AI Makin Sengit! Wamenkomdigi Dorong Indonesia Rebut Posisi di Rantai Pasok Teknologi Global

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 24 Juli 2026 | 17:39 WIB
AI Makin Sengit! Wamenkomdigi Dorong Indonesia Rebut Posisi di Rantai Pasok Teknologi Global
AI Makin Sengit, Nezar Dorong Indonesia Rebut Posisi di Rantai Pasok Teknologi Global (Komdigi)

astakom.com, Techno – Pemerintah mulai menyiapkan fondasi kemandirian kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) melalui pembangunan ekosistem AI nasional yang mencakup pengembangan model AI lokal, penguatan talenta digital, hingga penyediaan infrastruktur komputasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran strategis dalam rantai pasok AI global.

Menurut Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, persaingan AI kini tidak lagi hanya berkutat pada pengembangan aplikasi. Penguasaan infrastruktur seperti semikonduktor, Graphics Processing Unit (GPU), pusat data (data center), hingga mineral kritis menjadi faktor yang akan menentukan daya saing suatu negara dalam ekonomi digital dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Nezar dalam sejumlah kesempatan pada Rabu silam (22/07/2026), mulai dari pertemuan bersama Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno hingga saat menjadi pembicara dalam Alumni Night Grab Velocity Ventures (GVV) di Jakarta Pusat.

Bangun dan memperkuat AI 

Dalam pertemuan bersama Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Nezar mengatakan semakin banyak negara dengan kekuatan menengah (middle power) mulai membangun Sovereign AI agar tidak bergantung pada negara-negara besar dalam penguasaan teknologi AI.

"Negara-negara yang di tengah, di middle power ini, mencoba mempromosikan sovereign AI karena pada akhirnya penguasaan teknologi AI ini akan jadi choke point buat negara-negara yang besar ini untuk menjaga dominasi mereka," ujar Nezar Patria dalam pertemuan bersama Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, sebagaimana dikutip dalam laman resmi Komdigi.

Menurut Nezar, pembangunan AI berdaulat harus dilakukan secara menyeluruh (full stack), mulai dari infrastruktur dasar seperti listrik dan air, penyediaan GPU, chip, platform, hingga aplikasi. Dengan ekosistem tersebut, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan teknologi AI secara mandiri.

Ia juga menilai Indonesia memiliki talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global apabila memperoleh akses terhadap infrastruktur AI serta kesempatan untuk mengembangkan inovasi.

"Kalau soal digital talent tidak masalah sepanjang anak-anak muda dan talent-talent kita dapat kesempatan. Mereka bisa mengakses infrastruktur AI, terus ada ilmunya, dan kreativitas serta inovasi-inovasi. Saya yakin di bidang compute cluster itu kita bisa bersaing," lanjutnya.

Selain talenta, Indonesia juga memiliki potensi besar melalui cadangan mineral kritis yang dibutuhkan dalam industri AI dan semikonduktor. Potensi tersebut dinilai perlu dikelola agar menjadi kekuatan strategis Indonesia dalam rantai pasok teknologi global.

"Kita punya sumber daya alam yang sekarang sedang diperebutkan untuk infrastruktur AI, yaitu critical minerals, sehingga harus ada langkah-langkah bagaimana dia bisa kita secure agar menjadi salah satu bargaining power kita di dalam global supply chain," sambungnya.

Jangan terlambat masuk rantai pasok AI

Dalam kesempatan berbeda saat menjadi pembicara pada Alumni Night Grab Velocity Ventures (GVV) di Jakarta Pusat pada hari yang sama, Nezar kembali menegaskan pentingnya mempercepat langkah Indonesia agar tidak tertinggal dalam industri AI global.

"Yang paling penting lagi adalah, jangan terlambat untuk masuk ke dalam rantai pasok global, termasuk AI," ujar Nezar saat menjadi pembicara dalam Alumni Night Grab Velocity Ventures (GVV) di Jakarta Pusat, melansir dari media nasional pada Jumat (24/07/2026).

Menurut Nezar, perkembangan AI telah mengubah arah kompetisi global. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada pengembangan aplikasi, kini persaingan bergeser ke penguasaan semikonduktor, pusat data, GPU, dan mineral kritis yang menjadi fondasi industri AI.

Perubahan tersebut, kata Nezar, juga menggeser paradigma pengembangan perusahaan rintisan. Startup kini tidak lagi hanya berorientasi pada valuasi dan pertumbuhan agresif, melainkan mulai membangun bisnis yang lebih berkelanjutan dengan AI sebagai pendorong inovasi.

"AI kali ini menjadi driving process untuk bertumbuhnya startup-startup," lanjutnya.

Nezar menambahkan Indonesia memiliki modal awal untuk ikut bersaing di sektor AI, antara lain tingginya tingkat adopsi AI, berkembangnya startup berbasis AI, serta munculnya inisiatif pengembangan Large Language Model (LLM) nasional. Namun, menurutnya, kapasitas Indonesia sebagai pengembang teknologi masih perlu diperkuat.

"Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI," sambungnya.

Infrastruktur dan hilirisasi jadi penguat daya saing

Nezar menilai penguasaan AI juga membutuhkan dukungan infrastruktur digital yang kuat, termasuk pusat data, GPU, dan industri semikonduktor. Di sisi lain, hilirisasi mineral kritis seperti nikel dan pasir silika dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi industri teknologi nasional.

"Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global di industri semikonduktor," lanjutnya.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan Peta Jalan AI Nasional yang akan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Presiden. Regulasi tersebut disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) agar mampu menjaga ruang inovasi sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab.

Menutup paparannya, Nezar menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi teknologi yang membantu manusia meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

"Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion buat kita. Bukan kita kemudian menyerahkan semuanya kepada artificial intelligence," pungkas Nezar dalam forum Alumni Night Grab Velocity Ventures (GVV)di Jakarta Pusat, dikutip dari media nasional. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Persaingan AI kini bukan hanya tentang siapa yang punya teknologi paling canggih, tetapi juga siapa yang menguasai fondasi industrinya. Lewat penguatan Sovereign AI, pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta, dan hilirisasi mineral kritis, Indonesia tengah berupaya memperbesar peluang untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok AI global, bukan sekadar menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain.

komdigi Kementerian Komunikasi dan Digital AI Artificial Intelligence

Infografis

Terkini