-lokasi tersebut direncanakan sebagai bagian dari upaya memulihkan dan melindungi peninggalan sejarah serta budaya yang terdampak bencana.
Sementara itu, di Sumatera Utara, terdapat 15 objek yang menjadi sasaran rencana bantuan rehabilitasi, penyelamatan, pemugaran, dan revitalisasi. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatra Utara, Sukronedi, menyampaikan bahwa objek tersebut antara lain Makam Kejuruan Stabat, Rumah Pesanggrahan Siak, Makam Datok Johan Pahlawan, Rumah Datok Besitang, dan Rumah Datok Cempa.
Pertemuan pembahasan pemulihan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda, serta Kepala Biro Barang Milik Negara, Pengadaan Barang dan Jasa, dan Umum, Abi Kusno.
Kesiapsiagaan bencana jadi bagian dari pelindungan budaya
Selain menyiapkan pemulihan objek yang terdampak, Kementerian Kebudayaan mendorong penguatan kesiapsiagaan bencana di fasilitas kebudayaan. Langkah yang direncanakan mencakup penyediaan alat pemadam api ringan (APAR), pelatihan bagi pengelola, serta prosedur tetap untuk menghadapi keadaan darurat di museum dan rumah adat.
Fadli Zon menegaskan bahwa kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tidak hanya berfokus pada pemulihan setelah bencana terjadi.
“Kita perlu menyiapkan standar kesiapsiagaan bencana di fasilitas kebudayaan, termasuk penyediaan APAR dan pelatihan bagi pengelola. Prosedur tetap penanganan bencana juga perlu disiapkan agar setiap museum dan rumah adat memiliki pedoman saat menghadapi keadaan darurat. Perlindungan warisan budaya dari risiko bencana harus menjadi perhatian serius,” ujarnya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Warisan budaya bukan cuma bangunan tua atau benda bersejarah, tetapi juga menyimpan tradisi, pengetahuan, dan identitas masyarakat yang perlu dijaga. Melalui rencana pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, upaya pelestarian diharapkan dapat berjalan seiring dengan penguatan kesiapsiagaan bencana, sehingga peninggalan budaya tetap terlindungi dan bisa terus dikenal oleh generasi berikutnya.









