PIS Pantau Pergerakan Hiu Paus dari Satelit untuk Kurangi Risiko Tabrakan Kapal
astakom.com, Jakarta – Teknologi satellite tag dimanfaatkan PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama Konservasi Indonesia untuk memantau pergerakan hiu paus di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Data dari penanda satelit tersebut digunakan untuk memahami pola pergerakan satwa sekaligus mendukung upaya mengurangi risiko pertemuan dengan kapal.
Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari program Whaleshark Tagging. Melalui program tersebut, satellite tag dipasang pada hiu paus sehingga pergerakan satwa dapat dipantau dan informasi mengenai wilayah jelajahnya dapat dikumpulkan.
Bagi PIS, informasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjalankan aktivitas pelayaran dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati laut. PIS sebelumnya juga telah mendokumentasikan penggunaan satellite tag untuk mempelajari pola migrasi hiu paus dan mendukung pengelolaan spesies tersebut.
Data satelit bantu baca jalur hiu paus
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata mengatakan data dari satellite tag dapat digunakan untuk mengetahui pergerakan hiu paus sehingga langkah mitigasi terhadap risiko interaksi dengan kapal dapat disiapkan.
“Pemasangan satellite tag dapat memberikan kita informasi pergerakan hiu paus sehingga mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko tabrakan dengan kapal menjadi tidak teridentifikasi dan membahayakan bagi hiu paus,” jelas Iqbal mengutip dari media nasional pada Kamis, (10/09/2026).
Informasi pergerakan tersebut tidak hanya berguna untuk kepentingan pemantauan satwa. Data yang terkumpul dapat menjadi bahan untuk mengenali wilayah yang berpotensi menjadi lokasi pertemuan antara hiu paus dan aktivitas pelayaran.
Konservasi Indonesia juga mendokumentasikan penggunaan satellite tag untuk memperoleh informasi mengenai pergerakan hiu paus, termasuk lokasi dan kondisi lingkungan yang dilalui satwa. Data tersebut membantu peneliti memahami pola pergerakan serta habitat hiu paus.
Pelaut ikut membaca informasi habitat
Upaya perlindungan hiu paus juga melibatkan peningkatan pemahaman pelaut mengenai habitat dan jalur pergerakan satwa. Pengetahuan tersebut dibutuhkan ketika kapal beroperasi di kawasan yang berpotensi menjadi habitat hiu paus.
Dengan informasi mengenai keberadaan dan pergerakan satwa, pelaut dapat meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi wilayah yang memiliki potensi interaksi dengan hiu paus.
PIS sebelumnya mencatat bahwa data tagging dapat diarahkan untuk terintegrasi dengan sistem kapal. Informasi mengenai keberadaan hiu paus di sekitar wilayah operasi kemudian dapat menjadi salah satu informasi yang diperhatikan dalam aktivitas pelayaran.
Pelaut kapal PIS Capt. Marsel Williem juga menilai informasi mengenai keberadaan hiu paus penting bagi pelaut agar lebih berhati-hati ketika melewati kawasan yang berpotensi menjadi lokasi interaksi dengan satwa.
Kolaborasi antara perusahaan, peneliti, dan pelaut menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus mendukung keberlangsungan ekosistem laut.
Hiu paus masih terancam
Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan salah satu spesies laut yang menjadi perhatian dalam upaya konservasi. PIS menyebut hiu paus berstatus Endangered atau terancam punah dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Risiko terhadap hiu paus juga dapat muncul ketika satwa tersebut berada di wilayah yang dilalui kapal. Kondisi ini membuat informasi mengenai pola pergerakan dan habitat penting untuk mendukung langkah perlindungan.
Kajian Konservasi Indonesia mengenai hiu paus juga menggunakan data penelusuran satelit untuk mempelajari pergerakan satwa tersebut di perairan Indonesia. Informasi semacam ini dapat membantu memberikan gambaran mengenai wilayah jelajah dan pola pergerakan hiu paus.
Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan upaya tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
“PIS mengoptimalkan pelayaran berkelanjutan dan menjaga keanekaragaman hayati, terutama ekosistem laut, sehingga bisnis dan lingkungan dapat berjalan secara harmonis dan lestari untuk masa depan,” ucap Vega.
Program pemantauan ini menunjukkan bahwa informasi mengenai pergerakan satwa dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas pelayaran dan perlindungan ekosistem laut. Bagi pelaut, informasi tersebut juga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan saat beroperasi di kawasan yang menjadi habitat hiu paus. (deA/RaM)
Gen Z takeaway
Teknologi satelit ternyata bukan cuma soal navigasi atau komunikasi. Pada kasus hiu paus, data dari satellite tag bisa membantu manusia memahami ke mana satwa bergerak sekaligus memberi informasi yang berguna bagi kapal untuk mengurangi risiko pertemuan di laut.









