Jaga Kesehatan Santri, Kemenag Kaltara Terapkan Belajar dari Rumah
astakom.com, Jakarta – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bikin polusi udara makin parah memaksa Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Utara mengambil langkah tegas.
Demi menjaga kesehatan para siswa dan pengajar, seluruh kegiatan di Raudhatul Athfal (RA), madrasah, hingga pesantren yang terdampak kabut asap resmi dialihkan ke sistem Belajar dari Rumah. Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif proteksi maksimal bagi seluruh warga sekolah dari risiko bahaya kesehatan.
Aturan Resmi BDR
Penyesuaian mode pembelajaran ini merujuk langsung pada regulasi resmi Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3 Tahun 2026 mengenai Penyesuaian Pelaksanaan Pembelajaran pada RA, Madrasah, Pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menjelaskan kalau pemberlakuan sistem BDR ini dieksekusi secara fleksibel sesuai dengan tingkat keparahan kabut asap di masing-masing daerah.
Kesehatan Jadi Prioritas
“Dalam kondisi seperti ini, yang paling utama adalah keselamatan jiwa. Anak-anak kita, para guru, tenaga kependidikan, pengasuh pesantren, dan seluruh warga satuan pendidikan harus terlindungi dari dampak kabut asap akibat karhutla,” tutur Muh. Saleh di Tanjung Selor, dikutip oleh astakom pada Selasa (1/09/2026).
Ia menegaskan kalau hak pendidikan memang wajib terpenuhi, tetapi isu kesehatan dan keselamatan sama sekali tidak boleh ditawar. BDR menjadi pilihan paling masuk akal saat kualitas udara di luar ruangan belum aman untuk opsi pembelajaran tatap muka.
“Belajar tetap berjalan, tetapi keselamatan tidak boleh dikompromikan. Kita tidak ingin anak-anak harus datang ke sekolah ketika kondisi udara belum memungkinkan,” jelasnya.
Koordinasi Tanpa Beban
Agar ekosistem BDR berjalan efektif tanpa kendala, Muh. Saleh meminta jajaran Kantor Kemenag tingkat kabupaten/kota, pengelola lembaga pendidikan, para guru, hingga orang tua murid untuk saling berkoordinasi erat.
Ia juga memberi imbauan khusus agar pihak sekolah tidak overworking memberikan beban tugas yang berlebihan kepada siswa selama masa BDR. Materi serta metode belajar diharapkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik, namun tetap menjaga agar target capaian pembelajaran.
“Ini bukan berarti pendidikan berhenti. Ini merupakan cara kita melindungi anak-anak sekaligus memastikan mereka tetap mendapatkan hak belajar,” ucapnya.
Pantau Udara & Peran Orang Tua
Kanwil Kemenag Kaltara menginstruksikan setiap lembaga pendidikan untuk terus memantau update kualitas udara secara berkala serta mematuhi arahan dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Jika kondisi udara sudah kembali membaik dan aman, mekanisme pembelajaran akan disesuaikan kembali.
Di sisi lain, Muh. Saleh menaruh harapan besar agar para orang tua turut berperan aktif mengawasi anak-anak mereka supaya mengurangi mobilitas outdoor selama kabut asap masih tebal.
“Untuk sementara, mari kita utamakan keselamatan. Pendidikan tetap kita jalankan, tetapi kesehatan dan keselamatan warga madrasah serta satuan pendidikan keagamaan di Kalimantan Utara menjadi prioritas,” tutupnya.
Sinergi dan support system yang solid antara pihak sekolah, guru, orang tua, dan para siswa diharapkan dapat menjaga proses belajar mengajar tetap berlangsung lancar sekaligus menjamin perlindungan kesehatan bagi seluruh warga sekolah di tengah ancaman kabut asap. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Gokil sih, isu karhutla ini bukti nyata kalau krisis iklim makin real dan langsung berdampak ke aktivitas harian kita. Salut buat langkah cepat Kemenag Kaltara yang ngasih ruang remote learning tanpa bikin siswa burnout sama tugas berlebihan. Ingat guys, health is wealth—sekolah atau target akademis emang penting, tapi keselamatan dan kesehatan fisik tetep prioritas utama yang enggak bisa ditawar!









