Sekjen PBB Apresiasi Strategi AI Indonesia, Ingatkan Risiko Ketimpangan Digital
astakom.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen dan strategi nasional Indonesia dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Namun, di tengah gempuran teknologi yang super ngebut ini, ia mengingatkan agar jurang pemisah digital (digital divide) tidak semakin melebar dan memicu ketimpangan global yang merugikan negara berkembang.
Apresiasi PBB untuk Indonesia
"Saya menyambut baik penyusunan kerangka kerja kecerdasan buatan domestik dan strategi nasional oleh Indonesia" ungkap Guterres di hadapan para media pada acara Foreign Policy Circle Talks bertajuk “Eight Decades of the United Nations: What's Next?” di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin, (19/10/ 2026).
Dua sisi mata pisau AI
"AI dapat mempercepat pembangunan dan menciptakan lapangan kerja, namun AI juga dapat memperdalam ketimpangan. AI harus mencerminkan kepentingan seluruh umat manusia dan memberi manfaat bagi semua orang, serta risikonya harus dikelola secara kolektif." tegasnya.
Dalam pidatonya, Sekjen PBB menegaskan bahwa pengelolaan teknologi mutakhir harus dilakukan secara kolektif agar tidak menjadi bomerang bagi kemajuan bangsa.
"Dikombinasikan dengan populasi Indonesia yang besar dan melek teknologi, hal ini tidak hanya memastikan Indonesia memanfaatkan teknologi baru ini untuk menciptakan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi, tetapi upayanya juga sejalan dengan inisiatif global dalam menyusun kerangka kerja, prinsip, dan institusi yang mengatur penggunaan teknologi yang sangat kuat ini" paparnya.
Peran vital forum global
Untuk menghadapi tantangan global sekaligus merumuskan aturan main yang adil, Guterres menegaskan pentingnya peran forum internasional sebagai pusat kolaborasi lintas negara.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah satu-satunya tempat di mana semua negara dapat berkumpul mencari solusi. Kami telah membentuk Independent International Scientific Panel on AI, dan kami kini memobilisasi kemampuan internasional untuk mempromosikan kerangka manajemen risiko AI secara multilateral" jelasnya.
Kolaborasi lintas batas
Guterres juga menekankan bahwa kolaborasi lintas batas yang inklusif sangat dibutuhkan untuk meredam dominasi sepihak. Menutup pembahasannya mengenai pemanfaatan teknologi.
"Inilah bentuk nyata multilateralisme yang bekerja menghadapi berbagai kepentingan besar" ucapnya. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Walau PBB bangga Indonesia ngebut adopsi AI buat ekonomi dan lapangan kerja, kita tetap harus 'awas' biar nggak keteteran dan jomplang dibanding negara maju. Intinya, canggih boleh, tapi akses dan aturannya harus adil buat semua orang!









