Hadapi Kenaikan Harga Minyak Dunia, Mendag Busan Gaspol Jaga Surplus Perdagangan RI
astakom.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso atau yang akrab disapa Busan speak up soal strategi pemerintah menghadapi kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh lebih dari USD 100 per barel.
Dalam situasi ini, Mendag Busan bilang kalau pemerintah terus menggenjot perdagangan terutama di sektor minyak dan gas (migas) dan non migas. Busan juga menghighlight risiko yang akan dihadapi pemerintah terutama perdagangan dari naiknya harga minyak dan fluktuasi yang terjadi dalam waktu singkat.
Bagaimanapun Busan berharap kalau dalam situasi ini, Indonesia masih bisa surplus, meskipun sebelumnya Indonesia masih mencatatkan defisit pada sektor migas. Dari komoditas nonmigas justru menjadi penopang utama nera perdagangan RI.
“Memang kemarin sempat harga minyak naik lagi, seperti pada bulan April dan Mei kalau tidak salah. Ya, harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplus dari (komoditas) nonmigas,” kata Busan di Jakarta, pada Selasa (22/09/2026).
Tingkatkan surplus ekspor
“Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya. Sehingga surplus ini bisa terus kita tingkatkan,” kata Mendag Busan.
Sebelumnya, dikutip dari astakom.com, kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatatkan surplus sebesar USD120 juta, setelah sebelumnya mengalami defisit dua bulan berturut-turut, Mei dan Juni 2026.
Optimis tren positif
Mengetahui catatan baik ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso atau yang akrab disapa Busan menyampaikan optimismenya kalo tren positif ini bakal terus berlanjut. Lantaran Indonesia juga sebelumnya punya pernah mencapai surplus dalam 72 bulan berturut-turut.
"Jadi Januari-Juli kita ekspor kita kan naik 4,43 persen. Harapan kami ya sampai seterusnya surplus lagi," kata Busan saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 tembus USD167,03 miliar. Angka itu tumbuh 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau dalam rentang tahunan (Year-on-Year).
Kinerja ekspor
Kinerja ekspor tersebut terutama ditopang sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas pada periode tersebut mencapai USD160,01 miliar atau tumbuh 5,21% secara tahunan.
Namun, peningkatan ekspor belum sepenuhnya tercermin pada besarnya surplus perdagangan. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juli 2026 hanya surplus USD3,70 miliar.
Lebih detail lagi, surplus itu terbagi dari sektor nonmigas yang menyumbang surplus USD22,45 miliar. Selanjutnya, sektor migas yang masih mengalami defisit sebesar USD18,75 miliar. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Harga minyak dunia yang sempat tembus USD100 per barel bikin pemerintah waspada karena bisa memperlebar defisit sektor migas. Mendag Busan bilang kuncinya adalah terus ngegas ekspor, terutama nonmigas, supaya surplus perdagangan tetap kuat dan bisa menutup tekanan dari migas. Data Januari–Juli 2026 menunjukkan ekspor RI naik 4,43% jadi USD167,03 miliar, dengan nonmigas tumbuh 5,21%. Meski begitu, neraca perdagangan masih surplus tipis USD3,70 miliar karena defisit migas mencapai USD18,75 miliar.









