Menlu Sugiono Spill: Indonesia Nyatakan Siap Jadi Tuan Rumah Dialog Damai Myanmar!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:01 WIB
Menlu Sugiono Spill: Indonesia Nyatakan Siap Jadi Tuan Rumah Dialog Damai Myanmar!
Menlu Sugiono Spill: Indonesia Nyatakan Siap Jadi Tuan Rumah Dialog Damai Myanmar! [astakom/Paulina]

astakom.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara terbuka menyatakan kesiapan Indonesia untuk bertindak sebagai tuan rumah (host) dalam memfasilitasi dialog damai yang inklusif bagi penyelesaian krisis Myanmar.

Langkah krusial ini diambil sebagai respons nyata Indonesia dalam mengurai kompleksitas konflik di Myanmar, sekaligus menegaskan posisi strategis diplomasi Indonesia yang dinilai jauh lebih netral dan dapat diterima dengan baik oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di kawasan Asia Tenggara.

Diplomasi RI

Langkah diplomasi ini ditegaskan dalam Pertemuan Ke-6 Komisi Bersama Indonesia-Vietnam untuk Kerja Sama Bilateral (JCBC) pada Selasa (14/07/2026).

"Tentu saja kita juga menyampaikan, kita siap kalau misalnya Indonesia mau dijadikan tempat dan saya kira Indonesia posisinya ada dalam, kita lebih bisa diterima sebenarnya posisinya" tutur Menlu Sugiono yang ditemui oleh wartawan astakom usai menggelar Pertemuan Ke-6 Komisi Bersama Indonesia-Vietnam JCBC di Gedung Pancasila, Kemlu RI Selasa (14/07/2026).

"Saya sudah menyampaikan kemarin, kita siap jadi host kalau misalnya dibutuhkan" lanjutnya.

Menlu Sugiono menjelaskan kalau dalam pertemuan informal tersebut, fokus utama para menteri luar negeri adalah mengevaluasi implementasi Five Point Consensus (5PC) yang telah lama menjadi komitmen bersama ASEAN.

"Yang kemarin dibicarakan adalah perkembangan situasi yang terjadi di Myanmar terkait dengan pelaksanaan ataupun implementasi dari five point consensus framework yang disepakati waktu itu oleh ASEAN" ucap Sugiono

"Kemudian masing-masing saya kira member state memberikannya juga, memberikan perhatian kita intinya kita ingin agar implementasi dari five point consensus itu bisa terlaksana kemudian ada inklusivitas dalam dialog-dialog yang saat ini sudah mulai dilakukan oleh mereka dengan berbagai, dengan semua pemangku kepentingan tapi satu hal kita juga memahami bahwa proses yang terjadi bukanlah suatu proses yang bisa dilakukan atau aslinya bisa dicapai dalam waktu instan" papar Sugiono.

Proses panjang

Indonesia menekankan kalau membangun kembali sebuah negara (nation building) di tengah fragmentasi sosial dan politik yang mendalam bukanlah perkara yang bisa selesai dalam semalam. Dinamika ini dinilai sangat kompleks dan menuntut kesabaran tingkat tinggi dari seluruh negara anggota.

"Membangun atau nation building itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat terutama dengan latar belakang berbagai perbedaan bangsa kita mengalami hal itu, kita mulai dari komitmen bersama sebagai satu bangsa" ungkapnya.

Ia bahkan merefleksikan proses panjang ini dengan sejarah bangsa Indonesia sendiri. Menlu Sugiono mengingatkan kalau Indonesia membutuhkan waktu belasan tahun sejak Sumpah Pemuda pada 1928 untuk mencapai kemerdekaan pada 1945, dan proses memperkuat fondasi kebangsaan itu masih terus berjalan hingga hari ini.

"Pengakuan terhadap kesatuan tanah air, bangsa dan bahasa kita itu sejak tahun 1928 dan proses itu lama sampai akhirnya kita kemerdekaan dan kemudian sejarah bangsa kita sejak kemerdekaan sampai sekarang kita terus melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam rangka memperkuat landasan tersebut" jelasnya.

Bedah ulang 5PC

Lebih lanjut, Menlu Sugiono mendorong adanya penurunan instrumen hukum yang jauh lebih detail dan taktis dari kerangka kerja 5PC.

"Sekaligus juga memahami bahwa situasinya kompleks dan perlu waktu sehingga semua butir dari five point consensus itu bisa dilaksanakan dengan baik."sambungnya.

Hal ini diperlukan agar ASEAN memiliki indikator capaian yang objektif dan terukur. Sebagai contoh, poin mengenai penghentian kekerasan (cessation of hostilities) tidak bisa dinilai secara hitam-putih karena kondisi geografis dan konflik di tiap wilayah Myanmar sangat bervariasi.

"Kita semuanya masih dalam kesempakatan bahwa itu adalah framework tapi juga kemarin disampaikan bahwa harus ada yang lebih detail turunannya sehingga kita bisa menilai bahwa sudah ada progres seperti misalnya cessation of hostilities itu perlu lagi diterjemahkan karena situasi tempatnya juga beragam" tuturnya.

Tantangan ASEAN

Sugiono mempertanyakan apakah ASEAN harus menunggu seluruh wilayah Myanmar bersih dari konflik baru bisa menyatakan adanya progres.

"Apakah kemudian kita harus nunggu sampe semuanya the cessation of hostilities baru kemudian, point pertama tercapai, ini kan prosesnya lama, waktunya lama, apakah selama itu kita akan membiarkan Myanmar tidak terrepresentasikan di forum-forum ASEAN?" ujarnya.

Logika diplomasi yang kaku seperti itu dinilai justru merugikan masyarakat Myanmar karena membuat representasi mereka di forum-forum resmi ASEAN terus dibekukan dalam waktu yang sangat lama. Oleh sebab itu, Indonesia memilih pendekatan yang realistis dan terus mengakui setiap upaya sekecil apa pun yang dilakukan Myanmar dalam berproses. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Intinya, Indonesia lagi lowkey flexing kredibilitas diplomasinya yang netral banget dengan bersedia jadi host dialog damai buat Myanmar. Menlu Sugiono ngingetin kalau beresin konflik negara itu gak bisa instan kayak mi rebus dan butuh proses panjang—mirip sejarah RI yang struggle dari era 1928 sampai merdeka. Jadi, daripada ASEAN terus-terusan ghosting Myanmar dari forum resmi, mending dibuat aturan main yang lebih detail dan realistis biar progresnya makin kelihatan nyata!

Indonesia Vietnam Menlu Sugiono Menlu Sugiono Myanmar Asean update

Infografis

Terkini