Musim Kemarau Terasa Menyengat? Begini Cara Menjaga Tubuh Tetap Sehat Saat Cuaca Panas

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 12 September 2026 | 23:09 WIB
Musim Kemarau Terasa Menyengat? Begini Cara Menjaga Tubuh Tetap Sehat Saat Cuaca Panas
Musim Kemarau Terasa Menyengat? Begini Cara Menjaga Tubuh Tetap Sehat Saat Cuaca Panas (Ilustrasi/Pexels)

astakom.com, Jakarta - Musim kemarau bukan cuma bikin siang terasa lebih terik. Udara yang panas dan kering juga dapat membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan sehingga risiko gangguan kesehatan ikut meningkat. Karena itu, menjaga kondisi tubuh selama periode panas perlu dilakukan sejak aktivitas harian dimulai, bukan baru ketika badan sudah terasa tidak nyaman.

Melansir dari keterangan tertulis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Sabtu, (12/09/2026) mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi tubuh ketika menghadapi cuaca panas. Salah satu langkah penting yang ditekankan adalah menjaga kecukupan cairan dan tidak menunggu rasa haus muncul untuk mulai minum. Langkah ini menjadi semakin penting ketika seseorang banyak beraktivitas di luar ruangan atau berada di lingkungan yang panas.

Panduan dari organisasi kesehatan internasional juga menunjukkan bahwa menghadapi cuaca panas tidak berhenti pada urusan minum air. WHO merekomendasikan sejumlah cara untuk membantu tubuh tetap sejuk, mulai dari memilih pakaian yang ringan dan longgar, mendinginkan tubuh dengan air, hingga mengurangi paparan panas berlebihan.

Jangan sampai dehidrasi

Ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh membutuhkan perhatian lebih terhadap asupan cairan. Rasa haus memang menjadi salah satu sinyal tubuh, tetapi menjaga hidrasi sebaiknya dilakukan secara berkala agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi.

Melansir dari laman WHO, menyarankan masyarakat minum air secara rutin selama cuaca panas. Organisasi tersebut juga mengingatkan agar konsumsi minuman berkafein, beralkohol, maupun minuman tinggi gula tidak berlebihan ketika berusaha menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Cara sederhananya adalah membawa botol minum ketika beraktivitas sehingga air lebih mudah dijangkau. Warna urine juga dapat menjadi salah satu petunjuk sederhana untuk memperhatikan kondisi hidrasi, meski penilaian kesehatan secara keseluruhan tetap perlu melihat kondisi tubuh dan situasi masing-masing. WHO mencatat urine berwarna kuning tua dapat menjadi tanda seseorang perlu memperhatikan asupan cairannya.

Kurangi paparan panas berlebihan

Selain cairan, tubuh juga perlu diberi kesempatan untuk menurunkan suhu. Aktivitas fisik yang terlalu berat ketika kondisi lingkungan sedang panas dapat membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal.

WHO menyarankan penggunaan pakaian yang ringan dan longgar agar tubuh lebih mudah melepaskan panas. Mandi atau membasahi kulit dengan air sejuk juga dapat membantu memberikan efek pendinginan.

Paparan matahari langsung juga sebaiknya tidak dilakukan terlalu lama. Ketika harus beraktivitas di luar, perlindungan seperti topi dan pakaian yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan langsung. WHO juga merekomendasikan penggunaan sunscreen dengan SPF 30 atau lebih untuk membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.

Kondisi di dalam rumah pun tidak kalah penting. WHO menyarankan mengurangi panas yang masuk ke ruangan pada siang hari, misalnya dengan menutup tirai atau penutup jendela, kemudian memanfaatkan udara malam ketika suhu mulai turun untuk membantu mendinginkan rumah.

Kenali tanda tubuh mulai drop

Tubuh sebenarnya dapat memberikan sinyal ketika mulai kesulitan menghadapi panas. NHS mencatat beberapa tanda heat exhaustion atau kelelahan akibat panas, seperti tubuh terasa sangat lelah, pusing, sakit kepala, mual atau muntah, keringat berlebihan, kram, suhu tubuh meningkat, serta rasa haus yang kuat.

Kalau tanda-tanda tersebut muncul, jangan dipaksa untuk tetap beraktivitas. Segera pindah ke tempat yang lebih sejuk dan lakukan upaya untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Kondisi yang memburuk perlu mendapat pertolongan medis karena heat exhaustion dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

CDC memasukkan heatstroke, heat exhaustion, kram panas, heat rash, pingsan akibat panas, hingga rhabdomyolysissebagai sejumlah gangguan yang berkaitan dengan paparan panas. Risiko tersebut dapat menjadi perhatian khusus bagi orang yang lebih rentan terhadap panas, termasuk lansia, anak-anak, serta orang dengan penyakit tertentu.

Karena itu, perhatian tidak hanya ditujukan kepada diri sendiri. WHO juga menyarankan untuk mengecek kondisi orang-orang yang lebih rentan, terutama mereka yang tinggal sendirian atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Musim kemarau memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya terhadap tubuh dapat diminimalkan dengan kebiasaan sederhana. Mulai dari rutin minum, mengurangi paparan panas, memilih pakaian yang nyaman, menjaga ruangan tetap sejuk, sampai mengenali gejala gangguan akibat panas bisa menjadi langkah praktis untuk tetap fit ketika cuaca sedang terik. (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

Cuaca panas jangan cuma dilawan dengan kipas dan es teh. Tubuh juga perlu cukup cairan, perlindungan dari matahari, waktu istirahat, serta perhatian ketika mulai muncul tanda seperti pusing, mual, atau lemas.

Berita Spill Tips Kesehatan Tips menjaga kesehatan Kesehatan Kesehatan Tubuh Kemenkes

Infografis

Terkini